SHINOBI
Another Dimension
シノビー・アナザー・ディメンション

4.2 | Fade to Black
Tragedi Osaka Lautan Api hampir terulang di tengah pertarungan Kurokage Hyouka melawan Kirishima Ame dan para perwira Osaka. Namun kehadiran sesosok yang tak terduga, Hasegawa Gyuuki, berhasil menyelamatkan sang Jendral Osaka berikut perwiranya. Apa maksud dari kedatangan Gyuuki di sana? Apakah ia menjadi sekutu dari Osaka, atau justru lawan bersama-sama dengan Kurokage Hyouka?

Di sisi lain, pihak Tokyo berhasil melakukan aliansi dengan Iwate dan Kyushu demi mengungkap segala konspirasi yang tengah terjadi. Hal tersebut tidak mudah khususnya mengingat Inuzuka Chika, Taishou Kyushu, baru menjabat menggantikan Hyuuga Arata yang telah dinyatakan meninggal dunia. Sementara di Hokkaido, Yuki Hatsuki kedatangan dua tamu yang mengaku sebagai shinobi Tokyo. Salah satunya adalah wanita yang hendak mengembalikan jasad Uzumaki Yukio yang tewas terbunuh setahun silam. Bagaimana Taishou Hokkaido menghadapi kabar tersebut?
Welcome Guest [Log In] [Register]
Opreg | 6/8, 10 AM - 8/8

√ Informasi lebih lengkap mengenai opreg dapat dilihat di sini.

√ Baru bermain di SAD? Silakan baca panduan mendaftar di sini.

√ Merasa postmu sudah cukup banyak? Klaim bonus 500 point kamu di sini! Tentu saja, baca ketentuannya lebih dulu, ya.

√ Segala jenis pendaftaran di forum SAD dinyatakan sah jika telah diapprove oleh AKUN STAFF. Di luar itu, tidak sah.

Quick News
Welcome to Another Dimension
SAD (Shinobi Another Dimension) merupakan forum roleplay 2D berbasis teks deskriptif bertemakan Naruto di dunia militer Jepang modern. Bergabunglah dengan kami dan rasakan kehidupan seorang Shinobi di balik bayangan!

Registrasi term IV akan dibuka pada tanggal 6 Agustus 2016 pukul 10.00 WIB.
Best RPer March 2016
Summer/Fall 2017
Quota
KARAKTER SPESIAL
  • Kewarganegaraan ganda: (1/2)
  • Anggota keluarga kekaisaran: (0/1)
  • Pasangan Kembar: (0/1)
  • Citizen: (4/10)

  • KLAN
  • Aburame: (4/11)
  • Akimichi: (3/11)
  • Hyuuga: (10/11)
  • Inuzuka: (7/11)
  • Kaguya: (6/11)
  • Nara: (7/11)
  • Senju: (11/11)
  • Uchiha: (11/11)
  • Uzumaki: (11/11)
  • Yamanaka: (7/11)
  • Yuki Clan: (10/11)
  • Census
    Tokyo 11 | 02 20 | 00 25 | 02
    Hokkaido 09 | 01 16 | 01 25 | 02
    Kyushu 12 | 01 12 | 03 25 | 04
    Iwate 15 | 00 09 | 00 24 | 00
    Osaka 14 | 01 09 | 02 23 | 03
    Kyoto 13 | 00 10 | 00 24 | 00

    Jumlah Shinobi | Jumlah Citizen

    Selamat datang di Forum S A D kami berharap anda menikmati kunjungan ke forum kami.


    Sekarang anda sedang melihat forum sebagai pengunjung. Itu artinya anda memiliki keterbatasan menikmati fitur - fitur yang ada diforum ini secara lengkap. jika anda mendaftar ke forum kami, anda akan langsung terdaftar sebagai member kami dan dapat mengikuti RP bersama kami.


    Ayo bergabung!


    Jika anda sudah terdaftar sebgai member kami, silakan melakukan log in terlebih dahulu untuk mengakses profil anda.

    Username:   Password:
    [FanFic] I dreamed the day I first fell in love with you.
    Topic Started: Tuesday, 4. February 2014, 22:17 (220 Views)
    Imahara Tsubaki
    Member Avatar


    Pairing: Kyoshiro Izumi x Imahara Tsubaki
    Minor Characters: Inuzuka Kirahara, Shinozuka Ali, Yuri (NPC)
    Genre: Romance | School-life | Supranatural
    Rating: PG15


    RIIIING!
    Jam weker itu berbunyi, mengusik ketenangan tidur Kyoshiro Izumi dengan suaranya yang teramat bising. Ia terbangun dari dunia mimpinya, masih mengantuk, tetapi sayang tubuhnya enggan untuk beranjak dari kasur berselimut krem itu. Pemuda itu mengerang pelan, membenamkan kepalanya di bawah bantal sebelum ia akhirnya ia kembali menginjak alam tidur.

    Dahinya berkerut ketika pemuda itu mendengar suara decitan pintu yang terbuka. Menyangka bahwa itu hanya perasaannya saja mengingat ia benar-benar mengantuk saat ini—berkat menonton anime semalaman—Izumi pun memutuskan untuk menghiraukan.

    Hingga ia merasa sesuatu menarik selimutnya secara paksa.

    Kaget, Izumi langsung bangkit dari tidurnya. Bantal yang barusan ia gunakan untuk melindungi diri dari serangan bunyi jam weker terlempar begitu saja ke lantai. Berusaha mengumpulkan sukma yang sudah menyebar entah kemana. Namun ketika ia melihat sosok sahabatnya yang seharusnya sedang melanjutkan kuliah ke luar kota berada persis di hadapannya, Izumi sontak terbelalak dan berseru dengan suara yang masih serak. "Kirahara?! Tunggu, kau kan—"

    Pemuda bernama Kirahara itu tersenyum lebar sembari memungut bantal yang kini melantai. "Met pagi."

    Izumi mengerjapkan matanya beberapa kali tidak percaya. Kapan terakhir kali pemuda itu berkata akan datang kemari? Izumi yakin sudah mengecek smartphone hitamnya semalam sebelum tidur dan tidak ada pemberitahuan apapun. Lagipula bukannya sahabatnya itu sibuk dengan urusan kuliah? "... apa yang kau lakukan di sini?"

    "Maksudmu? Aku selalu rutin membangunkanmu tiap pagi, tahu," Kira memutar matanya lalu menghela nafas. "Sayangku cintaku manisku Kyoshiro Izumi, kau ngigau ya? Sebaiknya kau bangun dari tempat tidurmu sekarang atau kau akan terlambat ke sekolah," begitu katanya sambil mengetuk kening Izumi perlahan dengan kepalan tangannya.

    "Sekolah? Apa?" Izumi mengusap dahinya kebingungan.

    "Usaha yang oke, tapi kau sudah tidak masuk kemarin gara-gara terlalu banyak menonton anime. Jadi hari ini kau sama sekali tidak boleh bolos lagi."

    "Kau ini bicara apa sih?" Alis Izumi berkedut. Umurnya sudah menginjak dua puluh tahun. Ia sudah kuliah. Mereka bukan anak SMA lagi. Mereka sudah lulus tiga tahun lalu!

    Sementara itu Kira berpikir bawa sahabatnya-itu-serius-harus-benar-benar-sadar-dari-alam- mimpi. Puluhan pertanyaan dilayangkan oleh Izumi kepadanya, namun pemuda bersurai kecoklatan itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ia meletakkan salah satu tangannya di pinggul, menaikkan alis setengah tak percaya sembari menghela nafas. "Kyo, jangan bilang kau mendadak terkena amnesia. Perlukah aku menghantamkan penggorengan ke kepalamu biar kau sadar?"

    Izumi mengacak rambutnya bingung. Dari tadi sahabatnya itu terus memperlakukan dirinya sebagai seorang pelajar SMA alih-alih mahasiswa. Tapi kenyataan yang terjadi: ia tidak mungkin tiba-tiba kembali ke masa tiga tahun lalu, bukan? Masa ketika sang kekasih meninggalkan dirinya untuk selamanya akibat sebuah kecelakaan tragis dan membuatnya harus lulus dengan status single—tunggu. Bagaimana kalau ia benar-benar sudah terbangun? Bagaimana kalau ternyata kecelakaan dan pemakaman itu hanyalah mimpi buruk yang terlalu realistis sampai-sampai ia menganggap itu sungguhan? Itu berarti, kekasihnya masih hidup, bernafas dan beraktivitas sebagaimana biasanya, kan? Apa—

    "Tsubaki! Di mana Tsubaki? Dia ada di sini?"

    Kira melipat tangannya, merasa tidak familiar dengan nama yang disebut sahabatnya. "Siapa itu Tsubaki? Pacarmu?"

    "Ya," Izumi mengangguk mantap, "dan kau sangat tahu itu!"

    Pemuda bersurai kecoklatan itu mengurut pangkal hidungnya. "Serius, kau harus benar-benar bangun, Kyo. Kalau ini lelucon, ini sama sekali tidak lucu. Kau masih single. Makan tuh fakta. Sekarang pergi ke kamar mandi dan bersiaplah ke sekolah," ujar Kira sembari melangkah keluar dari ruangan, langkahnya terhenti sebentar sebelum kembali berbalik. "Kalau kau tidak turun dalam sepuluh menit, kau benar-benar akan kuseret paksa!"

    BLAM!

    'Apa-apaan ini... mattaku...' Izumi beranjak dari kasur, berusaha mencari smartphone hitam miliknya yang ia letakkan di dekat meja belajar—dimana ia belakangan menyadari bahwa itu bukan miliknya. Ralat, itu ponsel lamanya. Yang bukan layar sentuh. Bahkan bukan yang jenis qwerty. Pertanyaannya adalah: kenapa bisa ada di sini?

    Dan ia tetap diliputi kebingungan. Irisnya bergulir menatap kalender yang digantung di sisi ruangan. Jelas sekali tertulis di sana bahwa lembaran itu menunjukkan tanggal tiga tahun lalu. Ia memindai seisi ruang kamar kosnya, dipenuhi oleh benda-benda lama yang seharusnya sudah ia masukkan ke dalam gudang. Bahkan seragam SMA-nya pun tergantung rapi di pegangan lemari. Kenapa semuanya ada di sini lagi? Apakah tragedi itu benar-benar sebuah mimpi dan ini adalah kenyataan? Ataukah semua itu adalah realita dan ini hanyalah sebuah bunga tidur?

    Bagai kepingan puzzle yang tercerai berai dan pelik disatukan.


    I...

    Izumi sungguh berpikir bahwa ia benar-benar sedang bermimpi ketika ia kembali menginjakkan kaki melewati gerbang sekolah. Terakhir kali ia berada di sana adalah tiga tahun lalu sesudah upacara kelulusan; pemuda itu masih mengingat wajah-wajah lama yang berkeliaran di sekeliling sekolah, lengkap dengan blazer hitam di atas setelan seragam. Mereka bercanda gurau, seolah hari ini bukanlah hal aneh bagi mereka yang notabene telah lulus beberapa tahun lalu. Bahkan ia melihat beberapa temannya yang harusnya sedang melanjutkan kuliah ke luar negeri dan tidak akan mungkin kembali ke Jepang hanya untuk hal seperti ini.

    Aneh, memang aneh.

    Pemuda itu lalu berjalan menuju loker sepatu. Ia masih ingat di mana loker miliknya berada berkat stiker nama yang ditempelkan beberapa orang iseng di depannya. Menggelengkan kepala sembari mendengus pelan, ia pun membuka pintunya. Yang terjadi kemudian adalah ia terkaget sendiri dengan isinya—berbagai memo yang ditempel persis di balik pintu, isinya kurang lebih: 'Kau lelaki jantan! Kau harus bisa!' atau 'Cepatlah, nanti direbut orang!' dan ia menyadari bahwa itu adalah salah dua dari sekian banyak memo penyemangat yang dibuatnya beberapa tahun silam.

    Seusai mengganti sepatu, Izumi pun berjalan malas sembari memapah tas sekolahnya di bahu. Sepanjang perjalanan ia terus menggumam; betapa persis apa yang kini ia alami dengan masa lalunya, seolah waktu sungguh bisa diputarbalikkan. Hanya saja ia masih belum bisa membedakan apakah ini realita ataukah hanya bunga tidur belaka.

    Masuk ke kelas, pemuda itu langsung bergerak menuju tempat duduknya yang terletak di pojok belakang dekat jendela. Sejak ia mulai bersekolah, ia selalu menyukai tempat itu. Dekat jendela, memudahkan diri melihat langit yang mengingatkan bahwa 'kebebasan' itu memang ada.

    Sama seperti 'dia'.

    Ia mengamati seisi ruangan segera setelah ia duduk. Susunan meja yang berantakan, tumpukan PR yang belum dikerjakan, sampah kertas di mana-mana hasil ulah sekelompok anak laki-laki di sebelah sana—pemandangan yang biasa menghiasi masa-masa SMA. Kelasnya memang selalu sekacau ini, sejauh yang bisa ia ingat. Dan yang ia lakukan hanya duduk diam di belakang, larut dalam pikirannya sendiri.

    Jam segini, maka seharusnya guru sudah masuk ke kelas dan mengajar. Mulanya Izumi mengira memang guru yang baru saja membuka pintu sehingga ia tetap duduk. Jemarinya mengetuk permukaan meja dengan malas, tak berminat mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari jendela kaca terdekat. Seolah tak peduli terhadap apapun yang akan terjadi saat itu juga, kecuali satu hal.

    Kenyataan berbicara; bukanlah pengajar yang memasuki ruangan melainkan sesosok bersurai ikal sewarna kelopak sakura di malam hari—gadis yang mampu membuat hati seorang Kyoshiro Izumi berdenyut ratusan kali per detik setiap kali memandangnya. Pemuda itu sontak bangkit dengan mata membulat, menghasilkan suara decitan nyaring dari bangkunya yang terdorong mundur.

    Belasan pasang mata tertuju padanya sebagai balasan—Izumi tidak peduli. Perhatiannya hanya untuk remaja perempuan yang baru saja tiba.

    Izumi benar-benar yakin gadis itu adalah dia.

    Keheningan membuncah untuk sesaat, membawa atmosfer canggung bagi seisi penghuni kelas. Iris coklat dan merah beradu pandang bak kompetisi sengit. Izumi baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan jika sosok bermata crimson itu akan berada di sana. Yang sedang ia alami kini adalah mimpi tentang masa lalunya; seharusnya ia tahu itu. Tetapi pertemuan setelah sekian lama membuat benaknya menjadi kacau sesaat...

    Bahkan jika ini memang mimpi, melihat figur bersurai merah muda itu tidak pernah membuat seorang Kyoshiro Izumi merasa bosan. Setiap bagian tubuhnya seolah memanggil-manggil Izumi untuk terus memandangnya. Segalanya terlihat begitu nyata bagi kedua iris coklatnya hingga ia tiba-tiba merasa ingin memeluk erat gadis itu dalam dekapannya. Izumi tidak bisa menahan rasa rindu yang meluap dari lubuk hatinya, pada gadis yang seharusnya berada di Surga itu.

    Sang guru benar-benar datang selang waktu kemudian. Beliau meletakkan setumpuk buku di atas meja, pandangannya terfokus pada Izumi yang notabene sedang melamun sambil berdiri di belakang kelas. "Selamat pagi, semuanya. Kyoshiro Izumi, pelajaran akan segera dimulai, jadi tolong manfaatkan bangkumu sebaik mungkin untuk duduk dengan tenang," dan setelah itu beralih pada gadis bersurai ikal di dekat pintu, "dan kau juga, Imahara Tsubaki."

    Tsubaki membungkukkan badan sopan sebagai bentuk permintaan maaf kemudian menyusuri ruang antara bangku-bangku kayu, menuju tempat duduknya yang berada di tengah kelas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Surai ikal merah muda yang terayun pelan, kulit bagai porselin, rona bibir yang merekah indah—semua itu membuat pandangan Izumi tetap tak bisa berpaling.

    Dan saat gadis itu yang duduk pada bangkunya, Izumi pun turut melakukan hal yang sama.

    Selama pelajaran, Izumi sama sekali tidak memperhatikan sang guru yang tengah memaparkan materi di depan kelas. Matanya masih tertuju pada Tsubaki. Meski ia tidak mendapat balasan serupa, ia tetap senang melihat sosok itu kembali. Berada di dekatnya, nyata dan bukan ilusi.

    Sayang perhatian Izumi dirusak dengan sebuah hantaman keras yang dilakukan guru Matematika pada meja menggunakan penggaris besi. Pemuda itu seolah tersadar dari lamunannya, tengkuknya menegang. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dengan cepat, lalu melihat ke arah sang guru di depan kelas seolah tak melakukan kesalahan apapun.

    "Kyoshiro Izumi, kalau sekali lagi kulihat kau tidak memperhatikan lagi, benda ini akan melayang."


    ... dreamed...
    "Kau tahu, hari ini kau benar-benar aneh."

    Izumi mendengus saat mendengar komentar salah seorang temannya. Ia tidak berniat membalas, tangannya sibuk mengambil burger keju dan segelas cola dari meja kasir. Ia harus menjawab apa, sedangkan ia sendiri masih bingung apakah ini benar-benar kenyataan atau hanya mimpi. Sementara temannya itu membayar pesanannya, Izumi melihat ke sekeliling kafetaria, berharap bisa menemukan sosok Tsubaki di sana.

    Sayang ia tidak menemukan apa-apa, sehingga ia hanya menurut ketika temannya mengajaknya duduk di salah satu bangku di penghujung kantin.



    "Serius, kau seperti orang lain saja, Kyo," temannya itu mengunyah sandwich dagingnya ketika Izumi menyantap burgernya dengan lahap. Keramaian kafetaria membuat pemuda itu perlu mengeraskan suaranya agar lawan bicara bisa mendengarnya dengan baik. "Omong- omong, sejak tadi pagi kuperhatikan kau terus memandangi Imahara. Kau ada rasa padanya?"

    UHUK! Tentu saja itu sukses membuat Izumi tersedak roti burger yang sedang ia nikmati. Rona merah tampak samar di kedua pipinya—memang pada dunia nyata ia dan Tsubaki memang sudah menjadi sepasang kekasih, tiga tahun lalu, tetapi tetap saja jika ia ditanya terang-terangan secara mendadak seperti itu Izumi menjadi salah tingkah. Pemuda itu pun segera meraih gelas colanya dan meminumnya cepat, mendorong makanan yang tersangkut di kerongkongannya. Setelah itu menghela nafas lega.

    "Ali! B-boge, kau bicara apa?" nada bicaranya terdengar gugup. "T-tidak ada apa-apa antara aku dan Imahara-san."

    "Hei, aku sudah mengenalmu sejak lama, Kyo. Aku tahu apa yang ada di kepalamu sekarang," ujar Ali menempelkan telunjuknya ke pelipis dan mengetuknya beberapa kali sebelum melipat tangannya. "Dulu kau juga begitu waktu SMP. Sayang gadis yang kau taksir dulu keburu pindah."

    Izumi melanjutkan makannya yang sempat terganggu tadi dengan alis berkedut. Berbicara tentang masa lalu memang tidak mengenakkan, terutama bila menyangkut kehidupan asmaranya. Memikirkan semua itu memaksanya mengenang kembali insiden tragis yang merenggut nyawa kekasihnya tiga tahun lalu, di kehidupan nyata. Ia rasanya perlu berterima kasih pada Ali karena telah membuat nafsu makannya mendadak hilang.

    "... permisi, boleh kami duduk di sini? Tempat yang lain penuh soalnya."

    Izumi menoleh ke arah gadis berambut pendek yang meletakkan nampan makanan di atas meja tempat kedua pemuda itu menikmati makan siang. Semula mengacuhkan dan membiarkan Ali mengurus sisanya, namun kehadiran sosok bersurai pink di belakang gadis itu berhasil merebut kembali perhatian Izumi. Ia yang tadi memangku lengannya malas di atas meja kini duduk tegak, iris coklatnya bergantian memandangi kedua gadis itu. Dan ia pun mengangguk pelan, tanda setuju.

    "Terima kasih! Tsubaki-chan, kita dapat tempat!"

    "Syukurlah," Tsubaki tersenyum lega, kemudian memutuskan untuk mengambil tempat persis di samping Izumi karena temannya yang berambut pendek sudah duduk terlebih dulu di sebelah Ali. Pemuda itu menjadi semakin gugup. Bulir keringat membasahi tengkuknya. Setelah sekian lama, ia kembali berada sedekat itu dengan sang pujaan hati. Gadis yang seharusnya telah tiada. Namun sosok itu ada di sana, masih hidup dan bernafas, seolah kecelakaan naas itu memang tidak pernah ada.


    "Apa kabar?"

    Tsubaki memandang pemuda berambut hitam yang duduk di sampingnya ganjil sembari meneguk es teh limun, sementara dua orang di hadapannya tengah sibuk berdiskusi tentang festival mendatang. Gadis itu tampak terheran untuk sesaat sebelum akhirnya mengangguk. "Um, baik."

    Izumi meletakkan gelas colanya yang sudah kosong di atas meja. Ia menyandarkan tubuhnya pada bangku, melirik ke arah lawan bicaranya sembari melipat kedua tangan. "Jadi bagaimana... Surga itu?"

    Tsubaki menghentikan minumnya, mengerjapkan matanya beberapa kali seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Maaf? Surga?"

    "Yah, kau pernah muncul sekali di mimpiku dan berkata bahwa aku harus terus menjalani hidup dan bahwa kau akan terus menunggu sampai aku dipanggil."

    "Hah?"

    Izumi mengunci mulutnya sebelum berbicara lebih ngelantur. "K-kau tidak tahu?"

    Gadis berambut pink itu mengerutkan dahi. "Kyoshiro-san, kau tidak apa-apa?"

    Terdiam, Izumi kali ini memandang sosok di sebelahnya dengan heran. Pertama kali gadis itu muncul dalam mimpinya sejak kecelakaan tragis itu, ia memang mengatakan sesuatu seperti barusan bahwa ia akan menunggu hingga maut menjemput kekasihnya kelak dan mereka akan hidup bahagia di Surga. Seharusnya Tsubaki tidak melupakan apa yang telah dikatakannya, mengingat ini adalah kali kedua gadis itu muncul dalam mimpi Izumi. "Maaf, tapi aku hanya kaget kau kembali ke sini. Sejak kecelakaan itu, aku—"

    Tsubaki terlihat tidak nyaman tentang kemana pembicaraan ini akan berlanjut. Sesaat kemudian ia pun mulai membereskan piring makannya yang telah kotor, tidak bertatapan langsung dengan lawan bicara saat bibirnya terbuka untuk berbicara. "Dengar, kita belum pernah berbicara sebelumnya dan kau tiba-tiba berkata seperti itu kepadaku. Dan kudengar dari Yuri-chan kalau kau terus menatapku selama pelajaran Matematika seperti sedang melihat umpan segar. Itu semakin membuatku berpikir kalau kau menyeramkan..."

    Menyeramkan?

    "Tunggu, aku tidak bermaksud—"

    "—maafkan aku, tapi aku harus pergi," ujar gadis itu seraya bangkit dari kursi dan membawa nampan makannya pergi, sempat terdiam beberapa saat untuk melemparkan sebuah senyuman manis kepada temannya sebelum berjalan menjauh. "Yuri-chan, aku duluan."

    Terlambat untuk menghentikannya. Tsubaki telah berbaur dengan kerumunan siswa di sebelah sana dan tidak kembali lagi.
    Butuh beberapa menit bagi Kyoshiro Izumi untuk memahami segalanya. Hal-hal aneh yang terjadi semenjak tadi pagi, mulai dari waktu Kira membangunkannya hingga saat ini. Penyebab kenapa tiba-tiba ia terbangun di kamar lamanya dengan benda-benda yang seharusnya sudah berakhir di gudang dan tempat pembuangan sampah. Penyebab kenapa orang-orang terus menganggapnya seperti pelajar SMA dan bukan mahasiswa. Penyebab kenapa sosok yang seharusnya sudah tiada kini menjalani hari seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dan di usianya yang keduapuluh ini, ia baru menyadari sesuatu.

    Waktu telah diputarbalikkan.

    Dari awal ini bukanlah sebuah mimpi. Ini adalah kenyataan.


    ... the...

    Mengetahui bahwa waktu benar-benar telah diputarbalikkan, Izumi tahu bahwa ini merupakan kesempatan emas yang diberikan kepadanya oleh para Dewa. Tentu saja ia tak akan melepaskan kesempatan itu begitu saja. Keesokan hari saat pelajaran olahraga berlangsung, pemuda itu memiliki rencana tersendiri saat ia berjalan menghampiri Tsubaki yang sedang melakukan pemanasan sendirian di tengah lapangan.

    "Hai," sapa Izumi canggung. Tsubaki terdiam, ekspresinya seolah ingin menjaga jarak dengan pemuda itu meski tubuhnya tak bergerak.

    "... hai juga."

    "Merunduklah nanti," ujarnya tiba-tiba.

    "Hah?" Namun sebelum meninggalkan jawaban, Izumi pun berlari kecil menjauhi gadis itu.

    Bingung, Tsubaki mengakhiri pemanasannya lalu berjalan ke arah lain. Ia masih kepikiran soal perkataan ganjil dari pemuda itu. Wajarlah—kau pun akan berpikiran sama setelah mendengar seseorang tiba-tiba berkata seperti itu kepadamu tanpa sebab khusus. Gadis itu mengerjapkan matanya, berusaha melepaskan segala pikiran itu dari benaknya. Dan sesaat kemudian—

    "Awas!"

    Kaget, Tsubaki menoleh dan mendapati sebuah bola sepak melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Dengan mata terbelalak, ia pun merunduk, membiarkan bola itu melewati atas tubuhnya. Dan ketika merasa ia telah aman, gadis itu kembali berdiri tegak sambil tak melepaskan ekspresi tak percaya dari wajahnya.

    Merunduklah nanti.

    'Bagaimana ia bisa tahu?'


    Dari kejauhan, Izumi diam-diam mengamati sosok gadis bersurai merah muda itu yang sepertinya tengah mencari dirinya. Senyum terkembang di wajah pemuda itu. Semalaman ia memikirkan banyak hal dan akhirnya tahu apa yang harus ia lakukan.

    Melindungi dan mencintainya di saat yang bersamaan.


    ... day...

    Seminggu berlalu sejak kejadian itu dan semakin hari kepala Tsubaki dibuat pusing berkat berbagai macam hal aneh yang terjadi. Seusai menghabiskan beberapa jam malam minggu itu dengan menonton film horor yang dipinjamnya dari seorang teman, gadis itu lalu memandang langit-langit kamarnya sembari memeluk bantalnya erat. Membiarkan hening menyelimuti ruangan berdominasi warna merah itu.

    Dan di saat yang sama, ia pun mulai mengingat kejadian yang dialaminya selama sepekan ini.

    Semuanya berawal dari waktu Izumi memintanya untuk merunduk dan sesaat kemudian ia mendapati dirinya hampir terpukul mundur dengan sebuah bola sepak. Keesokan harinya, pemuda itu memberinya payung walau cuaca cerah sampai ia akhirnya tahu bahwa benda itu berguna ketika hujan mulai turun dengan deras. Lalu hari berikutnya dimana Izumi memberinya sekotak tisu basah yang lagi-lagi berguna sewaktu pelajaran Kesenian saat ia tak sengaja memercikkan cat ke wajahnya sendiri.

    Dan baru kemarin sebelum ujian Kimia berlangsung, ia menerima bolpoin baru dari Izumi dan belakangan menyadari bahwa penanya sendiri kehabisan tinta di tengah mengerjakan soal.

    "Aneh," gumamnya sembari menghela nafas pelan. "Gimana ia bisa mengetahui hal-hal tak terduga seperti itu? Apa dia seorang cenayang?"

    Ia tak tahu jawabannya, tetapi saat wajah pemuda berambut hitam itu muncul di benaknya, Tsubaki merasa bahwa bukanlah aneh bila parasnya tetap terbayang di sana. Tak merasa terganggu, tak seperti kesannya terhadap pemuda itu ketika bertemu di kafetaria dulu.

    Gadis itu menyeringai.

    'Menarik...'


    ... I...

    Mungkin ini terlalu dini untuk dilakukan, tetapi ia tidak bisa menahannya lagi.

    Izumi telah memutuskan. Dengan menaruh seonggok keberanian pada pundaknya, pemuda itu pun mendatangi Tsubaki yang sedang mengambil buku perpustakaan saat istirahat makan siang berlangsung.

    Gadis bersurai ikal itu tengah berjinjit meraih novel misteri di rak atas ketika Izumi membantu mengambilkan buku itu untuknya. Seketika Tsubaki berbalik dan menatap sosok pemuda itu lekat. Sesuatu terlintas dalam benaknya ketika melihat ekspresi was-was dari para Izumi, 'apakah ia datang untuk memperingatiku lagi?'

    Namun ia tahu bahwa dugaannya salah saat Izumi memberikan buku itu kepadanya dan tiba- tiba berkata, "Imahara Tsubaki, aku menyukaimu."

    "... maaf?"

    Izumi menelan ludahnya gugup. "Aku menyukaimu," ia mengulangi. Sementara Tsubaki memandangnya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

    "B-begini, aku tahu ini mungkin terdengar konyol karena belum lama sejak kita pertama kali mulai berbicara satu sama lain, tetapi aku hanya ingin kau memercayaiku, bahwa semua kata- kata yang kumaksud sekarang adalah kenyataan," ujar pemuda itu, berusaha untuk tidak terdengar seperti pecundang. "Aku menyukaimu sejak hari itu. Kemarin, hari ini, kapanpun itu— aku selalu menyukaimu. Kupikir itu tidak akan pernah berubah."

    "Aku menyatakan ini padamu dari lubuk hatiku yang terdalam dan aku berharap—" ia menarik nafas sebelum melanjutkan, "—berharap bahwa kau mau menerima pengakuanku."

    'Lagi,' tambahnya dalam hati.

    Tsubaki tidak bisa berkata apa-apa mendengar pengakuan pemuda di hadapannya barusan. Ia sama sekali tidak menduga bahwa hari ini akan datang, hari dimana ia ditembak seorang laki- laki. Belum lagi, tidak banyak yang ia tahu tentang seorang Kyoshiro Izumi selain ia memiliki kemampuan meramal masa depan dan sering terlihat gugup. Dan tanpa ia sadari, bibirnya pun bergerak. "Maafkan aku, tetapi kurasa kita akan berteman saja dulu."

    Rasanya hati Izumi hancur berkeping-keping dan dunianya runtuh seketika. Ia ditolak. Mentah- mentah. Ini bukanlah hasil yang pantas ia dapatkan. Ia masih mengingat jelas bagaimana Tsubaki menerima pengakuannya dengan senang hati dulu. Senyum terkembang di bibir gadis itu dan berkata bahwa mereka ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih. Bukan yang seperti ini.

    Sementara Tsubaki sendiri tak berani menatap Izumi langsung. Pandangannya mengarah ke arah lain, sesekali menyusuri deretan buku perpustakaan, kemudian beralih pada lantai karpet. Ia merasa bahwa apa yang barusan ia katakan terdengar begitu salah ketika keluar dari mulutnya, seolah ia tidak bermaksud demikian. Semuanya berlangsung begitu mendadak. Tetapi apa daya. Kenyataannya, ia baru saja menolak menjadi kekasih pemuda itu.

    Dan tanpa melirik kembali ke arah Izumi, gadis itu berbalik dan bergerak menjauh.

    'Jangan menyerah dulu, Kyo... Suatu saat ia akan menyadari usahamu.'

    Berkata begitu untuk menghibur diri.


    ... first...
    "Yuri-chan dimana sih..."

    Tsubaki memandangi arloji merah yang melekat di tangan kanannya sembari menghela nafas. Ia sedang menunggu kedatangan sang sahabat seusai kegiatan klub sepulang sekolah di perpustakaan, tempat terdekat dengan kelasnya dan ruang klub musik yang diikuti Yuri. Keduanya memang telah sepakat untuk sedikit berjalan-jalan di distrik Kita nanti mengingat besok adalah hari minggu, sekalian mencari pakaian untuk festival sekolah mendatang. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai, masih mengenakan blazer hitam di atas setelan seragam rok pendek dengan stoking hitam dan loafers cokelat tua.

    Sejak pengakuan tadi siang itu, Tsubaki jadi tak ingin bertatapan empat mata dengan Izumi. Lebih tepatnya, ia tidak berani. Sejujurnya ia sendiri bingung apa yang pemuda itu sukai dari dirinya—baiklah, ia memang menonjol dalam kelas Drama dan Kesenian. Tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih.

    Daripada diam dan tidak melakukan apa-apa, Tsubaki memutuskan untuk membaca buku novel misteri yang ia kembalikan tadi siang. Sialnya adalah buku favoritnya itu berada di rak paling atas. Berjinjit pun percuma, jadi ia pun mengambil tangga dan menaikinya. Dan saat itu, Tsubaki sama sekali tidak tahu bahwa dua pasang mata tengah memandanginya hingga sebuah suara yang terdengar familiar di telinganya berbicara.

    "Kau tahu, menaiki tangga perpustakaan dengan rok sependek itu bisa mengundang mata- mata tak bertanggungjawab, Imahara-san."

    Terkejut, Tsubaki mendapati Izumi sedang memelototi dua pemuda yang mengintip di balik sela-sela rak—dan belakangan menyadari bahwa mereka tengah mengincar kesempatan untuk melihat apa yang ada di balik roknya. Tentu saja itu membuat gadis bersurai ikal itu kaget bercampur malu. Ia berusaha turun dengan segera, namun gadis itu gagal mempertahankan keseimbangannya.

    Beruntung Izumi tahu apa yang akan terjadi sehingga ia menangkap tubuh mungil itu sebelum Tsubaki benar-benar membentur lantai.

    Dua pemuda bermasalah itu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk kabur sementara Tsubaki masih mencoba mengatur nafasnya dalam dekapan Izumi. Izumi sendiri merasakan jantungnya berdebar kencang, namun kini bukan saatnya untuk bersikap egois. Ia langsung menurunkan gadis itu sebelum kegugupan kembali menyerangnya.

    "Hati-hati," bisiknya. Ia memutuskan untuk berbalik dan meninggalkan gadis itu, berpikir bahwa sebaiknya ia membiarkan Tsubaki sendirian setelah beberapa jam lalu menolak pengakuan cintanya. Gadis itu butuh waktu. Tetapi belum sempat ia melangkah lebih jauh, ia bisa merasakan sesuatu menggenggam pergelangan tangannya, seolah mencegahnya untuk pergi. Dan ia pun menoleh.

    "Um," Tsubaki mencoba menatap langsung iris coklat milik pemuda di hadapannya sembari melepaskan tangan itu dari genggamannya. "Terima kasih."

    Izumi hanya bisa tersenyum tipis, menarik nafas dalam sebelum membalas. "Imahara-san, tentang pengakuanku tadi siang..."

    "... aku tahu itu benar-benar mendadak, tapi..." ia menghela nafas. "Tolong berikan aku satu kesempatan lagi. Kalau kau tetap pada pendirianmu, aku tidak akan memaksa dan berjanji tidak mengganggumu setelahnya."

    "..."

    Sebuah anggukan kecil dari Tsubaki pun seolah menghidupkan kembali harapannya.


    ... fell...

    Keesokan hari, Izumi memutuskan untuk mengajak Tsubaki makan siang bersama di bawah bayang-bayang pohon sakura dekat lapangan sekolah. Untuk kembali mendapatkan hati Tsubaki ia harus memulai secara perlahan. Tanpa keberatan gadis itu menerima ajakannya, sebagai rasa terima kasih karena dulu pernah ditolong beberapa kali. Kini gadis itu tengah duduk santai di atas hamparan rumput maha luas dengan Izumi di sampingnya, menatap pemuda itu antusias saat ia mengeluarkan kotak makan berukuran cukup besar dari dalam bungkusan kemerahan.

    "Kau membawanya?"

    Izumi tersenyum saat ia membuka tutupnya. Melihat bento di dalam kotak plastik itu adalah makanan favoritnya, kedua iris crimson Tsubaki berbinar senang. Sosis gurita, sayur dan potongan telur dadar yang tertata rapi dengan lembaran rumput laut membentuk barisan kotak- kotak yang terlihat lezat. Tapi di saat bersamaan ia juga penasaran, "dari mana kau tahu kesukaanku?"

    Bukannya menjawab, pemuda itu hanya menyunggingkan bibir dan mempersilakan Tsubaki untuk makan lebih dulu. Sementara ia sendiri mengeluarkan bungkusan lain, kali ini bentuknya lebih kecil dan bundar—doublecheese burger yang merupakan kesukaannya pula. Dan meski gadis itu masih bingung akan bagaimana Izumi bisa mengetahui lauk favoritnya, Tsubaki tetap bisa menikmati makan siangnya tanpa beban. Entah kenapa, berada di dekat Izumi bisa membuat gadis itu merasa nyaman...

    Sangat nyaman.


    Pada hari berikutnya, mereka berdua menghabiskan waktu istirahat makan siang di perpustakaan sembari mengerjakan tugas yang belum selesai. Sang penjaga tampak sedikit kesal dengan kebisingan yang mereka timbulkan saat Tsubaki bercerita tentang keinginannya menjadi seorang aktris terkenal dan keduanya tertawa bersama. Inilah hal yang membuat seorang Kyoshiro Izumi bisa jatuh hati kepada gadis itu—ekspresif, lepas—seakan dengan hanya berada di sampingnya saja sudah membuat Izumi melepaskan segala beban.

    Tanpa mereka sadari, semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama membuat keduanya semakin merasa dekat. Bahkan sekarang mereka berjalan berdampingan ketika Izumi menawarkan diri untuk mengantarkan gadis itu pulang. Cukup banyak yang mereka perbincangkan, mulai dari anime misteri yang tengah naik daun hingga film horor kesukaan Tsubaki. Sayang, obrolan tersebut harus berakhir ketika mereka sampai pada tujuan.

    "Kalau begitu, sampai bertemu besok di sekolah."

    "Baiklah. Hati-hati di jalan."

    Izumi tersenyum, sedikit menundukkan kepala lalu berbalik, sebelum lagi-lagi sebuah genggaman di pergelangan tangan menarik perhatiannya. Rona merah tomat seketika mewarnai wajah pemuda itu ketika ia merasakan sentuhan bibir lembut pada pipinya selama sepersekian detik. Hal yang sama terjadi pula pada gadis bersurai ikal itu—segera setelahnya Tsubaki pun berlari masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.

    "S-sampai ketemu besok!"


    "Aku nggak percaya aku melakukan itu," gumam gadis itu sembari menyandarkan diri pada pintu kayu saat ia telah masuk ke dalam rumah. Ia bisa merasakan debaran jantungnya, berdetak bagaikan genderang. Tsubaki memegang bibir mungilnya perlahan dan sesaat kemudian senyum manis menghiasi wajahnya.

    Sementara Izumi di luar sana menatap pintu rumah Tsubaki kaget. Ia tidak menduga akan mendapatkan sebuah kecupan sebagai salam perpisahan. Tanpa sadar jemarinya bergerak menyentuh pipinya yang masih merona, tersenyum sendiri seolah Dewa baru saja mengabulkan keinginannya.


    ... in love...

    Dua bulan sudah sejak pengakuan Izumi dan hubungan kedua insan itu menjadi begitu akrab. Meski begitu, Tsubaki sendiri menganggap Izumi hanya sebagai sahabat karib, belum memberikan jawaban yang diharapkan. Bukan masalah bagi pemuda itu, meski sedikit sakit sebenarnya, tetapi yang terpenting adalah ia bisa terus berada di dekat sang pujaan hati. Berbekal pengetahuan dari masa depan, ia tidak bisa membiarkan gadis bersurai ikal itu celaka...

    Hingga waktu itu datang kelak.

    Tetapi ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

    Pemuda itu akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Tsubaki jalan-jalan, berdua saja, setelah sedikit dipaksa oleh sahabatnya Kirahara. Karena pemuda itu tahu bahwa Izumi menyukai seseorang, rasanya ada yang kurang ketika Izumi tidak mengajak Tsubaki berkencan selama ini. Ia menyarankan agar Izumi membawa gadis itu ke bioskop, menonton drama percintaan atau film aksi yang setidaknya berakhir romantis, dan setelah itu kembali menyatakan cinta. Berharap bahwa gadis itu kali ini akan menerimanya...


    "Dia lumayan terlambat juga," desah Izumi sembari melirik arloji di tangannya cemas. Setengah jam sudah ia menunggu di depan sebuah kafe kecil tempat mereka berjanji akan bertemu, namun tetap tidak ada tanda-tanda kehadiran sosok bersurai merah muda yang dinantinya. Sedikit menaikkan syal merah yang ia kenakan, kemudian memasukkan kedua tangan dalam saku jaket sewarna rambutnya. Sesekali memandang langit, menghembuskan nafas panjang, lalu menyandarkan diri pada tiang lampu jalanan seraya tetap menunggu.

    RIIIING!
    Ponselnya berdering, membuat kedua mata Izumi membulat kaget dan segera mengeluarkan benda itu dari dalam saku. Melihat nama yang begitu familiar tertera pada layarnya, pemuda itu tak membuang waktu untuk langsung mengangkat panggilan telepon itu. "Halo, Tsubaki?"

    "Izumi-kun, maafkan aku, barusan ada sedikit urusan dengan kakakku. Kau tahu, soal pertunjukan teater minggu depan..."
    "Oh, tidak masalah. Aku juga baru sampai," ia berujar, berbohong. "Lagipula itu acara penting untukmu, kan? Aku akan menunggu hingga kau datang."

    "Tapi aku sudah selesai kok. Sebentar lagi aku akan sampai, sekarang aku berada di persimpangan sebelum belokan menuju tempat janjian kita. Kau sedang berada di kafe itu, kan?"
    Ia tertawa. "Tentu saja. Memang kau pikir aku akan menunggu di mana?"

    "Aku cuma bertanya, kali saja kau lupa. Tunggulah aku di sana—are? Sebentar, ada sesuatu—"
    Dan panggilan pun terputus.

    Izumi mengangkat alisnya, sedikit penasaran dengan sesuatu yang disebutkan Tsubaki belakangan. Tapi ia tak berniat mengetahui itu lebih lanjut; ia menghargai privasi Tsubaki kecuali gadis itulah yang bercerita kepadanya. Hanya mengangkat bahu seraya berbalik, menurutnya mungkin menunggu sambil makan adalah ide bagus.

    Sayang rencana mengisi perut gagal ketika ia menangkap suara jeritan beberapa orang dari penghujung jalan, sesuatu yang terdengar seperti—

    "Tabrakan! Ada tabrakan!"
    Matanya membelalak. Ia tak peduli sorot mata yang tertuju padanya saat ia mulai berlari secepat yang ia bisa ke arah asal suara teriakan barusan—perasaannya tidak enak. Entah kenapa, sosok Tsubaki tiba-tiba terbayang kuat dalam benaknya tanpa ia sendiri tahu alasannya. Jantungnya berdebar. Nafasnya tak beraturan. Ia bisa merasakan panas mendadak menyerang tubuhnya. Izumi berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa tidak terjadi apa-apa pada gadis itu. Ia pasti baik-baik saja, tidak terlibat dalam tabrakan itu.

    Karena seingatnya, kecelakaan itu tidaklah terjadi sekarang.

    'Kumohon, semoga itu bukan kau...'


    ... with...
    Ini seperti déjà vu.

    Tiga tahun lalu—tidak, seharusnya ketika mendekati hari kelulusan, pemuda itu mengalami kejadian yang persis sama seperti hari ini. Seharusnya ia menyadari bahwa masih ada kemungkinan hal itu akan terjadi. Ia mengajak Tsubaki berkencan. Gadis itu datang terlambat. Ia mendengar suara jeritan dan langsung bergegas menuju lokasi kejadian. Suasananya begitu menyakitkan. Sesak untuk diakui, tetapi ia pernah berada dalam situasi seperti ini.

    "Ayolah Tsubaki, angkat telponnya," Izumi menggertakkan gigi, berusaha untuk menghubungi ponsel milik gadis itu sembari berusaha menyelip di antara kerumunan orang. Tapi apa, yang didapatnya hanyalah nada sambung, dan lautan manusia membuatnya sulit untuk mendekat ke arah lokasi tabrakan itu terjadi. Tidak, ia sudah bertekad akan terus melindungi Tsubaki di masa kini. Ia telah diberikan kesempatan untuk mengubah segalanya. Kecelakaan itu tidak mungkin terjadi sekarang.

    "Hei! Hati-hati dong kalau jalan!"

    Terlalu larut dalam spekulasi membuat Izumi tidak memperhatikan sekitarnya baik-baik dan akhirnya menubruk seorang pemuda berambut pirang dengan topi rajut seputih salju. "Maafkan aku," ujar Izumi sambil membungkukkan badan. "Anu, kalau boleh tahu... apa yang terjadi di sebelah sana?"

    "Kecelakaan. Kau dengar sendiri 'kan teriakan orang-orang di sana? Sepertinya sih barusan seorang anak kecil berlari ke tengah jalan saat lampu hijau dan crash! Tabrakan. Oh, tapi tadi ada seorang gadis yang mencoba bersikap heroik, entah apa yang terjadi," balas pemuda bertopi rajut itu sebelum beranjak pergi. "Sudah ya, aku ada urusan."

    "Perempuan itu tidak apa-apa?"
    "Tidak apa-apa bagaimana! Lihat lukanya! Siapapun, panggil ambulans!"

    Perempuan?

    Merasa informasi yang tadi diberikan pemuda barusan benar, Izumi kembali berusaha menerobos keramaian. Pikirannya kalap. Hanya satu wajah yang melekat dalam kepalanya kini: sosok Imahara Tsubaki. Masih mencoba menelpon gadis itu. Setidaknya jika ia mendapatkan jawaban, ia akan tahu yang terkasih sungguh baik-baik saja.

    "Angkatlah, Tsubaki—"

    Dan kemudian pemandangan mengerikan itu tampak juga.

    Ribuan belati seolah menghujam jantung Kyoshiro Izumi saat lepas dari kerumunan manusia itu. Ia berdiri mematung, seolah sekujur tubuh tak bisa digerakkan meski ingin. Apa yang ditakutkannya menjadi kenyataan. Aroma darah dan aspal intens bercampur menjadi satu, membuat siapapun yang tak terbiasa pasti muak. Bukan milik anak kecil yang tengah terbaring ketakutan di sana, melainkan sosok lain bersurai sewarna sakura. Sosok gadis yang ia cintai. Remaja perempuan tempat Izumi menaruh hatinya.

    "Hei, kau! Jangan dekati lokasi kejadian!"
    Tak peduli larangan orang-orang di sekitar, pemuda itu segera berlari menghampiri tubuh lemas Tsubaki di tengah jalanan dan berlutut. Gadis itu bersimbah darah, begitu rapuh. Ia sadar semua telah terlambat. Izumi memeluk sosok mungil itu lembut, tak ingin membuatnya semakin remuk. Dunianya serasa hancur menjadi serpihan debu. Rasa sakit di dada begitu sulit untuk ditahan.

    Hal selanjutnya yang ia tahu—air mata pun jatuh, sesaat kemudian membanjir. Menangis penuh sesal, berteriak, melepaskan segala emosi yang tak mampu ia bendung. Kesedihan dan amarah tumpah ruah. Seolah menyalahkan diri sendiri karena tak mampu berbuat apa-apa. Bahkan ketika ia telah diberikan sebuah kesempatan, ia telah gagal melindungi gadis itu. Semua sudah terlambat.

    Tsubaki telah pergi.

    Bahkan langit pun tampak menangisi kepergian gadis bersurai ikal itu. Para bidadari angkasa menjerit; dalam suara yang keras dan membawa ketakutan. Tangisannya membahana, berupa petir menggelegar yang menggema di langit kelabu, mewakili segala perasaan Izumi yang tengah terpuruk. Hujan deras turun tak lama kemudian, seolah surga turut sedih atas kehilangannya.


    ... you.
    But it ended up as a nightmare.



    "Hei, hei, Izumi-kun, lihat ke sana! Ada bintang jatuh!"
    "Hm? Oh, benar juga."

    "... baiklah, sudah kuputuskan. Apa harapanmu?"
    "Kurasa... agar bisa terus berada di sisimu. Bagaimana denganmu?"

    "Romantis sekali. Kelak, ketika aku sudah tiada dan lahir kembali, aku juga ingin tetap berada bersamamu, Izumi-kun."
    "Harapanmu... jangan berkata seolah kau akan mati begitu dong."

    "Hehehe. Tapi aku serius kok. Hidup manusia kan tidak abadi. Dan kita tidak tahu kapan maut menjemput sebelum kita merasakannya."

    "Aku hanya ingin kau tahu, Izumi-kun..."

    "Bahwa aku mencintaimu."

    No matter what happens, you can never change the past.


    FIN.[edit_reason]...[/edit_reason]
    Posted Image
    Lovely siggy by Kyoshiro Izumi-kun ♡
    OFF Profile Quote
     
    Arata
    Member Avatar

    ... *standing applause*

    Speechless pagi-pagi gara-gara ffic ini. Kokoro sukses dibuat remuk, potek, kretek ampe berkeping-keping. *kumpulin serpihan hati* #alay Mau teriak `kyaa kyaa bagus banget` juga gak cukup. Serius dah suka banget, manis. Berasa banget gimana oniichwan bener-bener mencintai sosok Imahara Tsubaki. Dan adegan matinya bikin aku keliling sekolah buat nyari tisu. *diinjek*

    Dewa lah, dewa.
    ________________________

    and I know that I am d e a d;

    if i t o u c h a burning candle i can feel no p a i n
    if you c u t me with a knife its still the s a m e


    Posted ImagePosted ImagePosted Image
    OFF Profile Quote
     
    Inuzuka Kira
    Member Avatar


    ... serius demiapa, waktu saya baca yang bagian Kira ngebangunin si masbro, saya ngakak. #...

    Saya pikir bakal happy ending soalnya dari intronya keknya si masbro ngenes amet, kasian kalo ga dikasih yang hepi2 ternyata ceritanya berakhir tragedi gitu. Gila oke punya mbakbro.

    Aduh so sweet amat kalian berdua. /gosip #apaini
    Posted Image
    Ava © Shinozuka Ali | Sig © Hyuuga Arata
    OFF Profile Quote
     
    Izumi Kyoshiro
    Member Avatar
    Tokyo No Taishou

    itu diujung fanfic juga siggy tsubaki macem ah udahlah... aku galau sumpah /swt /terpuruk

    aku tanpamu... butiran debu tsubaki /swt
    H O P E
    Posted Image
    Aku masih ingin hidup, banyak yang harus kulakukan, banyak yang harus kuraih, banyak yang harus ku pertahankan. Hidupku harus berlanjut.
    Signature by Uchiha Ayuka

    OFF Profile Quote
     
    1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
    ZetaBoards - Free Forum Hosting
    ZetaBoards gives you all the tools to create a successful discussion community.
    « Previous Topic · Fanfiction · Next Topic »

    Free Hit Counter
    2013-2016 Shinobi Another Dimension
    Forum by Setsuna. Skin by セイ. Content by members. All images, themes, textures and javascripts belong to their respective owners. Please do not steal anything. Hosted for free by Zetaboards.