SHINOBI
Another Dimension
シノビー・アナザー・ディメンション

4.2 | Fade to Black
Tragedi Osaka Lautan Api hampir terulang di tengah pertarungan Kurokage Hyouka melawan Kirishima Ame dan para perwira Osaka. Namun kehadiran sesosok yang tak terduga, Hasegawa Gyuuki, berhasil menyelamatkan sang Jendral Osaka berikut perwiranya. Apa maksud dari kedatangan Gyuuki di sana? Apakah ia menjadi sekutu dari Osaka, atau justru lawan bersama-sama dengan Kurokage Hyouka?

Di sisi lain, pihak Tokyo berhasil melakukan aliansi dengan Iwate dan Kyushu demi mengungkap segala konspirasi yang tengah terjadi. Hal tersebut tidak mudah khususnya mengingat Inuzuka Chika, Taishou Kyushu, baru menjabat menggantikan Hyuuga Arata yang telah dinyatakan meninggal dunia. Sementara di Hokkaido, Yuki Hatsuki kedatangan dua tamu yang mengaku sebagai shinobi Tokyo. Salah satunya adalah wanita yang hendak mengembalikan jasad Uzumaki Yukio yang tewas terbunuh setahun silam. Bagaimana Taishou Hokkaido menghadapi kabar tersebut?
Welcome Guest [Log In] [Register]
Opreg | 6/8, 10 AM - 8/8

√ Informasi lebih lengkap mengenai opreg dapat dilihat di sini.

√ Baru bermain di SAD? Silakan baca panduan mendaftar di sini.

√ Merasa postmu sudah cukup banyak? Klaim bonus 500 point kamu di sini! Tentu saja, baca ketentuannya lebih dulu, ya.

√ Segala jenis pendaftaran di forum SAD dinyatakan sah jika telah diapprove oleh AKUN STAFF. Di luar itu, tidak sah.

Quick News
Welcome to Another Dimension
SAD (Shinobi Another Dimension) merupakan forum roleplay 2D berbasis teks deskriptif bertemakan Naruto di dunia militer Jepang modern. Bergabunglah dengan kami dan rasakan kehidupan seorang Shinobi di balik bayangan!

Registrasi term IV akan dibuka pada tanggal 6 Agustus 2016 pukul 10.00 WIB.
Best RPer March 2016
Summer/Fall 2017
Quota
KARAKTER SPESIAL
  • Kewarganegaraan ganda: (1/2)
  • Anggota keluarga kekaisaran: (0/1)
  • Pasangan Kembar: (0/1)
  • Citizen: (4/10)

  • KLAN
  • Aburame: (4/11)
  • Akimichi: (3/11)
  • Hyuuga: (10/11)
  • Inuzuka: (7/11)
  • Kaguya: (6/11)
  • Nara: (7/11)
  • Senju: (11/11)
  • Uchiha: (11/11)
  • Uzumaki: (11/11)
  • Yamanaka: (7/11)
  • Yuki Clan: (10/11)
  • Census
    Tokyo 11 | 02 20 | 00 25 | 02
    Hokkaido 09 | 01 16 | 01 25 | 02
    Kyushu 12 | 01 12 | 03 25 | 04
    Iwate 15 | 00 09 | 00 24 | 00
    Osaka 14 | 01 09 | 02 23 | 03
    Kyoto 13 | 00 10 | 00 24 | 00

    Jumlah Shinobi | Jumlah Citizen

    Selamat datang di Forum S A D kami berharap anda menikmati kunjungan ke forum kami.


    Sekarang anda sedang melihat forum sebagai pengunjung. Itu artinya anda memiliki keterbatasan menikmati fitur - fitur yang ada diforum ini secara lengkap. jika anda mendaftar ke forum kami, anda akan langsung terdaftar sebagai member kami dan dapat mengikuti RP bersama kami.


    Ayo bergabung!


    Jika anda sudah terdaftar sebgai member kami, silakan melakukan log in terlebih dahulu untuk mengakses profil anda.

    Username:   Password:
    [Ffic] Merah dan Biru
    Topic Started: Sunday, 9. February 2014, 11:13 (278 Views)
    Senju Yume
    Member Avatar


    Pair: Yuki Hatsuki x Senju Yume
    Hanya selingan, bukan untuk event



    Apa ya? Bego, bodoh, tolol, sinting, gila, atau campuran kesemuanya? Serius deh? Demi apa coba, masih sepuluh tahun tapi kedua orang tuanya sudah menjodohkannya. Bayangin, di malam hari saat seorang anak yang menyambut kepulangan orang tua dengan pelukan rindu, Yume lain lagi. Ayahnya pulang dan langsung to the point ngomong “Ayah akan menjodohkanmu.” Ekspresi Yume, jangan ditanya deh. Hampir saja dia ngomong “Sumpeh lu? Ciyus miapah?” kalau tidak ingat siapa yang berdiri di hadapannya.

    Oke deh, dijodohin bukan masalah yang begitu serius. Mau tidak mau, suka tidak suka, Yume tetap harus menerima keputusan kedua orang tuanya untuk dijodohkan. Tapi bukan itu masalahnya. Siapa yang mau dijodohin ama seonggok, eh, sesosok janin!? Janin! J-A-N-I-N. Itu loh, benda yang meringkuk di dalam perut ibu. Demi bonsai kakek senju, orang yang dijodohkan dengannya bahkan belum menatap dunia. Sinting, bukan?

    Bagi Yume, ayahnya sudah sinting. Pernah sekali Yume bertanya pada ayahnya tentang keputusan aneh – jika tidak mau dikatakan gila – ini. Setidaknya memikirkan baik-baik terlebih dahulu. Tapi pemimpin keluarga Matsumoto itu tetap ngotot. Berdasarkan USG, janin 8 bulan itu sudah dipastikan seorang laki-laki. Yaelah, itukan alat. Siapa tau yang keluar bukan laki-laki? Masa dia harus bertunangan seorang – eeeuuuuh!

    Bukan hanya bertanya, tapi Yume juga meminta untuk penundaan perjodohan atas alasan umur. Terpaut sepuluh tahun loh, bayangin! Apa kata dunia kalau mereka tahu Yume tunangan dengan seorang batita yang masih pakai popok dan berak sembarangan. Serius, itu menjijikkan. Jangan sampai, deh. Setidaknya sampai tunangannya ini dewasa, kek. Kan ada peluang untuk berubah pikiran, strategi yang bagus, bukan? Tapi ucapan ayahnya membuatnya jadi tampak seperti ikan yang kehabisan air. Megap-megap.

    “Ayah sudah menandatangani kontrak, nak. Jadi pertunangan tidak bisa dibatalkan.”

    Sudah jatuh ketiban tangga bukan lagi perumpamaan yang tepat untuknya. Tapi ‘Kesenggol bajaj, ketabrak sedan, dan terlindas truk.’ Bayangin aja semuanya rasanya dijadikan satu. Hidupnya hanya berupa selembar kertas kontrak saham. Nyesek, miris, ironi di atas ironi.

    Sembilan bulan saat waktu kelahiran, Ayahnya mondar-mandir bak setrikaan listrik di depan pintu ruang bersalin. Ibunya tidak berhenti merapalkan mantra doa untuk keberhasilan persalinan. Dan Yume duduk dengan gelisah di kursi tunggu. Dia benar-benar gelisah memikirkan dua hal.Pertama, tunangannya akan segera lahir. Itu artinya dia tidak akan single lagi, tidak bisa lirik-lirik cowok tampan lagi. Kedua, nasib orientasi seksualnya bergantung pada gender si bayi (bukan berarti orientasinya gak jelas loh). Oke, meski sudah diketahui melalui alat kalau si bayi adalah laki-laki, tapi tetap saja Yume was-was. Bagaimana kalau tiba-tiba Tuhan berubah pikiran lalu menyulapnya jadi perempuan saat mau dilahirkan? Masa dia harus tunangan lalu menikah dengan wanita!? Demi apapun di dunia ini, dia tidak mau jadi lesbi!

    Ketika pintu ruang bersalin terbuka, dan seorang dokter keluar. Hidupnya dan orientasinya bergantung dari kata-kata yang keluar dari mulut si dokter. Tanpa sadar, gadis itu menahan napas. Dan hembusan napas lega meluncur dari mulutnya saat dokter berkata “Anak laki-laki yang sehat”. Dalam hati Yume bersorak senang. Dia tidak akan lesbi. Eh—tunggu! Kenapa dia malah bersorak?

    Setelah ruangan nyonya Shirakawa dipindahkan, Yume bisa melihat bayi yang tertidur dalam ranjang khusus di samping ranjang nyonya Shirakawa. Ada name tage bertuliskan ‘Shirakawa Hatsuki’ yang tertempel di dinding kaca. Dan Yume nyaris menangis saat melihat si bayi yang terlelap.

    Aku dijodohkan dengan cowok berkepala botak!
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    Arata
    Member Avatar

    DEMIAPAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA--ehm. Jangan khawatir Yume-neesama, bocah botak tukang berak itu sekarang udah jadi boyband lelaki berperawakan tinggi nan tampan. Gak nyesel udah dijodohin 'kan? Apalah arti sepuluh tahun kalo Yume-neesama mungil dan babyface. /blush3

    Oke salah fokus.

    Agak melenceng dari perkiraan, tapi ffic buatan Yume-neesama emang selalu menghibur. =)) =)) Suka pokoknya lah. <3 <3
    ________________________

    and I know that I am d e a d;

    if i t o u c h a burning candle i can feel no p a i n
    if you c u t me with a knife its still the s a m e


    Posted ImagePosted ImagePosted Image
    OFF Profile Quote
     
    Senju Yume
    Member Avatar


    HAHAHAHA aku suka kalimat arata: 'Bocah Botak Tukang Berak'. julukan baru buat Hatsuki nih. haha
    menyesal gak ya? fufu

    makacih udah mampir *cokimut
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    Yuki Hatsuki
    Member Avatar


    /swt

    Kalian juga bocah botak tukang berak ketika baru lahir... /huaa!
    Tapi beneran keren. Yume-nee bisa bikin yang lucu juga *standing applause*
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    Senju Yume
    Member Avatar


    Lanjutan...
    Kali ini serius!


    “Yume-nee!”

    Yume terus berjalan tanpa mengurangi kecepatan langkah kakinya. Tidak peduli pada seorang bocah yang berusaha mengejarnya dengan sepasang kaki mungilnya. Dan ketika suara debuman terdengar dari belakang, Yume berhenti melangkah. Menghembuskan napas dan kedongkolan terasa di lehernya.

    Oh, what a great day! Thanks, Kami-sama.

    Yume berbalik dan dengan malas menghampiri seorang bocah bersurai biru gelap yang sedang berlutut, berusaha berdiri. Ini masih pagi dan dia sudah harus berurusan dengan seorang bocah 7 tahun! Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuan dan Nyonya Matsumoto yang memaksanya untuk mengantar bocah ini ke sekolah. Dan kalau bukan karena Tuan dan Nyonya Shirakawa yang sangat baik padanya, sudah ditendangnya bokong putra Shirakawa ini.

    Suara sesenggukan terdengar, dan bisa ditebak selanjutnya bocah itu menangis. Langsung saja si dongkol ini membengkak di lehernya. Demi apa, dia harus mendengar tangisan seorang bocah di pagi yang cerrah nan indah ini. Dan hellooo sudah 7 tahun tapi masih saja menangis? Tunangan macam apa dia ini? Dari sosok bocah botak tukang berak berevolusi menjadi bocah ingusan tukang mewek. Saat itu juga Yume harus memaksa ayahnya untuk berpikir sekali lagi untuk menghentikan pertunangan konyol ini.

    Dan saat itu juga perutnya terasa ngilu serasa di tonjok. Yume ingat, ayahnya sudah menandatangani kontrak perjodohan yang tidak bisa dibatalkan. Jadilah dia seorang tunangan merangkap sebagai babysitter dari Shirakawa Hatsuki.

    “Astaga, kau itu cowok tapi jatuh dikit aja sudah nangis.” Keluhnya menarik paksa tangan Hatsuki hingga bocah itu berdiri.

    Dengan sangat-sangat-sangat terpaksa, Yume menggandeng tangan Hatsuki. Gadis itu mendesah lega saat tidak ada lagi suara isakan terdengar, yang berganti menjadi senandungan. Hatsuki bersenandung senang, mengayunkan tangan mungilnya yang digenggam dengan ogah-ogahan oleh Yume. Harga diri coy. Gadis manis 17 tahun mana yang jalan bergandengan bareng bocah 7 tahun? Syukur-syukur kalau dikira kakak-adik. Kalau dikiranya majikan dan babysitter? Euuh!

    Sampai di depan gerbang sekolah dasar, Yume segera melepas tangan Hatsuki. Baru saja gadis itu beranjak pergi, tiba-tiba saja Hatsuki memeluk pinggangnya. Hei! Apa-apaan nih? Bocah mesum! Sekuhara! Hatsuki terkekeh, mengangkat wajahnya, menatap Yume dengan kedua iris lebarnya yang berbinar.

    “Arigatou, Yume-nee.” Yang tadinya hendak memberontak untuk melepaskan diri, paling tidak dengan beberapa tendangan untuk si bocah Shirakawa ini, namun gadis itu mematung. Senyum lebar bocah itu membuat kedua alisnya terangkat. Agak ragu sih, tapi Yume mengangkat sebelah tangannya mengelus surai biru gelap itu.

    “Nah, masuk.” Yume melepaskan pelukan Hatsuki dan mendorong bocah itu. Hatsuki berlari masuk ke gedung sekolah, tapi tidak lupa berbalik dan melambaikan tangan dengan semangat. Yume mengangkat tangan dan melambaikan pelan.

    Manis juga tuh bocah.

    Eh? —Apa? Aku pasti sudah gila.
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    Yuki Hatsuki
    Member Avatar


    Udah updet... /matalope

    Dan... dan... oh my... *bayangin Ichinose Tokiya masih 7 tahun menatap dengan kedua iris lebarnya yang berbinar, trus...trus melambaikan tangan dengan semangat*
    .
    .
    .
    /imdead
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    Izumi Kyoshiro
    Member Avatar
    Tokyo No Taishou

    cieee... dah mulai ada ketertarikan
    H O P E
    Posted Image
    Aku masih ingin hidup, banyak yang harus kulakukan, banyak yang harus kuraih, banyak yang harus ku pertahankan. Hidupku harus berlanjut.
    Signature by Uchiha Ayuka

    OFF Profile Quote
     
    Senju Yume
    Member Avatar


    Selingan yang serius....


    “Apa yang kau lakukan, hah!?”

    Yume menutup telinga mendengar suara Aki yang berteriak tepat di depan mukanya. Jangan lupa hujan lokal yang tersebur di wajahnya. Jika bukan karena wajahnya yang tampan, sudah dipastikan pemuda itu menerima gamparan bolak-balik. Dan hello, ini masih pagi, tapi Aki sudah berteriak-teriak. Sarapan apa sih tuh anak? Semangkuk gula ya? Semangat banget.

    “Kau mengecat rambutmu menjadi—menjadi—itu!?” Aki menolak menyebut kata itu, seolah warna itu terlarang untuk mulutnya. Bisa dilihat jelas manik cokelat itu menatapnya tidak percaya bercampur jijik. Yume menyentuh rambutnya yang di highlight merah muda. Ya, merah muda! Pink!

    Agak ragu, gadis itu menyisir surainya yang tergerai. “Tapi bagus, kan?”

    “Bagus mata lu soek! Norak tauk!”

    Dalam hitungan detik, Aki sudah terjatuh dengan kedua tangan yang menyentuh selangkangan. Ya, Yume menendang selangkangan pemuda itu tanpa belas kasih. Gadis itu menghentakkan kaki dan melenggang ke luar kelas, meninggalkan Aki yang sudah menjerit layaknya seorang gadis. Dan seisi kelas, khususnya cowok yang langsung menyentuh selangkangan mereka, mengambil satu kesimpulan:

    Jangan pernah menyebut kata Norak di depan Matsumoto Yume jika ingin selangkangan mereka selamat.

    “BakAki!” desisnya. Hentakan kakinya di sepanjang koridor terdengar hingga menarik perhatian siswa lainnya. Jangan lupakan surai merah muda yang berkibar, yang membuat tiap pasang mata membelalak tidak percaya melihatnya. Bahkan Yume bisa dengar jeritan kecil “Pink!”. Tapi gadis itu tidak peduli. Dia tetap melangkah dengan cepat hingga membelok ke dalam toilet.

    Yume bisa melihat pantulan dirinya dicermin. Putih matanya nyaris sewarna dengan kedua irisnya. Terasa perih karena ingin menangis, tapi sejak tadi Yume terus menahan agar air matanya tidak menitik. Yume menutup wajah dengan kedua tangan, terus mengumpat dengan berbagai macam hinaan dan makian kepada sahabat berdarah campuran itu. Untungnya toilet sedang kosong.

    “Aki bodoh!”

    Sebenarnya, bukan tanpa alasan Yume mengubah warna rambutnya menjadi warna senorak ini. Ada cerita di balik itu. Beberapa hari yang lalu, Aki mengajaknya jalan ke pusat perbelanjaan. Katanya, pemuda itu sedang bosan. Dan tiba-tiba saja, pemuda itu nyeletuk sewaktu melihat seorang wanita sedang bercosplay. “Lihat deh, rambutnya merah muda. Lucu.”

    Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya Yume mengorbankan rambut hitam legamnya dan menggantinya menjadi merah muda. Dia bahkan rela menerima amarah dan nyaris digampar Tuan Matsumoto hanya agar Aki menyebutnya lucu. Tapi voila!, pemuda tidak peka itu malah menyebutnya norak.

    “Ugh!” Yume mengerang kesal dibalik kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya.

    Saat menatap kembali dirinya dicermin, menatap surai merah mudanya yang berkilau, bayangan kejadian beberapa menit yang lalu kembali terlintas. “Norak, eh?” gadis itu tertawa, tapi tetap saja dadanya terasa seperti terhimpit. Sesak.

    Aki memang selalu seperti itu padanya. Mereka memang dekat, sangat dekat malah. Tapi, jangankan pujian verbal, pemuda itu tidak pernah sekalipun bersikap manis padanya.

    Tidak kah pemuda itu sadari, Yume rela mengorbankan rambutnya hanya demi satu pujian dari Aki?
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    Senju Yume
    Member Avatar


    Bagi Aki, ditendang di selangkangan jauh lebih baik ketimbang didiamkan seperti ini oleh si gadis bermata merah, Matsumoto Yume. Aki sudah terbiasa dengan segala serangan fisik yang sering diterimanya dari Yume ketika gadis itu marah. Bukan berarti dia Masochist loh. Hanya saja, pemutusan komunikasi secara sepihak ini membuatnya benar-benar nelangsa. Yume tidak pernah melakukan serangan seperti ini padanya.

    Sementara bagi Yume, gadis itu berpikir untuk tidak berbicara pada Aki selama sehari ini. Dia perlu menangkan pikirannya yang kalut. Dia tidak ingin melakukan kontak apapun, verbal maupun non verbal, pada pemuda blasteran itu. Jangan sampai pemuda itu kembali memancing amarahnya untuk kesekian kali dan kembali menendang selangkangan Aki. Tendangan pertama mungkin oke-oke saja, tapi Yume tidak menjamin pada tendangan kedua pemuda itu bisa selamat.

    Sejak kembali dari toilet, sejak kakinya menginjak ruang kelas, Yume mulai melakukan aksi perang dingin. Gadis itu langsung menuju ke kursinya, duduk dengan tenang, memandang keluar. Bersikap seolah ia tuli. Tidak peduli pada bisik-bisik yang ia tahu ditujukan padanya, tepatnya pada rambut ngejrengnya. Aki langsung menuju bangku Yume ketika melihat gadis itu berada di sana. Langsung saja ia menangkap gelagat yang aneh ketika Yume menolak untuk memandangnya. Dan seratus persen mengacuhkannya.

    Dan entah pikiran dari mana, Aki malah berkata “Itu tadi… tendangan yang bagus.”

    Demi apa, kenapa malah kalimat itu yang keluar. Dia malah terdengar seperti meminta satu tendangan lagi. Membuatnya makin terdengar seperti seorang Masochist. Tamat sudah karir Aki sebagai pemuda-tampan-dan-populer, berganti menjadi pemuda-masochis-yang-minta-ditendang. Tapi dia berhasil menarik perhatian Yume, meski cuma lirikan sedetik. Setelah itu, gadis itu kembali membuang muka.

    Sepanjang sekolah, Yume berpura-pura menulikan pendengaran ketika Aki berbicara padanya, melewati Aki begitu saja ketika pemuda itu berusaha menarik perhatiannya, dan menepis, seperti menepis lalat, segala kontak fisik yang Aki berikan. Yume benar-benar menganggapnya totally invisible.

    Dan Aki benar-benar merasa bersalah.

    “Hei, aku minta maaf.” Tidak ada nada menggoda atau main-main. Kali ini Aki berbicara dengan suara rendah, serius, namun terselip permohonan. Yume melirik sekilas, menangkap tatapan rasa bersalah di kedua manic coklat itu. Namun kembali fokus untuk mengenakan kedua sepatunya.

    Tanpa menanggapi ucapan Aki, memperbaiki posisi tas di bahunya, Yume berbalik dan berjalan pergi. Meninggalkan Aki yang semakin nelangsa. Sungguh, kemarahan kali ini sangat mengerikan. Aki berlari mendahului Yume dan berhenti di depan gadis itu. Aki ingin menahan kedua bahu Yume, namun ragu mengingat gadis itu selalu menepis tangannya. Tapi sepertinya dia tidak perlu menahan gadis itu. Kali ini ia berhasil menarik perhatiannya. Yume menatapnya datar dengan kedua manik merah yang terlihat kelam di bawah bayangan senja.

    “Aku benar-benar minta maaf, sungguh.”

    Yume bersedekap, mengetukkan jemarinya di lengan atas. Dan Aki tahu sikap seperti itu. Secara tidak sadar Aki menelan ludah. Dia tidak takut. Kan?

    “Aku serius. Aku benar-benar minta maaf untuk—“

    Sekali lagi dia harus menelan ketakutan ketika gadis itu masih tidak memberikan respon apapun. Kedua manik merah itu malah terlihat seperti menelanjanginya, merobek tubuhnya dan menarik keluar ketakutannya. Hei, dia laki-laki. Masa takut dengan tatapan seperti itu?

    “Untuk?” Yume membuka suara, kedua maniknya memicing tajam.

    Oke, dia takut.

    “Un—Untuk itu, untuk ucapanku padamu. Aku tidak bermaksud.” Perlahan Aki melepaskan kedua tangan Yume yang bersedekap dan menggenggam kedua tangan itu. “Tolong jangan perang dingin lagi. Jangan anggap aku tidak ada. Kau sahabat terbaikku, mencuekkanku seperti ini sangat menyakitkan. Jadi, maafkan aku. Please.”

    Secepatnya ia menambahkan “Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji.”

    Keheningan merajai. Yume sebenarnya masih kesal dengan Aki. Ia tidak kesal pada ucapan Aki yang mengatakannya bahwa matanya soek atau ia norak, tapi pada ketidakpekaan pemuda itu. Apa pemuda itu tidak menyadari alasan dibalik perubahan besar yang dilakukan Yume? Perubahan yang membuatnya mengorbankan mahkota hitamnya, perubahan yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan satu hal kecil dari pemuda itu. Satu hal yang seharusnya pemuda itu sadari sejak dulu.

    Kedua manik merah itu menatap sepasang manik coklat yang menatapnya dengan penuh penyesalan dan permohonan. Dan ia menyadari, ia tidak akan pernah mendapatkan satu hal yang diinginkannya dari pemuda itu. Ia hanya akan mendapatkan gelar 'sahabat terbaik Aki', gelar yang tidak pernah berubah dari dulu.

    Sedetik kemudian helaan berat meluncur dari mulut Yume. Ia menarik kedua tangannya dari genggaman Aki. “Baik, kumaafkan.”

    “Yess!” Aki melompat senang sekali lagi berteriak yes dengan tinju di udara. “Kau memang sahabat yang baik.”

    Yume memutar mata. Sahabat, eh?“Tapi dengan satu syarat.”

    Karena terlalu girang, pemuda itu tanpa basa-basi berkata “Sip, apapun!”

    “Aku mau parfait jumbo special di toko dekat stasiun.”

    “Tentu saja, kita bisa ke sana sekar—“

    “Setiap hari selama tiga bulan.”

    “Apa!?”

    “Kau sudah menyutujuinya, ingat?”

    “Tap-tapi, setiap hari? Yume, ayolah, kau sendiri tahu berapa harganya, bukan? Sama dengan dua kali jatah makan siangku!”

    Sekali lagi Yume harus memutar mata tidak peduli. Ayolah, Aki itu orang kaya. Untuk segelas parfait jumbo special tidak akan menguras dompetnya.

    “Tidak ada tapi-tapian.” Ucap Yume, berjalan melewati pemuda yang kembali mengalami nelangsa untuk kedua kali.

    Aki berbalik, mengejar Yume dan kembali melakukan hal yang biasa ia lakukan. Merangkul pundak gadis itu. “Bagaimana kalau parfait ekstra kiwi? Itu enak loh.” Kali ini Aki ingin melakukan tawar menawar. Berharap makan siangnya bisa selamat.

    “Tidak.”

    Terkadang dia membenci sikap keras kepala dari si gadis ini. Apa merah muda membuat sifatnya makin keras kepala? “Kalau yang ekstra pisang dan strawberry? Katanya enak loh, kau kan suka strawberry.”

    “Tidak.

    Sial. “Bagaimana kalau buatanku? Enak loh…”

    “Tidak.”

    “Bagaimana kalau bu—bffp—ugh!” Aki bisa merasakan tinju diperutnya. Pemuda itu langsung saja jatuh bersujud, bergetar menahan sakit. Siaaaaaaaaaaal!

    “Kalau kubilang tidak, Tidak. Titik.” Dan tanpa rasa bersalah, Yume kembali berjalan. Dia berhenti lalu berbalik. “Apa yang kau lakukan di sana? Jangan mencium tanah, BakAki. Aku sudah tidak sabar untuk makan.”

    “Ugh—salah siapa coba. Sial. Cewek tapi tenaga badak.” Geramnya.

    “Apa kau bilang?”

    “Aku tidak mengatakan apapun!” serunya, segera berdiri. Jangan sampai serangan kedua melayang ke perutnya.

    “Ayo.” Yume berbalik dan berjalan pergi.

    Tanpa sepengetahuan Aki, Yume tersenyum geli. Sesekali menjadi sangat egois tidak apa, kan?
    [edit_reason]-[/edit_reason]
    Edited by Senju Yume, Sunday, 16. March 2014, 11:07.
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    Senju Yume
    Member Avatar


    Sebulan berlalu, keadaan tidak berubah. Yume tetap mempertahankan warna ngejreng di rambutnya, menjadikan pengingat untuk tidak berbuat bodoh lagi, untuk berpikir berkali-kali sebelum mengambil keputusan. Aki masih tidak berubah, kepekaan pemuda itu masih berada di level terendah, nol. Hasilnya, Yume terjebak di dalam status yang paling tidak mengenakkan di dunia. Friendzone. Dengan semua kontak fisik yang mereka lakukan, rasanya seperti merasakan tonjokan di perut berkali-kali.

    “Rasanya melelahkan. Ingatkan aku untuk tidak mendapatkan nilai rendah lagi.” Yume menggerutu, memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sekolah dengan kasar. Dia baru saja mengikuti kelas tambahan hanya karena nilainya berada satu angka di bawah standar.

    “Dan ingatkan aku untuk tidak menemanimu lagi mengikuti kelas tambahan. Ini neraka sekolah!” Seru Aki hiperbolis.

    Menemani. Satu lagi tonjokan tak kasat mata mendarat di perut Yume. Satu hal yang paling dibenci namun tidak bisa ditolaknya adalah perhatian Aki. Yume terkadang merasa kesal jika pemuda itu memberikan perhatian tidak langsung padanya, namun dia juga merasa candu dengan segala hal itu. Dia merasa telah terjebak di dalam lingkaran setan. Ya, Aki si setan sialan.

    “Huffth—aku ingin parfait jumbo ekstra.” Helanya.

    Oh, ada satu hal yang berubah dari Aki. Pemuda itu menjadi lebih sensitif dengan kalimat ‘Parfait Jumbo Ekstra’. Baru saja dia hendak berjalan keluar, telinganya menangkap tiga kata sakral. Dengan cepat dia berbalik.

    “Wow. Tunggu dulu, tunggu dulu. Janjiku sudah berakhir sejak kemarin, ingat? Jangan minta aku mentraktirmu lagi.”

    Yume mengibaskan tangan. Serius deh, dia tidak mengatakan nama pemuda itu, bukan? “Aku tidak memintamu untuk mentraktirku kok.” Ucapnya, lalu berjalan melewati pemuda itu keluar dari kelas.

    Aki mengikuti langkah si gadis bersurai merah muda di belakang. “Serius deh, bagaimana bisa kau suka makan benda itu? Kau bisa saja jadi gemuk.”

    Yume terkesiap lalu berbalik dengan pose menantang, tangan di pinggang dan mata yang lebar. Aki ini benar-benar tidak peka, ya? Tidak tahukan dia betapa sensitifnya seorang gadis dengan kata’gemuk’? “How could you! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu di depan seorang gadis. Kau mendoakanku menjadi gemuk?”

    Karena kejadian sebulan lalu, Aki refleks menutup selangkangan dengan kedua tangannya. Jangan sampai sepatu itu mendarat di sana, lagi. “Err—aku tidak bermaksud mendoakanmu. Maksudku, sesekali berhentilah makan itu. Kau sudah makan selama sebulan dan kau tidak bosan sedikit pun.”

    “Aku menyukainya, mana mungkin aku bosan. Bodoh.”

    “Yeah, yeah, aku memang bodoh. ” Aki memutar mata, lalu menyeringai. “Setidaknya aku tidak cukup bodoh untuk mengikuti kelas tambahan.”

    Sekali lagi Yume terkesiap. Dari pose menantang, berganti menjadi bersedekap. Pipinya menggelembung karena kesal. “Ugh—aku tahu aku bodoh.”

    “Yah, kau memang bodoh.”

    “Aku memang orang bodoh.”

    Yes, you are

    “Saking bodohnya aku malah menyukaimu.”

    “Apa katamu?”

    “Hah?”

    “Tadi apa katamu?”

    Sial. Keceplosan.

    Aki perlahan mendekat. “Tadi kau bilang—“

    “Aku tidak mengatakan apapun!” Kilah Yume. Gadis itu segera berbalik, menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Dia tahu sekarang rona wajahnya sama dengan warna rambutnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Sial, kenapa malah keceplosan.

    “Hei!” Aki menyentuh pundak Yume, menarik paksa gadis itu untuk berbalik. “Aku dengar. Kau bilang kau menyukaiku.”

    Astaga. Yume benci dengan karakter Aki yang tidak pandang bulu dalam berbicara. Pemuda itu bahkan tidak ragu saat mengatakan ‘Kau bilang kau menyukaiku’. Tidak tahukah dia, si gadis bersurai merah muda ini sudah hampir mengalami hipertensi saking tingginya tekanan darahnya saat ini? Yume bisa mendengar suara jantungnya yang nyaris meledak.

    “Tidak. Aku tidak mengatakan apapun.” Sekali lagi Yume berkilah, kali ini dengan tambahan gelengan dari kepalanya yang menunduk malu.

    “Jangan bohong. Kau pikir aku tuli?” Aki menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Perlahan mengangkat wajah itu untuk menatap sepasang buah ceri di mata si gadis. Aki juga bisa melihat wajah merona Yume, ekspresi yang sangat langka untuk dilihat. Dan ia berpikir, ini ekspresi terlucu Yume yang pernah dilihatnya. “Kau bilang kau menyukaiku, sungguh?” Buru-buru dia kembali berucap ketika sepasang ceri itu mengalihkan pandangan. “lihat aku, dan jawab dengan jujur.”

    Yume tidak bisa memberontak. Dia seperti tidak punya daya untuk mengangkat kedua tangannya untuk melepaskan kedua tangan besar di kedua pipinya. Dia ingin mengalihkan pandang, tapi pemuda itu menuntut untuk melihatnya. Jujur saja, Yume tidak sanggup untuk melihat dua coklat yang menatapnya penuh keseriusan seperti itu. Jadi sekali lagi ia memalingkan pandangan dan dengan suara yang nyaris mencicit ia berkata “Hu uh.”

    Ini saat yang serius, tapi Aki tidak tahan untuk mempermainkan wajah Yume. Apalagi dengan tambahan suara cicitan itu, membuat gadis itu terlihat bagai kelinci merah muda. Aki menekan kedua pipi gadis itu, membuat mulut gadis itu tampak mengerucut. “Jadi—“ sambil mempermainkan wajah Yume. “kau menyukaiku.”

    Kali ini dia berhenti mempermainkan wajah Yume. “Sejak kapan?”

    Butuh waktu beberapa detik bagi Yume untuk menjawab “Aku tidak tahu.” Benar, Yume sendiri tidak tahu kapan dia menyukai Aki. Dulu ia merasa nyaman dengan statusnya sebagai ‘Sahabat Terbaik’, namun perlahan Yume berharap lebih. Lebih dari sekedar terjebak di dalam Friendzone.

    “Kau tidak tahu?”

    Yume menarik paksa kedua tangan Aki dari wajahnya, lalu berseru “Ya, aku tidak tahu! Bisakah kau tidak bertanya lagi? Kau membuatku jadi tampak memalukan.”

    Aki tentu saja terkejut ketika gadis itu berteriak padanya. Hei, dia tidak bermaksud untuk membuat Yume malu. Dia hanya ingin tahu kenapa gadis itu menyukainya. Aki menyentuh bahu Yume. “Aku minta maaf, aku tidak—“ Aki terpaksa menelan ludah saat melihat bagaimana kedua manik merah itu terlihat goyah, dan bagaimana kedua belah bibir itu terlihat begitu menggoda untuk— Tidak! Aki berkedip beberapa kali, berharap dia bisa mempertahankan prinsip yang selama ini dia coba untuk pertahankan. Kenapa sih, fokus untuk menatap mata Yume begitu sulit? “aku tidak bermaksud untuk—“

    Persetan dengan prinsip!

    Aki perlahan mendekatkan wajah. Yume pun melakukan hal yang sama, tergoda untuk mengikuti keadaan. Kedua pasang manik itu menutup. Kedua wajah saling menipiskan jarak di antara mereka. Sesuatu yang tanpa mereka sadari, selalu mereka nantikan selama ini. Sebuah sentuhkan kasih sayang yang selama ini keduanya anggap tidak akan pernah terjadi.

    Hingga saat keduanya nyaris bertemu, Aki menarik diri. “Tidak, ini tidak benar.”

    Yume sontak membuka mata. “Tidak benar?”

    Pemuda itu hanya diam, tidak memberikan jawaban. Bahkan tidak berani untuk memandangnya.

    “Tidak benar katamu?” Yume tidak percaya dengan apa yang dilakukan Aki. Menarik diri darinya? “Kau baru mengatakan ini tidak benar setelah kita nyaris— lucu sekali, Aki. Kau membuatku tertawa.” Namun tidak ada satupun tawa yang keluar dari mulut Yume.

    Kali ini pemuda itu berani memandangnya, namun dengan pandangan nelangsa, seperti yang dia lihat sebulan yang lalu. Dengan serius pemuda itu berkata “Aku tidak bermaksud untuk menjadikan ini seperti permainan. Aku hanya merasa bahwa ini tidak benar."

    Yume menyadari satu hal. Aki menolaknya. “Harusnya kau mengatakannya sebelum—sebelum semuanya menjadi sejauh ini!” Serunya. Yume bisa merasakan napasnya memburu sekarang. Kedua matanya bahkan terasa panas.

    “Aku tidak ingin merusak hubungan persahabatan kita.”

    “Tapi kau baru saja merusaknya.” Putusnya.

    Yume berbalik dan segera berjalan pergi. Dia tidak tahan berada di sana. Kedua matanya terasa panas, dan semakin lama dia berada di sana, dia tidak akan bisa menahan air matanya yang akan jatuh. Dia tidak ingin pemuda itu melihatnya menangis. Membuatnya menjadi tampak lemah.

    Aki merasa tidak enak. Sungguh, dia tidak bermaksud melakukannya. Selama ini dia menjaga hubungan mereka, menahan egonya agar mereka berdua tidak terikat dalam hubungan yang mereka anggap lebih baik namun suatu saat dapat merusak hubungan mereka jika semuanya tidak berjalan mulus. Dia ingin semuanya tetap seperti sebelumnya.

    “Kau baik-baik saja?” Tanya pemuda itu ragu.

    Aki bisa melihat gadis itu mengangguk. Namun suara yang teredam itu membuatnya khawatir. “Aku ... baik-baik saja.” Bagi Aki, itu tidak terdengar baik.

    Yume sendiri tidak dapat menahan air matanya di langkah ketiga. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dia tahan. Yume menutup mulut agar pemuda itu tidak mendengar suaranya yang bergetar.

    “Yume—“ Aki hendak mengejar gadis itu. Namun berhenti ketika gadis itu mengangkat tangannya dan tanpa sedikit pun menoleh, berkata. “Aku ingin sendiri.”

    Yume terus berjalan tanpa menoleh, berusaha agar dari belakang terlihat tegar. Namun sebenarnya gadis itu terus menangis, bahkan tidak tahu bagaimana menghentikan air matanya. Kedua tangannya menutup mulutnya untuk meredam suara isakan yang keluar.

    Yume merasa bahwa dia telah kehilangan segalanya.[edit_reason]-[/edit_reason]
    Edited by Senju Yume, Sunday, 16. March 2014, 11:14.
    Posted Image
    OFF Profile Quote
     
    1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
    « Previous Topic · Fanfiction · Next Topic »

    Free Hit Counter
    2013-2016 Shinobi Another Dimension
    Forum by Setsuna. Skin by セイ. Content by members. All images, themes, textures and javascripts belong to their respective owners. Please do not steal anything. Hosted for free by Zetaboards.