|
Rules
Guide Index
How to Play
Information
Updates
Face Claims
Point Report
Shop
Opreg | 6/8, 10 AM - 8/8 √ Informasi lebih lengkap mengenai opreg dapat dilihat di sini. √ Baru bermain di SAD? Silakan baca panduan mendaftar di sini. √ Merasa postmu sudah cukup banyak? Klaim bonus 500 point kamu di sini! Tentu saja, baca ketentuannya lebih dulu, ya. √ Segala jenis pendaftaran di forum SAD dinyatakan sah jika telah diapprove oleh AKUN STAFF. Di luar itu, tidak sah. |
Quick News
Welcome to Another Dimension
SAD (Shinobi Another Dimension) merupakan forum roleplay 2D berbasis teks deskriptif bertemakan Naruto di dunia militer Jepang modern. Bergabunglah dengan kami dan rasakan kehidupan seorang Shinobi di balik bayangan!
Best RPer March 2016
![]() |
Summer/Fall 2017
Quota
KARAKTER SPESIAL
KLAN Census
|
| Selamat datang di Forum S A D kami berharap anda menikmati kunjungan ke forum kami. Sekarang anda sedang melihat forum sebagai pengunjung. Itu artinya anda memiliki keterbatasan menikmati fitur - fitur yang ada diforum ini secara lengkap. jika anda mendaftar ke forum kami, anda akan langsung terdaftar sebagai member kami dan dapat mengikuti RP bersama kami. Ayo bergabung! Jika anda sudah terdaftar sebgai member kami, silakan melakukan log in terlebih dahulu untuk mengakses profil anda. |
| [FFic] Elegiac Blues | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Sunday, 2. February 2014, 21:28 (271 Views) | |
| Arata | Sunday, 2. February 2014, 21:28 Post #1 |
![]()
|
Genre: School Life. Romance. Rating: PG15 Cast:
Author's Note: Kuperingatkan dari awal; Aku gak bisa bikin fanfic. *krai* Mohon mahap bila ada typo(s) dan OOC baik sengaja maupun tidak di sengaja. Bikinnya ngebut, seriusan. ❝Elegiac Blues❞ Begitu, setiap hari. Rutinitas. Layaknya film yang diputar berulang-ulang. Seperti hari ini. Kakinya melangkah mantap tanpa ragu menuju sebuah ruangan di pojok sekolah. Tempatnya terpencil. Tidak terjamah beberapa orang. Ya; Perpustakaan. Dengan alibi sebagai pengurus, Hyuuga Arata mendapatkan akses mudah untuk bisa keluar-masuk perpustakaan sesukanya. Pintu kayu usang digeser perlahan. Cahayanya redup, remang-remang. Pandangannya melebar, menatap tiap sisi ruangan yang tidak memiliki tanda-tanda kehidupan hingga kehadirannya saat ini. Napasnya dihela perlahan. “Arata-saaaan!” Iris coklatnya melirik datar sang sumber suara yang berlari dari ujung koridor. Si mungil dengan surai merah muda. Kirishima Ame. Larinya pun melambat saat jaraknya dengan Arata sekitar satu depa. “Ada apa?” haturnya pelan. Gadis itu berusaha mengukir senyum disela-sela napasnya yang terengah. “Err, sepertinya aku meninggalkan sesuatu di dalam perpustakaan. Kebetulan sekali ada Arata-san.” Ujarnya riang. Sekali lagi napasnya dihela. “Begitu? Barang apa yang tertinggal?” “Syal!” “…ah, mhm.” Benar juga, bulan Desember, sudah musimnya. Memang khas perempuan membuat syal di musim dingin. Arata memasuki perpustakaan terlebih dahulu, sebelum sesosok bayangan menyembul dari balik rak buku. Irisnya memicing, hingga sepersekian detik kemudian maniknya membulat. Sesosok laki-laki bersurai coklat tengah menggenggam syal rajut berwarna salem. Mendekapnya erat di depan dada. Menatapnya nanar, sendu. Kemudian mengecupnya. Dalam sekejap ekspresinya melembut. “…ng,” Gumaman sang Hyuuga belia memecah kesunyian. Pemuda bersurai coklat tersebut tersentak kaget. Wajahnya memucat. Tangannya membeku di udara, tidak mampu bergeming. “Kirishima-san, syalmu… Yang itu?” Jemari kanan Arata menunjuk seutas syal yang kini terkulai menyedihkan di atas meja setelah dihempas kasar oleh pemuda yang masih mematung tersebut. Ame menyembulkan kepalanya dari balik punggung Arata, dan hal itu sukses membuat ekspresi pemuda bersurai coklat disana semakin konyol. “Waah, benar!—eh, Masaaki-senpai?” “…apa yang kau lakukan disini, bodoh?” Seketika alis Ame dipaksa mengernyit. Tak lama kemudian tawanya pecah, walau hambar. “Barangku tertinggal.” Jawabnya pelan sembari menggaruk tengkuk. Gadis itu membuka pintu perpustakaan lebih lebar, berjalan pelan menuju si surai coklat. “Ini maksudmu?” Masaaki mengangkat syalnya tinggi-tinggi. Memeriksanya. Sebelum akhirnya seringainya tampak. “Kupikir serbet.” “J-jahat sekali!” “Kau sendiri bodoh, berani-beraninya menyebut benda ini syal rajut.” Masaaki mengetuk dahi Ame pelan, sedangkan gadis itu hanya bisa meringis seraya terkekeh lembut. Arata masih mematung di depan pintu perpustakaan. Tidak sekalipun melangkah memasuki teritori ruangan. Hanya menatap datar dua entitas yang tengah bersenda gurau satu sama lain. Tak lama Ame undur diri, setelah melempar senyum pada Arata. Gadis itu kembali menyusuri lorong dengan lari kecil. Maniknya melirik Masaaki, dan benar saja—he’s staring at her. "Kubunuh kalau sampai kau bilang.” “…ha, hahaha.” Itu ancaman? * * * * * Arata hidup di dalam lingkaran yang sama setiap hari. Maka kehadiran orang lain benar-benar membuatnya terusik. Obsidiannya menatap sinis entitas yang lebih dulu mengisi perpustakaan pulang sekolah sebelum dirinya. Kirishima Ame dan Uchiha Masaaki. Ame terlihat sibuk dengan rajutannya, dan Arata berani bertaruh Masaaki hadir disini untuk mengawasinya. “Selamat siang, Arata-san.” Sapa Ame dengan senyum sumringah seperti biasa. Arata menggulirkan bulirnya dan tak berapa lama gadis itu balas mengangguk. Saat maniknya beralih pada Masaaki, sekali lagi lelaki itu menatapnya lekat. Tajam. Seolah berkata, ‘Awas-kalau-bilang.’ “Hahaha.” “Kenapa tertawa?” tukas Masaaki tajam. Arata melirik tanpa benar-benar menoleh. “Hanya merasa geli.” Karena Uchiha Masaaki benar-benar pemuda menyedihkan yang patut ditertawakan. Pemuda itu merengut. “Gadis aneh.” Selorohnya dengan bibir maju. “Katakan itu pada dirimu sendiri.” “…tch.” Dan Ame hanya bisa menatap dua entitas yang saling berujar sarkas tanpa mengerti permasalahannya, tapi tak juga menanyakannya. Hanya mengukir senyum polos seperti biasa. Yang Arata tahu, Ame dan Masaaki adalah teman masa kecil. Masaaki sendiri merupakan teman sekelas Arata yang—katakanlah, beda dunia. Pada dasarnya Masaaki cukup disegani di kelas karena pribadinya yang sinis dan cenderung terus terang. Tapi ada saja orang di sekelilingnya. Sedangkan Arata hanya gadis kaku yang dunianya berputar pada buku. Hyuuga belia tersebut menarik bangku dan tak lama fokusnya sepenuhnya berada di bacaannya. Seolah entitas lain di ruangan ini tak lebih dari figuran. Pelengkap penderita. "Buku apa yang kau baca?" Masaaki mendekat perlahan, menatap lembaran kertas usang yang ditekuni Arata. Dan hening didapat, gadis itu bahkan tidak mengangkat wajahnya dari buku. "Kutanya, buku apa yang kau baca?" ulang Masaaki, mulai naik darah. Nihil, tidak ada geming sedikit pun. "Oi, kubilang, buku apa yang kau—" "Bukan urusanmu." "...apa!? Kemari kau berengsek!" "Aaah, sepertinya beberapa waktu lalu ada yang mencium—" Masaaki segera mendekap mulut Arata erat. Membungkam gadis itu. Arata terbalak, terutama saat melihat guratan merah meremang dari hidung hingga telinga Masaaki. "K-kubunuh kau..." "...hahaha." "Berhenti tertawa!" "Kalian akrab sekali..." Sebuah suara manis memecah pertikaian mereka. Dua iris coklat menoleh cepat pada manik biru cerah milik Ame. Senyum gadis itu melebar, seperti menikmati lakon konyol yang diperankan Arata dan Masaaki. Keduanya hening, hingga salah satu dari mereka mendapatkan kesadaran terlebih dahulu. Masaaki meraih pucuk surai merah muda Ame—dan mendaratkan pukulan. Gadis itu memekik kecil kemudian menatap bingung lelaki yang lebih tua satu tahun darinya tersebut. Sedangkan Masaaki tidak berniat menjelaskan lebih lanjut soal alasannya menjitak Ame. Yang pasti Arata mengetahui alasannya. "...hahaha..." "Persetan dengan tawamu, mati sana." * * * * * Deru langkah kembali memenuhi koridor kelas. Bulir kelam milik Hyuuga Arata menatap ke luar jendela kelas. Seperti yang ia duga—dari balik tumpukan buku yang menggunung terdapat sosok gadis manis dengan surai merah muda. Terus berjalan lurus sementara gunungan buku tersebut menutupi pandangannya. "Ah, Ame?" Suara berat membuyarkan konsentrasi sang Kirishima belia. Gadis itu menoleh mencari sumber suara, hingga senyumnya melebar. "Selamat siang, Masaaki-senpai!" pekiknya riang. Sang surai coklat mengangkat sebelah alis menatap pergerakan Ame yang limbung. Dan benar saja, tak berapa lama pemilik surai merah muda itu rubuh bersamaan dengan gunungan buku yang menumpuk melebihi tinggi badannya. "Aaah, ceroboh sekali kau ini! Sini, biar aku yang bawa." Masaaki merunduk, meraih beberapa buku yang berserakan di lantai. Ame terkekeh pelan. "Terima kasih, senpai." haturnya lembut. Pemuda Uchiha tersebut mencibir sinis, bersamaan dengan rona merah yang meremang samar di wajahnya. Arata mengernyitkan alis menatap bagaimana Uchiha Masaaki menampilkan ekspresi yang luar biasa konyol. "Tidak masalah." tukas pemilik surai coklat yang kini mengulas senyum tipis. Perlahan pandangannya kembali melembut acap kali obsidiannya bergulir ke arah Kirishima Ame. Mempertontonkan dengan jelas bagaimana ia menyayangi gadis itu. Arata menghela napas berat untuk alasan yang tidak ia mengerti. "Bisa juga ia membuat ekspresi seperti itu," "Memalukan." * * * * * Bel pulang sekolah berdentang, dan untuk alasan yang sama Arata melangkahkan kakinya ke arah perpustakaan. Pintu perpustakaan digeser perlahan, namun kini ia tidak mendapati siapapun berada di dalam ruangan ini. Maniknya menyusuri hingga ke ujung ruangan, walau tidak mengerti gerangan apa yang dicarinya. Sudah bertahun-tahun Arata menjalani hari-hari seperti ini—seperti sedia kala. Bodoh rasanya merasa kehilangan. Toh keberadaan entitas lain di ruangan ini tak lebih dari hama pengganggu. Hingga telinganya menangkap suara pintu digeser perlahan. Dari ekor matanya, Arata menatap datar penghuni baru ruangan tersebut. "Ame belum ada?" Gadis Hyuuga itu menggeleng. "Oh, mhm." gumam sang surai coklat. Pemuda itu menarik bangku di depan Arata dan duduk sembari meletakan majalah bawaannya perlahan. Sepertinya tidak satupun dari ribuan buku yang memenuhi rak mampu menarik perhatiannya. Manik gelap Arata terus menyusuri rentetan huruf tanpa menggubris kehadiran Uchiha Masaaki. Seharusnya sejak awal ia telah menyadari arti keberadaan Masaaki. Ia berada disini bukan untuk mengawasi Arata—tetapi mengawasi Ame. Hal itu terlalu jelas, tapi tak juga ia sadari. "Kau suka sekali buku, ya?" Kali ini dagunya terangkat, menatap bulir kecoklatan milik Masaaki. "Yah, banyak yang bilang aku ini datar," terangnya sembari menutup buku dan membatasnya dengan jari telunjuk, memberi semua atensinya pada pemuda Uchiha tersebut. "Hanya saat membaca buku, orang datar sepertiku pun mampu terombang-ambing emosi. Merasakan bagaimana rasanya sedih, senang, marah..." lanjut Arata sembari mengedikkan bahu. Masaaki mengangguk pelan, dan tak lama seringainya nampak. "Kau manis juga," Entah ia benar-benar memaksudkan kalimatnya atau tidak. Dan karena alasan inilah Arata merasa Masaaki benar-benar menyebalkan. "Ah, itu Kirishima-san." Disaat yang sama, Masaaki menoleh cepat. "Mana?" "Pfft—kau manis juga." "K-ku-kubunuh kau!" * * * * * "Jadi kenapa aku harus membantumu membereskan buku-buku berdebu ini, hah?" Masaaki memekik galak, namun tidak melakukan perlawanan apapun selain menuruti perintah Arata. Gadis itu memegang titik kelemahannya—dan Arata bukan gadis baik hati. Tanduknya meruncing saat mendapatkan korban yang mampu ia manfaatkan. Tawanya menggelegar dalam hati saat entitas penuh percaya diri tersebut bisa ia perlakukan semena-mena. Dengan siulan kecil, Arata menaiki tangga kecil dan merapikan buku-buku di bagian atas. Namun sesuatu mengusiknya. Sebuah suara yang begitu familiar tengah bercengkrama riang dengan entitas lain. "...Kirishima Ame?" gumamnya pelan. Alisnya hampir bertemu saat menatap gadis bersurai merah muda tersebut berujar akrab dengan teman seangkatannya—Aburame Touma. Di saat seperti ini sifat cerobohnya kambuh, dan membuat Touma harus melindungi gadis itu dari buku-buku usang yang hampir jatuh menimpanya. "Oi, Hyuuga, disebelah sini sudah selesai—" "Tunggu! Jangan kesini—" Sialnya kecerobohan turut menggeluti Hyuuga Arata dan membuatnya hampir terjatuh dari tangga kecil tersebut. Masaaki bergerak sigap, dan menahan tubuh pemilik surai kelam itu. Seketika jantungnya berpacu cepat. Tidak ingin Masaaki menyaksikan bagaimana Kirishima Ame bermesraan dengan lelaki lain, tetapi, "Aku sudah tahu kok." Maniknya membulat mendapati penuturan Uchiha Masaaki. Terutama saat pemuda itu memoles senyum getir. "Tidak perlu bersusah payah memisahkan kami, aku sudah mengetahuinya." lanjut lelaki itu disusul helaan napas pelan. "Aburame Touma, ketua klub kerajinan tangan. Kudengar bahkan syal yang ia buat akan diberikan pada orang itu." Tatapannya menyendu seketika. Namun senyum tersebut masih terpampang disana. Sosok Uchiha Masaaki yang berusaha tegar sungguh memuakkan. "Mungkin kau masih punya kesempatan," "Tidak. Tidak ada. Sejak dulu aku hanya dianggap kakak olehnya." Tirai jendela tersibak tertiup angin. Membuat hawa dingin memenuhi ruangan. Salju mulai turun, dan perlahan menumpuk. Masaaki membuang pandangannya ke arah jendela yang menampilkan pemandangan sekolah dengan salju putih. "...kalau nanti akan meleleh, untuk apa menumpuk hingga sebanyak itu. Hanya menyisakan jalanan licin menyebalkan." ujarnya dengan tawa garing. Arata menatapnya nanar. Memperhatikan bagaimana Masaaki berujar sarkas. Salju itu tidak lain perumpamaan perasaannya. Iba, tapi tak ada hal lain yang mampu ia lakukan selain menatap tubuh rapuh tersebut. Arata merasa dirinya menyedihkan. * * * * * Kini isak tangis memenuhi penjuru perpustakaan. Arata membeku di tempat duduknya tanpa mampu berkomentar sepatah-kata pun. Hal seperti ini bukan spesialisnya, tapi ia juga bukan gadis tanpa hati yang mampu meninggalkan orang dengan linangan air mata sendirian. Dua hari menjelang natal, kini syalnya telah dalam genggaman. Namun Kirishima Ame bukan pribadi terampil. Ia bahkan terlalu ceroboh untuk meninggalkan syal tersebut di ruangan klub kerajinan tangan. Ame pun mendapati Aburame Touma menganggap sebentuk syal itu sebagai tugas akhir tahun, dan lantas memberikan komentar pedas tentang bagaimana buruknya syal sewarna salem itu. "Aku memang bodoh sudah berani menyerahkan sampah seperti itu pada Touma-senpai. Rasanya aku benar-benar egois." ujar Ame ditengah-tengah isak tangisnya. Mungkin sedikit curang, tapi jika Uchiha Masaaki menyatakan perasaannya sekarang, bisa jadi— "Bagus kok." Eh...? ...Masaaki? "Kau itu paling cantik dibandingkan siapapun..." Seketika ruangan perpustakaan terasa begitu sunyi. Semua bungkam. Masaaki sukses membuat manik dua gadis ini terbalak. "Syal itu juga. Sangat bagus. Tidak ada duanya. Kau benar-benar terampil, tidak salah lagi." ujar lelaki itu tanpa spasi. Arata mengernyitkan alis, sementara Ame terbengong-bengong dengan wajah konyol. "...kenapa kau meledekku." "Apa kau bahagia bila mendengar hal itu darinya?" Ame terhenyak, kemudian menggeleng samar. Gadis itu menunduk, menahan tangis. "Benar, dasar bodoh! Kau bahkan belum menyatakan perasaanmu, bagaimana bisa kau membuat kesimpulan sendiri seperti itu? Kalau gagal, coba lagi. Coba sampai orang itu berpaling padamu." omelnya panjang lebar sembari melipat tangannya di depan dada. Gadis Kirishima tersebut terkesinap. Untuk beberapa saat, ia hanya mampu mengedipkan maniknya beberapa kali, hingga ia mendapat kesadarannya kembali. "...aku memang benar-benar suka dimarahi oleh Masaaki-senpai." ujar Ame dengan senyum mengembang dan pipi merona merah. Manis. Ia benar-benar manis. "Kalau begitu akan kucoba lagi. Kali ini pasti berhasil!" Dalam sekejap, gadis itu bangkit berdiri dan berlari cepat ke arah pintu. Ceria, riang, seperti biasa. Seperti Ame yang disukai Uchiha Masaaki. Namun derap langkah itu kembali, mendekati Masaaki dan—"Untuk senpai, sebagai tanda terima kasih!" Syal sewarna salem tersebut kini melingkar di leher kokoh Uchiha Masaaki. Aromanya menguar, menusuk hidung. Bahkan ia masih bisa merasakan bekas kecupannya... Kini sang pemilik surai merah muda telah meninggalkan ruangan. Menyisakan perasaan aneh dalam relung entitas yang tertinggal di perpustakaan. Arata meletakan bukunya. Sepenuhnya menutup lembaran kertas usang tersebut. Mendekap mulutnya, menahan gejolak perasaan asing yang merebak di relungnya. "Kau... Menyukaiku ya?" Masaaki berujar pelan. "J-jangan bercanda!" Air matanya tumpah. Mengalir, melewati wajah sang gadis Hyuuga. Setengah mati isak tangis ia tahan, namun sebesar apapun ego, emosi mengalahkannya. "A-aku hanya tidak suka melihatmu sedih. Tidak tahu kenapa, aku juga tidak mengerti..." ujarnya terbata sembari menyeka air mata yang membanjiri pipinya. Masaaki menghela napas samar, kemudian berjalan mendekat, menghapus spasi jarak yang terbentang di antara dua entitas tersebut. Meraih surai gelap milik sang Hyuuga belia, memainkannya, mengecupnya lembut... "Kalau begitu hibur aku." Manik kelamnya menatap kedua obsidian Arata yang memerah karena air mata. "Hibur aku, Arata..." Tubuhnya bergerak lebih cepat dari otaknya. Gadis itu tidak mampu memikirkan hal lain. Di benaknya hanya ada Masaaki. Bahkan sejak awal, sebelum gadis itu menyadarinya. Hingga tangannya meraih tubuh pemuda itu dengan cepat, kemudian mendekapnya di dadanya. Menempelkan dagu pada pucuk surai coklat tersebut, sembari sesekali membelainya lembut. Waktu berjalan begitu lambat, begitu juga salju-salju yang turun menggenangi lahan. "Sudah kuputuskan," Setelah beberapa saat membisu, gadis itu kembali membuka suara. Masaaki menatap pemilik surai kelam tersebut dalam diam. "Tidak akan kubiarkan meleleh." ujarnya tegas. Sementara Masaaki hanya bisa mengerutkan alis tanpa mengerti maksud Arata. "Perasaanku yang menumpuk dalam dirimu, tidak akan kubiarkan meleleh. Mungkin aku memang pribadi yang dingin, tapi tidak seperti salju—aku tidak akan meleleh dan meninggalkan serpihan menyesekkan di dalam hatimu. Aku akan terus berada dalam hatimu. Terus menerus—selamanya..." END Omake: Nah, seperti yang kalian tau—aku gak berbakat bikin ffic atau sesuatu yang menyinggung romance. Pemakaian diksinya juga berantakan banget disini, karena bikinnya sistem kebut semalam. Jadi jangan mengharapkan hal lebih, terutama endingnya yang super biasa itu. Sebenernya yang mau aku ceritain disini itu kisah cinta orang lain menurut pandangan orang ke-tiga. Tapi ternyata gagal. Kurang ke gali. Endingnya cuma sampai Arata akhirnya jatuh cinta sama Masaaki, sedangkan yang bersangkutan belum balas perasaannya. Karena kalo aku bikin mereka langsung jadian, kecepetan. Kaya cintanya Masaaki ke Ame sekedar doang. Akhirnya cuma sampai disitu aja, mungkin ke depannya bakal ada kemajuan di hubungan mereka. But, who knows? Begini nih kalo author-nya main logika, bukan perasaan. Lalu kenapa aku malah curhat. #... [edit_reason]Typo.[/edit_reason] |
|
________________________ and I know that I am d e a d; if i t o u c h a burning candle i can feel no p a i n if you c u t me with a knife its still the s a m e ✕ ✕ ![]() | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Izumi Kyoshiro | Thursday, 6. February 2014, 01:52 Post #2 |
![]()
Tokyo No Taishou
![]()
|
i-ini.. nyesek juga... ![]() kalo ini complicated baru... bagus... aku bingung mau ngomong apa... yang jelas... kamfret masaaki ![]() aku jadi ngerasa kasian sama arata... maa i... mungkin setelah ffic ini, sequel berikutnya mungkin masaaki bakal sadar arata itu yang harus disukainya bukan ame
|
H O P E![]() Aku masih ingin hidup, banyak yang harus kulakukan, banyak yang harus kuraih, banyak yang harus ku pertahankan. Hidupku harus berlanjut. Signature by Uchiha Ayuka | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Uchiha Masaaki | Thursday, 6. February 2014, 08:41 Post #3 |
![]() ![]()
|
Ada sekuel nya?
|
“LOVE BREEDS HATRED.”![]() Uchiha Madara. | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Arata | Thursday, 6. February 2014, 09:24 Post #4 |
![]()
|
Masa sih nyesek? Berarti aku sukses. #... Aku sama Masaaki-kun berasa kasih tak sampai. </3...sequel kalo gak males ya. You know me so well lah. #apa |
|
________________________ and I know that I am d e a d; if i t o u c h a burning candle i can feel no p a i n if you c u t me with a knife its still the s a m e ✕ ✕ ![]() | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Izumi Kyoshiro | Thursday, 6. February 2014, 11:54 Post #5 |
![]()
Tokyo No Taishou
![]()
|
iya maksudnya gitu, buat yang sensitif pasti ketauan... ada "dewa 19" alias pupus... alias cinta bertepuk sebelah tangan alias cinta dalam hati dari ungu
|
H O P E![]() Aku masih ingin hidup, banyak yang harus kulakukan, banyak yang harus kuraih, banyak yang harus ku pertahankan. Hidupku harus berlanjut. Signature by Uchiha Ayuka | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Uchiha Masaaki | Thursday, 6. February 2014, 12:15 Post #6 |
![]() ![]()
|
I know you so well. ![]() Ayo bikin sekuel... /cheers1 |
“LOVE BREEDS HATRED.”![]() Uchiha Madara. | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Arata | Friday, 7. February 2014, 12:34 Post #7 |
![]()
|
Oniichwan emang mengerti aku. *peyuk Masaaki-kun*Sebenernya kalo emang harus bikin sequel, yang mau kubikin ToumaXAme malah... Disini kisah mereka menarik loh. |
|
________________________ and I know that I am d e a d; if i t o u c h a burning candle i can feel no p a i n if you c u t me with a knife its still the s a m e ✕ ✕ ![]() | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Izumi Kyoshiro | Friday, 7. February 2014, 13:38 Post #8 |
![]()
Tokyo No Taishou
![]()
|
awet awet buat event mendatang XD moga admin banyakin event ffic... XD biar semangat |
H O P E![]() Aku masih ingin hidup, banyak yang harus kulakukan, banyak yang harus kuraih, banyak yang harus ku pertahankan. Hidupku harus berlanjut. Signature by Uchiha Ayuka | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Senju Yume | Sunday, 9. February 2014, 12:25 Post #9 |
![]()
|
ini manis banget XD aku selalu suka gaya tulisan Arata |
| |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Arata | Sunday, 9. February 2014, 13:05 Post #10 |
![]()
|
Ah iya, bener juga. Daku terharu, ternyata gak sia-sia begadang(...) semaleman bikin ffic. ![]() Makasih semua! *kasih tanda tangan* *ditimpuk batu* |
|
________________________ and I know that I am d e a d; if i t o u c h a burning candle i can feel no p a i n if you c u t me with a knife its still the s a m e ✕ ✕ ![]() | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Fanfiction · Next Topic » |


✕
✕ 


Tokyo
nyesek juga...




#... Aku sama Masaaki-kun berasa kasih tak sampai. </3

Hokkaido
Daku terharu, ternyata gak sia-sia begadang(...) semaleman bikin ffic. 