|
Rules
Guide Index
How to Play
Information
Updates
Face Claims
Point Report
Shop
Opreg | 6/8, 10 AM - 8/8 √ Informasi lebih lengkap mengenai opreg dapat dilihat di sini. √ Baru bermain di SAD? Silakan baca panduan mendaftar di sini. √ Merasa postmu sudah cukup banyak? Klaim bonus 500 point kamu di sini! Tentu saja, baca ketentuannya lebih dulu, ya. √ Segala jenis pendaftaran di forum SAD dinyatakan sah jika telah diapprove oleh AKUN STAFF. Di luar itu, tidak sah. |
Quick News
Welcome to Another Dimension
SAD (Shinobi Another Dimension) merupakan forum roleplay 2D berbasis teks deskriptif bertemakan Naruto di dunia militer Jepang modern. Bergabunglah dengan kami dan rasakan kehidupan seorang Shinobi di balik bayangan!
Best RPer March 2016
![]() |
Summer/Fall 2017
Quota
KARAKTER SPESIAL
KLAN Census
|
| Selamat datang di Forum S A D kami berharap anda menikmati kunjungan ke forum kami. Sekarang anda sedang melihat forum sebagai pengunjung. Itu artinya anda memiliki keterbatasan menikmati fitur - fitur yang ada diforum ini secara lengkap. jika anda mendaftar ke forum kami, anda akan langsung terdaftar sebagai member kami dan dapat mengikuti RP bersama kami. Ayo bergabung! Jika anda sudah terdaftar sebgai member kami, silakan melakukan log in terlebih dahulu untuk mengakses profil anda. |
| [FFic] "Serius nih kita jadian?!" | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Wednesday, 5. February 2014, 21:33 (220 Views) | |
| Inuzuka Kira | Wednesday, 5. February 2014, 21:33 Post #1 |
![]() ![]()
|
STARRING Inuzuka Kirahara Senju Lavina Hyuuga Arata Uchiha Masaaki Kyoshiro Izumi Imahara Tsubaki Nara Haruto Kirishima Ame Aburame Touma GENRE Romance, Comedy SETTING Alternate Universe, School Life RATING PG15 PERHATIAN! Mohon maaf jika ada ke-OOC-an baik disengaja maupun tidak, coretan ga jelas, berikut kegilaan stadium tiga setengah. This is just for fun bro. "Mak, mimpi apa gue semalem?!" Ah—micnya nyala nggak nih? Tes satu dua tiga empat oke hidup... halo, ini Senju Lavina. Aku mau bercerita dikit soal kesan pertamaku pada salah satu teman sekelasku. Dalam seminggu pertama kami duduk bersebelahan sewaktu kelas 1, orang itu sering tiba-tiba memegangi rambutku tanpa sebab dan selalu senyum apapun yang terjadi. Oke ralat, sampai sekarang pun juga begitu. Ini Dewa juga kenapa cuek kali dengan kehidupan sekolahku yang kudu duduk bersebelahan dengan laki-laki agak aneh begini. Maksud hati ini ngomong langsung: Dewa sayang, tolong kasihani aku laaah. Sayang nggak pernah kesampean. Si aneh yang kubilang barusan adalah Inuzuka Kirahara. Dari sekian banyak makhluk hidup di bumi pertiwi—maksudku di kelas—kayaknya cuma rambutku yang paling sering jadi sasaran empuk pegangan tukang senyum satu itu. Yang menyebalkan adalah, dia main pegang rambut orang tapi cuma gitu doang, nggak ngajak basa-basi atau apa gitu. Nyatanya kami sendiri jarang berbicara langsung, padahal jarak kami hanya terpaut beberapa senti. Obrolan biasa nggak pernah berlangsung lebih lama dari semenit. Kalau megangin rambut mungkin iya. Bebek banget nggak sih. Kwek. ... Nasib jatoh kesenggol mobil terus kelindes kereta ekspres. Salah apa daku 2 tahun kebagian apes mulu dengan duduk bareng orang aneh macam dia? Seenggaknya aku pengen kayak Hyuuga Arata yang duduk di depan sana. Nasibnya sebelas-dua belas sama aku, bedanya di sampingnya ada Uchiha Masaaki. Uchiha Masaaki si idola sekolah saudara dan saudari sekalian—meski cueknya setengah idup. Oke nggak jadi, aku malah jadi kasihan sama ketua kelas satu itu. Selain nggak ngajak ngobrol, Masaaki akan memelototi siapapun yang menginjak batas wilayah teritorinya. Termasuk Arata. Berarti aku masih mending dong ya. ... —Kira-san, benar begini kan? “Iya Arata-chan, aku juga masih mengurus persiapan festival sekolah. Kau ada di mana—ah, dibooking dulu? Boleh.” Senju Lavina, gadis manis berambut pirang pendek sebahu yang barusan baca prolog, ceritanya sedang berusaha keras untuk menyempil di tengah-tengah lautan siswa-siswi sekolah Oke begini, lusa adalah festival musiman sekolah dan selayaknya murid normal mereka harus mempersiapkan segala sesuatu dengan hebohnya. Kebetulan acara puncaknya berlangsung di aula serbaguna. Biang kerok dari segala keramaian ini adalah sang ketua OSIS di sebelah sana—nona besar Kirishima Ame yang juga sibuk dengan toa di tangan. Aslinya suara pemilik rambut pink itu merdu indah nan cetar membahana, sayangnya toa setengah soak yang dipegangnya malah bikin jadi serak hebat. Alhasil ketika gadis itu berteriak macam begini— “Nara Haruto! Papannya kurang tinggi tuh!” —yang terjadi adalah suaranya jadi macam laki-laki tampan lagi sakit tenggorokan. Dan Lavina sekarang ini masih berusaha bagaimana caranya agar bisa sampai ke panggung demi bertemu sahabatnya si mbak ketua kelas. Si Hyuuga Arata yang juga merangkap sebagai siswi teladan karena multi-talent itu mendadak diminta ketua OSIS untuk mengisi acara puncak jadi ia mesti cek panggung biar nggak malu-maluin waktu tampil. Oh, penasaran dia main apa? Kayaknya sih cello. Eh nggak ding. Yang lebih kecil. Itu loh yang bodinya bohai. Apa itu namanya— Biola! Pokoknya, mereka janjian akan menghabiskan jam makan siang di kantin sekolah bersama-sama, membahas berbagai macam hal mulai dari yang umum sampai seprivat masalah cewek seperti biasa. Lumayan juga melepas stres sehabis mengurusi yang macam begini. Nah kita nggak mungkin membahas soal itu ... Di sisi lain, tampak seorang pemuda berambut coklat yang juga berjalan menuju panggung demi membantu salah seorang sohibnya menembak cewek pujaan hatinya. Dialah Inuzuka Kirahara, si aneh yang tadi disebut-sebut di prolog cerita. Si sohib yang dimaksud ini adalah Kyoshiro Izumi, kapten klub karate yang dikisahkan naksir anak klub teater berambut pink bernama Imahara Tsubaki. Berhubung karateka satu ini belum berpengalaman dalam perihal tembak-menembak cewek, jadi sebagai salah satu yang terdekat ia meminta tolong pada Kira untuk... ya, membantu. Lalu kenapa di panggung? Ya namanya juga anak teater, jadi si target—maksudnya, si Tsubaki, pasti lagi berkeliaran di atas sana dalam rangka gladi kotor atau apalah itu namanya. Sekarang tanggalnya lagi bagus, jadi Kyoshiro sama sekali tidak berniat membuang kesempatan yang ada. Toh kalau tanggal jadiannya oke gampang diingat. Bisa juga dibuat pamer ke anak-anak seangkatan. Dan anak ini sama sekali tidak tahu menahu bagaimana caranya menembak seorang cewek, bukan yang pake pistol—apalagi mengingat dia juga jomblo. Ngenes lagi. Selama ini dia dicap sebagai maniak rambut dengan kemampuan bicara di depan cewek di bawah rata-rata. Malem mingguan juga bareng anjing peliharannya mulu. Satu lagi—keahliannya adalah menata rambut. Bukan jadi mas comblang. Oke ini jadi ngaco. Tetapi karena dia semacam kasihan sama sahabatnya itu, jadi ia mencoba membekali diri dengan komik serial cantik rentalan sebelah rumahnya. Seenggaknya ia jadi nggak udik-udik amat kalau ditanya soal cinta-cintaan. Jangan salah prasangka bahwa Kira punya hobi menyimpang; anak ini normal. Kecuali masalah rambut. Ehem. Ya pokoknya kalau mengikuti pakem yang ada, cowok kalau mau nembak cewek tinggal bilang, ‘aku suka kamu. Mau nggak jadi pacarku?’ Gitu. “... keknya gampang juga.” Telepon genggam anak ini berbunyi tepat saat ia setengah kayang gara-gara kepalanya hampir disambar papan kayu yang dibawa oleh seorang pemuda berjambul bengkak. Kampret. Untung jantung sama kepala nggak copot berjamaah. Kira sempat tersenyum maksa saat si pelaku membungkukkan badan minta maaf walau sebenarnya itu semacam tidak perlu karena beresiko menimbulkan korban—oke, belum sedetik sejak Kira berpikir begitu dan lahirlah korban ketatap papan yang sudah dijamin akan mendapat hadiah benjol besar. Wadow. Itu pasti sakit. Eh Kira nggak mau terlibat. Jadi sebelum ia kena damprat plus hakiman massa anak ini bergerak pergi dari TKP dengan kecepatan macam becak kempes sambil mengangkat telepon yang sudah lama kena delay. “Yo. Hah, apa? Oh. Iya sori. Tadi ada masalah kecil. Lagi otewe nih. Siap salah bro, ini aula ramenya macam orang ngantri sembako gratis—ebuset!” Sekali lagi Inuzuka Kirahara mempraktekkan kepiawaiannya dalam menghindari serangan papan kayu dengan menunduk ganteng. Dan lima detik kemudian, ia pun kembali berdiri dan melanjutkan perjuangannya menembus Yang dari tadi pengen dia tanyakan sama bocah-bocah bau mentega itu adalah: itu papan kayu buat apaan, nabokin orang? Dua orang yang sama-sama sedang asyik menelpon itu bergerak mendekati satu sama lain dengan tujuan akhir adalah panggung utama aula. Yang cewek, masih berjuang di tengah suasana penuh desak; dan yang cowok—oke, sama juga berdesakannya cuma yang ini lebih parah karena kayaknya dia salah ambil jalur dan berakhir di lintasan orang-orang pengangkut papan kayu. Belum lagi suara teriakan mbak ketua OSIS yang menggema di seisi aula, menambah keributan dan keramaian dari tempat yang pada dasarnya sudah ramai itu. ... “Eh, boleh minta tolong bilangkan ke Ame-chan—bisa kecilin suaranya dikit aja? Hah? Omurice?” “Iya bro, iya. Sabar, nggak kedengeran nih. Suruh si pink itu diem dong! Ha? Pink yang mana? Yang lagi pake toa di sana lah!” “Jadi kau juga disambi mengurus tata panggung? ... kalau begitu tambahannya nggak jadi pancake, aku mau es krim sundae saja.” “Demiapa di dalam sini bikin frustasi. Kerasin dikit napa suaranya? Serius nggak kedengeran—apa? Cara nembaknya?” “Lho, habis? Apa ya, es krim scoop vanilla enak juga sepertinya. Eh? Ada wafel?” “Siapapun yang kebagian mengurus dekorasi panggung—itu lampu hias jangan digeletakkin gitu dong!” “Set dah, telinga gue kasian amat. Itu si Ame sarapan pake apa sih, speaker ya? Hah? Masih nggak kedengeran juga? Sekarang gimana? Nih ya, kalau mau nembak bilang aja—” “Panggilan kepada Aburame Touma dari kelas 11-A. Diulang, Touma kelas 11-A. Sound System-nya udah bener belom?” “Serius, Arata-chan, suaramu nggak jelas. Eh, dikerasin? Kalau sekarang kedengeran? Apa? Wafelnya pake es krim juga? Astaga,—” ... “—aku suka kamu! Mau nggak jadi pacarku?” “—mau banget!” Hening. ... “Eh?” Si cewek rambut pirang dan si cowok rambut cokelat kini bertemu persis di depan tangga naik menuju ke tengah panggung. Keduanya masih memegang telepon genggam masing-masing sambil melihat satu sama lain bingung. Lalu bagaikan adegan film yang dipause mendadak, seisi aula spontan diam berjamaah dan seketika itu pula mereka berdua mendapat hadiah tatapan serempak plus cengiran aneh dari seluruh penjuru aula. Oke, kayaknya Kira dan Lavina masih belum paham situasinya. Koneksinya lagi lemot kuadrat, maklum di luar hujan deres. Apa-apaan nih. Lavina, dengan polosnya, memandangi pemuda di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebelah tangannya yang memegang ponsel sama sekali tidak bergerak. Barusan Kira ngomong apa? Jadi pacarku? Eh, jadi pacarnya Kira? Kira, dengan bodohnya, memandangi gadis di depannya sambil melongo ganteng. Tangannya yang megang telepon genggam juga tidak bergerak. Barusan Lavina bilang apa? Mau banget? Eh, dia bilang mau? Hening lagi. “Kira jadian sama Lavina!” ... Jidat Kira berkerut. Lavina menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Siapapun yang teriak barusan—mereka nggak salah denger kan? Bagai baru saja dapet undian motor bebek masing-masing satu, seisi aula tetiba ricuh kembali macam pasar kejut. Di pojok sana, adek kelas udah pada suit-suit nggak jelas. Di pojok lain, kakak kelas malah cie-ciean. Ada pula yang nyeletuk ‘selamat tahun baru!’ dan berjingkrak di sana. Oke yang itu agak kelainan. Eniwei, di atas panggung, Arata dan Kyoshiro yang sama-sama pegang ponsel juga semacam speechless. Kehabisan kata-kata untuk berkomentar. Tidak, lebih tepatnya mereka juga masih bingung apa yang sedang terjadi. Untung ada sesi tayang ulang. Kira ngasih contoh gimana cara nembak cewek ke Kyoshiro. Lavina tadi mesen wafel pake es krim buat hidangan penutup sama Arata. Terus mereka hadep-hadepan. Kalimat kepotong—yang secara kebetulan nyambungnya pas satu sama lain. Oke, kesimpulannya— —mereka jadian? “Tunggu. Berarti aku—” “—pacaran—” “—sama—” “—kamu?” ... “Serius?!” Langsung saja dua manusia ini kalap. Bedanya yang cewek lebih anteng—bleh, nggak juga. Sama kacaunya. Mimpi apa mereka semalem terlibat kejadian macam gini. Ini konyol, serius, lebih konyol dari telenovela India. Kurang adegan joget muter-muter. Oke sebentar, India punya telenovela? Ngek. “Kir, pejenya traktirin se-aula ya...” FIN |
![]() Ava © Shinozuka Ali | Sig © Hyuuga Arata | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
|
|
Thursday, 6. February 2014, 08:11 Post #2 |
![]() ![]()
|
ini kocak sekaligus manis di saat bersamaan cara jadiannya unik banget ~ c: ... Ame-san kelihatannya garang ya xD #heh |
![]() Lovely siggy by Kyoshiro Izumi-kun ♡ | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| Senju Yume | Sunday, 9. February 2014, 12:09 Post #3 |
![]()
|
Astaga! Serius deh! Ini so sweet banget! cara jadiannya lucu bener deh. haha suka banget ama nih ffic. |
| |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
![]() Join the millions that use us for their forum communities. Create your own forum today. Learn More · Register for Free |
|
| « Previous Topic · Fanfiction · Next Topic » |



Osaka




Hokkaido
