SHINOBI
Another Dimension
シノビー・アナザー・ディメンション

4.2 | Fade to Black
Tragedi Osaka Lautan Api hampir terulang di tengah pertarungan Kurokage Hyouka melawan Kirishima Ame dan para perwira Osaka. Namun kehadiran sesosok yang tak terduga, Hasegawa Gyuuki, berhasil menyelamatkan sang Jendral Osaka berikut perwiranya. Apa maksud dari kedatangan Gyuuki di sana? Apakah ia menjadi sekutu dari Osaka, atau justru lawan bersama-sama dengan Kurokage Hyouka?

Di sisi lain, pihak Tokyo berhasil melakukan aliansi dengan Iwate dan Kyushu demi mengungkap segala konspirasi yang tengah terjadi. Hal tersebut tidak mudah khususnya mengingat Inuzuka Chika, Taishou Kyushu, baru menjabat menggantikan Hyuuga Arata yang telah dinyatakan meninggal dunia. Sementara di Hokkaido, Yuki Hatsuki kedatangan dua tamu yang mengaku sebagai shinobi Tokyo. Salah satunya adalah wanita yang hendak mengembalikan jasad Uzumaki Yukio yang tewas terbunuh setahun silam. Bagaimana Taishou Hokkaido menghadapi kabar tersebut?
Welcome Guest [Log In] [Register]
Opreg | 6/8, 10 AM - 8/8

√ Informasi lebih lengkap mengenai opreg dapat dilihat di sini.

√ Baru bermain di SAD? Silakan baca panduan mendaftar di sini.

√ Merasa postmu sudah cukup banyak? Klaim bonus 500 point kamu di sini! Tentu saja, baca ketentuannya lebih dulu, ya.

√ Segala jenis pendaftaran di forum SAD dinyatakan sah jika telah diapprove oleh AKUN STAFF. Di luar itu, tidak sah.

Quick News
Welcome to Another Dimension
SAD (Shinobi Another Dimension) merupakan forum roleplay 2D berbasis teks deskriptif bertemakan Naruto di dunia militer Jepang modern. Bergabunglah dengan kami dan rasakan kehidupan seorang Shinobi di balik bayangan!

Registrasi term IV akan dibuka pada tanggal 6 Agustus 2016 pukul 10.00 WIB.
Best RPer March 2016
Summer/Fall 2017
Quota
KARAKTER SPESIAL
  • Kewarganegaraan ganda: (1/2)
  • Anggota keluarga kekaisaran: (0/1)
  • Pasangan Kembar: (0/1)
  • Citizen: (4/10)

  • KLAN
  • Aburame: (4/11)
  • Akimichi: (3/11)
  • Hyuuga: (10/11)
  • Inuzuka: (7/11)
  • Kaguya: (6/11)
  • Nara: (7/11)
  • Senju: (11/11)
  • Uchiha: (11/11)
  • Uzumaki: (11/11)
  • Yamanaka: (7/11)
  • Yuki Clan: (10/11)
  • Census
    Tokyo 11 | 02 20 | 00 25 | 02
    Hokkaido 09 | 01 16 | 01 25 | 02
    Kyushu 12 | 01 12 | 03 25 | 04
    Iwate 15 | 00 09 | 00 24 | 00
    Osaka 14 | 01 09 | 02 23 | 03
    Kyoto 13 | 00 10 | 00 24 | 00

    Jumlah Shinobi | Jumlah Citizen

    Selamat datang di Forum S A D kami berharap anda menikmati kunjungan ke forum kami.


    Sekarang anda sedang melihat forum sebagai pengunjung. Itu artinya anda memiliki keterbatasan menikmati fitur - fitur yang ada diforum ini secara lengkap. jika anda mendaftar ke forum kami, anda akan langsung terdaftar sebagai member kami dan dapat mengikuti RP bersama kami.


    Ayo bergabung!


    Jika anda sudah terdaftar sebgai member kami, silakan melakukan log in terlebih dahulu untuk mengakses profil anda.

    Username:   Password:
    [Ffic] Memoar dalam Kelam
    Topic Started: Wednesday, 25. June 2014, 23:59 (153 Views)
    Kirishima Ame
    Member Avatar
    Osaka no Taishou
    Memoar dalam Kelam
    Pairing: Kyoshiro Izumi x Imahara Tsubaki
    Minor Characters: Inuzuka Kirahara, Kirishima Ame, Masamune Suoh
    Genre: Romance | Angst
    Rating: PG-15

    .


    Napasnya memburu dalam gejolak malam.

    Ia tidak mengeluh.

    Tubuhnya dirasuki rasa sakit yang menghujam.

    Dia tidak mengaduh.

    Detik terus berlari pergi menyeret jiwanya yang kian rapuh—

    —ada sosok yang bergeming menjaga dan tak pernah menjauh.


    .

    Banyak hal telah berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu.

    .

    Siang pergi dan malam menjelang datang. Lalu dewi malam bersembunyi pertanda hari berganti.

    Setelah hampir dua bulan mereka tidak bertemu, pada akhirnya Izumi Kyoshiro menginjakkan kakinya lagi di prefektur itu. Dimana ia kali pertama bertemu dengan gadis berambut pink yang menariknya dari hari-hari yang dilaluinya sendiri.

    Ia tidak pernah merindukan tempat ini, tapi ia kembali untuk menemui seseorang yang selalu membuatnya ingin menginjakkan kakinya ke tempat ini lagi.

    Shiromaru selalu menemaninya, dan ia selalu tahu dimana ia bisa menemukan gadis itu. Saat langkahnya menapaki markas kemiliteran Kyoto—tentu dengan persetujuan dari yang memiliki—hanya dalam hitungan menit ia tahu tujuannya kemari akan tercapai.

    Hanya satu tujuannya saat ini.

    Menemui Imahara Tsubaki. Secepatnya.

    .

    Hanya beberapa belokan dari gerbang utama yang ia datangi saat ini. Tempat ini terlalu luas, ia tidak pernah menyukainya. Namun bukan berarti ia keberatan kalau hanya untuk bertemu dengan gadisnya. Hanya saja, ia merasa sebulan belakangan ini tubuhnya cepat letih. Bahkan hanya untuk membantu menghadapi musuh-musuh yang sama sekali tidak sebanding dengan kekuatannyapun ia harus menarik nafas dalam.
    Bukan karena luka-luka yang ia dapatkan saat itu, tapi sesuatu yang lain.

    Lamunannya buyar—dan langkahnya terhenti saat sepasang tangan terkait pada punggungnya. Tentu ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa—

    “Kyoshiro-kun.”

    —yang memeluknya dari belakang.

    “Bagaimana kau bisa tahu?” Ujarnya pelan setelah beberapa lama diam.

    “Kenapa kau ada disini?”

    “Untuk menemuimu tentu saja.”

    Suara desir angin terdengar bergemersik membelai dedaunan. Menjadi saksi saat sepasang bibir bertautan bertukar napas dalam kehangatan.

    Semakin dalam.

    Dan waktu menyaksikan.

    .

    Imahara Tsubaki dibebaskan dari misi untuk beberapa minggu ini. Tidak perlu ancaman dari seorang Izumi Kyoshiro untuk meminta cuti dari seorang Masamune Suoh. Seolah mengerti apa yang sebenarnya mereka inginkan.

    Kyoshiro mengajaknya untuk pergi berlibur tentu. Dan Tsubaki tidak pernah memiliki alasan untuk menolaknya.

    Waktu dua hari bukan waktu yang lama. Hanya 48 jam dikurangi waktu di perjalanan membuat waktu yang tersisa utuh berkurang. Tapi itu adalah waktu yang lama, menurut mereka. Disibukkan dengan pekerjaan masing-masing terutama sang Taishou dari Osaka membuat waktu mereka untuk bertemu semakin berkurang.

    Tsubaki tidak pernah keberatan untuk mengatakan ia menikmati waktu seperti ini. Karena ia memang menyukai waktu yang ia habiskan dengan pria yang ia cintai.

    Ia menginginkannya, dan ia tidak keberatan.

    Kyoshiro selalu bisa mengetahui apa yang ia inginkan. Saat waktu bersama, dan hanya mereka berdua—pemuda itu bisa mengetahui dan ia akan melakukan semuanya untuk membuat Tsubaki nyaman bersama dengannya.

    Ia tidak menolak saat sepasang tangan memeluk tubuhnya. Ia menyukai kehangatan yang diberikan oleh Kyoshiro, dan akan selalu menantikannya. Lagipula, belum tentu setelah ini mereka memiliki waktu untuk bertemu kembali dalam jangka waktu yang cukup lama.

    Kayu di perapian menimbulkan bunyi gertakan pelan. Dan tawa pelan memecahkan gema kebisuan saat waktu menjadi milik mereka berdua.

    .

    Sakit yang menyusup kian terasa. Seperti menusuk seluruh tubuhnya dengan jarum panas yang dapat melelehkannya. beberapa kali pandangannya terasa gelap dan seolah semuanya berputar tidak karuan, wajahnya semakin terlihat pucat saat ia merasakan tubuhnya sangat lemah. Bukan lelah yang biasa.

    Berkali-kali Kirishima Ame—yang bahkan menghawatirkannya—menanyai keadaan Taishou Osaka itu, dan ia selalu menyangkal semuanya. Dengan wajah menyiratkan kekhawatiran—yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—Ame hanya mengangguk mengerti atas jawaban petinggi kemiliteran Osaka itu meski tak sesuai dengan harapannya. Dan Kyoshiro akan menjalankan rutinitasnya yang biasa, menjalankan tugasnya sebagai Taishou dari Osaka.

    Mengabaikan rasa sakit yang semakin hari semakin nyata.

    Hingga suatu pagi dia tak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Yang ia dengar hanyalah suara samar-samar yang berteriak memanggil Chujo dan suara panik dari Kirishima Ame.

    Kesadarannya sepenuhnya hilang saat rambut pink panjang itu berkelebat di atas sosoknya.

    .

    Rasa sakit menggerogotinya.

    Berbulan-bulan terabaikan, dan kini mencuat tiba-tiba ke permukaan.

    Dia tak lemah, tapi sakit ini tak tertahankan.

    .

    Apa yang dapat dilakukan saat takdir telah menunjukkan jalan yang tak dapat diingkari?

    Apa lagi yang dapat dirasa, jika indera terasa tidak berfungsi sebagai mana meskinya?


    .

    .

    Dia tak sepenuhnya pingsan.

    Tes... tes... tes...

    Dia mendengar dengan tajam seperti biasa, hingga tetesan infus beraturan yang jatuh setiap empat detik sekali dapat ia dengarkan dengan jelas. Desiran angin yang memainkan dedaunan dapat ditangkap gendang telinganya.

    Dia tak sepenuhnya pingsan, tapi kelopak matanya terlalu lelah hingga ia terus terpejam. Ia memejamkan mata tapi ia tak tertidur.

    Dia mendengar apa yang orang lain katakan.

    “Menurut diagnosaku...”

    Sejak kapan nada bicara seorang Inuzuka Kira terdengar serius?

    Lalu apa yang ia katakan? Dia yakin dia salah mendengarnya.

    .

    “Tsubaki!” Ame terkejut, menyaksikan pupil Tsubaki yang melebar. Ia memanggilnya untuk membujuk kekasih gadis ini untuk jujur. Namun, yang ditemukan lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan. Ia terlalu takut untuk menyentuh Tsubaki yang hanya berdiri diam, tanpa ekspresi. Seorang jiwanya tak ada lagi untuk mengisi tubuhnya. Seolah jantungnya berhenti bekerja selama beberapa saat.

    .

    Tsubaki ingin tertawa. Ia ingin menertawai dokter bernama Inuzuka Kira yang baru saja mengajaknya berbicara dan memberitahukan hasil diagnosa. Ini pasti lelucon. Lelucon yang sama sekali tidak ingin didengarnya. Lelucon yang membuat tubuhnya terasa kaku hingga rasanya seluruh tulangnya melunak dan tak mampu menompang tubuhnya.

    Ada kesalahan di kalimat yang baru saja didengarnya. Itu pasti hanya manifestasi semu yang tak dapat dibuktikan kebenarannya.

    .

    Sayangnya,

    Kenyataan terkadang terlalu menyakitkan jika dibandingkan dengan asa yang diharapkan.


    .

    Tidak mungkin orang terkuat di Osaka yang bisa tahan dengan seorang Kirishima Ame dan hampir tidak kewalahan menghadapi semua musuh sekuat apapun kini berbaring di ranjang rumah sakit. Pasti ada kesalahan dengan pendengarannya. Tidak mungkin Izumi Kyoshiro kalah hanya pada hal semacam itu. Pasti ada kesalahan—

    “Imahara-san!” Suara Kirishima Ame yang menatapnya serta tepukan di pundak dari Inuzuka Kira terasa seperti menghantam kepalanya. Ia tidak sedang bermimpi. Telinganya masih cukup tajam untuk mendengarkan. Dia masih cukup sadar untuk mengenali—bahwa ini kenyataan.

    .

    Dia kuat. Dia kuat. Dia tidak lemah.

    Dia tak akan kalah pada takdir hingga batas kemampuannya untuk bertahan.


    .

    “Hari yang cerah nee, Kyoshiro-kun?”

    Tsubaki menoleh pada Kyoshiro yang hanya mengangguk dan duduk di salah satu pepohonan yang ada di depan rumah sakit. Desiran angin tampaknya membawa beberapa helaian daun berserakan pada sisinya. Tsubaki menempatkan dirinya di samping pemuda itu, yang menutup matanya sejenak sebelum menoleh padanya.

    Tidak ada kata yang terucap—tidak ada yang harus mereka ucapkan kala itu.

    “...aku mencintaimu kau tahu.”

    “Aku tahu.”

    Dan sebuah ciuman menutup pembicaraan mereka.

    .

    Satu dari sekian banyak waktu yang telah dilewati.

    .

    Adakah yang menyadari bahwa dibalik wajahnya yang tegas dan juga ramah, sekujur tubuhnya menangis dan berteriak?

    .

    Wajahnya semakin pucat dan terlihat lemah.

    “Ohaiyou, Kyoshiro-kun.”

    Matanya menatap pada Tsubaki yang (mencoba) tersenyum kearahnya. “Apakah kau tidur nyenyak?”

    “Aku ingin pulang.” Helaian pink panjang melambai lembut saat sang pemilik menggerakkan tubuhnya. Tsubaki tertawa, lebih pelan dari biasanya.

    “Kalau kau sudah sembuh kau boleh pulang.”

    “Aku tidak sakit—“ tenggorokannya tercekat dan terasa kering saat dirinya terbatuk beberapa kali. Menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya yang terasa seperti membakar habis dirinya hingga tak tersisa.

    Matanya menatap datar pada kedua tangannya.

    Sebelum gadis itu tampak menyentuh tangannya, dan mengecup pelan telapak tangannya itu—tanpa perduli apa yang ada disana.

    Merah menodai telapak tangannya yang putih. Ia tahu ia tidak baik-baik saja.

    .

    Tsubaki selalu menunggunya, hingga dapat terlihat jelas setiap ia menatap wajah gadis itu bayangan hitam yang semakin ketara di bawah mata. Wajahnya terlihat tidak seperti biasanya, tapi dengan mudah tertutupi tawa. Suoh mengizinkan hal itu. Membebaskan lebih lama, Tsubaki dari tugasnya. Anak buah dari Osaka sering sekali datang, meski harus pulang karena sang Taishou tidak suka ada yang melihatnya seperti ini.

    Dia tidak menyukai tempat ini. Ia ingin segera pergi dari sini. Keinginannya untuk kabur dari tempatnya beristirahat terhalang oleh rasa sakit setiap kali ia menggerakkan tubuhnya. Sejak kapan ia menjadi selemah ini?

    .

    “Imahara-san,” matanya terpejam dengan tenang seolah tertidur.

    “Taishou-sama.”

    “Kau belum makan sejak empat hari yang lalu—dari yang kudengar. Aku tidak ingin kau sampai sakit saat kembali ke markas kau tahu?” Suara lembut yang dikenal oleh Tsubaki terdengar nyaring meski terselip nada khawatir yang jelas kentara.

    “Maaf Taishou, tetapi—aku akan memakannya nanti.”

    Getaran sakit terasa riuh menggelegak. Menyebar memenuhi spasi dan menggigit pori-pori. Tak ada lagi yang terasa selain perih yang menikam sanubari. Terlalu dalam hingga sekujur tubuhnya gemetar. Lelah, itulah yang ia rasakan. Dia terbaring tenang, Tsubaki menyelimutinya. Sama sekali tak memperhatikan ringisan tertahan yang tersembunyi dibalik kelopak mata yang terkatup dalam dekapan malam.

    .

    Dia tak ingin bergeming di sini sementara waktu terus berlari dan tak berhenti berotasi. Dia tidak ingin mematung di sudut hampa sementara chakrawala terus berganti warna.

    Tapi takdir memaksanya untuk menyadari bahwa dirinya tak bisa melepaskan diri dari jeratan ini.

    ...dia hanyalah manusia.

    .

    “Sedang bersantai Kyoshiro-kun?” Sekali lagi Tsubaki hanya mendudukkan diri di samping pemuda itu. Tangan kanan Kyoshiro memegang mawar dan memainkan kelopak dengan tangan kirinya. Tsubaki tampak masih menatapnya.

    “Bagaimana kalau kita berkencan?”

    “Kau bodoh.”

    “Kau manis,” Kyoshiro bukan orang yang akan mengatakan itu dengan mudah. Dan Tsubaki hanya diam mendengarkannya. Pemuda itu mencabut satu kelopak mawar itu dan menjatuhkannya ke lantai. Tsubaki hanya tersenyum mendengarnya, “—seperti bunga mawar.”

    “Tetapi berbahaya?”

    “—dan juga lebih indah.” Kyoshiro tertawa pelan menatap garis rona merah samar di wajah gadis itu.

    “Jadi mau berkencan?”

    “Tidak sebelum kau sembuh.”

    .

    Napasnya tak akan terbuang secara percuma.

    Selama ia masih mampu untuk tetap terjaga.


    .

    Hari-hari panjangnya di rumah sakit hanya diisi dengan kemoterapi. Berapa kalipun ia memaksa untuk pergi, Tsubaki menggenggam tangannya dengan erat, memaksanya agar tetap disini. Karena ia tak punya cukup tenaga untuk melawan pada siapapun yang berani menyentuhnya.

    Berkali-kali dengan kasar ia menepis nampan berisi obat yang disodorkan padanya. Untuk apa tetap meminum butiran pahit itu, jika rasa sakit yang mendera tak juga sirna. Tatapan tajamnya tampak melunak beberapa saat melihat Tsubaki memungut butiran obat yang berserakan di lantai dengan sabar dan menyuruh perawat untuk pergi.

    Tak dapat ditolaknya lagi...

    Tubuhnya sudah tidak setegap dulu, terlihat kurus dan selalu kelelahan. Wajahnya pucat, bibirnya kering dengan kulit yang sering mengelupas pecah. Benang-benang hitam yang menghiasi kepalannya perlahan berjatuhan,hanya tinggal helaian tipis yang tersisa. Matanya masih tetap tegas seperti dulu, hanya saja jika ada yang memperhatikan dalam-dalam, akan dapat terlihat pupil mata itu sering kali bergetar menahan sakit.

    Seolah dirinya adalah kepingan mozaik rapuh yang akan hancur luruh dengan sekali sentuh.

    .

    Apa lagi yang dapat dipertahankan, jika ia tahu napasnya akan segera padam.

    Dia tak pernah mengeluh rasa sakit.

    Dia hanya diam dan duduk dengan tenang menikmati kehangatan yang menyelimuti tangannya yang digenggam.

    Tak ada air mata meskipun terkadang lebih ekspresif dari untaian kata.

    Dia tidak lemah. Dia terlalu kuat untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya. Dia terlalu kuat untuk sekedar menahan rasa sakit yang menyerang seluruh indera di tubuhnya.

    .

    Apakah waktunya sudah dekat?

    Berikan sedikit waktu lagi, karena ia masih ingin melihat datangnya musim semi.


    .

    Puluhan hari terus berdiam diri, hanya memperhatikan hujan dari bening kaca jendela yang dihiasi oleh air, ia bisa menghirup udara segar. Semua temannya datang menengok di hari kepulangannya. Tsubaki tersenyum dan menggenggam tangannya, sesekali membenahi topi yang menutupi kepalanya.

    .

    Sampai disini...

    Biarkan ia terbawa senyap jika harus saatnya terlelap.


    .

    Duduk menikmati teh hijau hangat di ruangannya yang hangat dan nyaman, betapa ia merindukannya. Menikmati desau angin yang menyanyikan dedawai merdu penyambut malam. Memperhatikan rona jingga yang menghiasi petala langit saat datangnya senja.

    Pelukan hangat dari Tsubaki menyamarkan rasa sakitnya. Terabaikan begitu saja, tersimpan di celah hatinya yang terdalam. Afeksi yang merasuki tubuhnya dengan kehangatan. Saat bibir pucatnya dipagut lembut sarat kasih sayang.

    Saat gulita menyelimuti sudut-sudut sepi, nyala lilin keemasan menemaninya lelap dalam mimpi. Cahaya temaram terlihat menghiasi mega di angkasa, dewi malam bersinar ditemani gemintang yang berkelip di hamparan permadani kelabu.

    Tubuhnya terbalut oleh rasa hangat yang begitu saja membuatnya terbuai. Rasa sakit yang abadi, perlahan pergi saat ia mengatupkan kelopak matanya disertai napasnya yang berdesah beraturan. Dia tersenyum saat terlelap, dalam dekapan hangat halimun yang senantiasa berdendang bersama lullaby.

    .

    Jika waktunya tiba...

    .

    Kyoshiro Izumi tertidur lelap. Terlalu lelap, hingga Tsubaki tak dapat membangunkannya saat pagi tiba.

    Kematian menjemputnya tanpa isyarat. Dia tidur nyenyak malam harinya. Guncangan pelan pada tubuhnya yang biasa sudah bisa membangunkannya tak segera membangunkannya. Kecupan di bibirnya yang dingin dan memucat dengan sempurna tak juga menghapus kebisuannya.

    “Kyoshiro-kun...” Tsubaki mendesah, dalam satu sentakan frustasi memeluk tubuh pemuda itu yang bergeming semakin erat.

    “Kyoshiro-kun...” Dia ingin menjawab jika ia mampu. Ia ingin bergerak jika ia bisa.

    “Kau tidak sedang bercanda ‘kan?” Sosoknya bergeming. Tenang. Tertidur dengan mata terpejam dan berbalut selimut dan kehangatan.

    Bibir yang masih terus mengatup rapat menjadi pertanda bahwa Kyoshiro Izumi tak akan pernah menjawab.

    Napasnya berhenti berdesah. Detak jantungnya berhenti berirama.

    .

    Diluar sana, kelopak sakura bermekaran dalam dekap gelora belenggu buana.

    ...musim semi telah tiba.

    .

    Gerbang itu telah membukakan jalan.


    .

    Banyak yang menghadiri upacara penghormatan terakhir bagi sang Taishou. Bahkan beberapa orang perwakilan dari seluruh prefektur datang hanya untuk melihat sosok itu untuk terakhir kalinya. Meskipun ada yang menangis dan terdiam, tubuh itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya—hingga tubuh itu tertutup oleh dalamnya tanah.

    Namanya terukir dengan sempurna. Isakan samar terdengar bersahutan di sela angin muson yang menderu semakin kencang.

    Jejak langkah berderap menjauhi, saat tetesan hujan berjatuhan dari langit menghantam permukaan bumi.

    Hanya Tsubaki yang tidak tampak sepanjang hari.

    .

    Langit masih saja kelabu. Tak nampak kerlip kartika yang menghiasi angkasa.

    Tsubaki bergeming, tanpa ekspresi. Diam menatap hampa pada nama yang terukir sempurna di batu pualam meski tak terlihat jelas karena kepekatan malam. Memoar itu kembali berputar, menyinggahi relung hatinya hingga dadanya terasa sesak. Bukan karena udara dingin yang menusuk tulang, tapi karena jantungnya terasa berdetak tak karuan.

    Kenangan berai melodi sunyi. Desah napasnya mengalun berat dalam gulita sepi. Komposisi nada malam hipnotis waktu. Semua kenangan yang pernah ada terkumpul dalam batas semu.

    Saat seikat mawar melambai oleh sentuhan angin, riak air berduyun-duyun datang dan berjatuhan. Dia berdiri di bawah tarian hujan. Menatap kosong dengan tubuh basah berlatarkan kegelapan. Satu kalimat terlontar sebagai salam perpisahan.

    Oyasuminasai, Kyoshiro-kun.”

    —bertetes kristal bening berjatuhan dari sepasang iris mata yang mengatup dalam diam.

    .

    Saatnya telah tiba—

    Selamat tidur, Kyoshiro Izumi.

    —untuk mengistirahatkan diri dalam tidur panjang yang abadi.


    .

    Dia pergi. Dia mati. Namun dia hidup, dalam banyak hati.

    O-W-A-R-I
    A LONG LONG TIME AGO, THERE WAS A BLACK-HAIRED PRINCE AND A PRINCESS.
    THE PRINCESS WAS SURROUNDED BY LIAR, AND LOCKED UP IN A LONELY ROOM ALONE.
    SHE ALWAYS THOUGHT THAT HER PRINCE WOULD SAVE HER.
    BUT... THAT DIDN'T HAPPEN.
    Posted Image
    BECAUSE THE PRINCESS WAS CAUGHT UP WITH THE FIXED IDEA THAT ONLY THE PRINCE WHO CAN SAVE HER,
    SHE REFUSED THE REALITY...
    SHE HAD NO IDEA THAT THE PRINCE WAS ON THE SAME PART AS THE LIARS.

    SIGNATURE + AVATAR BY ME | STORY PART (1)
    OFF Profile Quote
     
    Uchiha Kagami
    Member Avatar


    .... *bener-bener speechless* *standing applause*

    Kokoro ini... ah sumpah aku ga tau lagi harus komentar bagaimana. Aku selalu suka alur cerita buatannya Amesama yang bahkan bisa membuat (dulunya) anti-roman kayak aku bisa menitikkan air mata. Diksinya bikin feel-nya makin dapet, apalagi suasana kehilangan yang teramat dalam dari Imahara Tsubaki.

    Salut, bener-bener salut.



    ... permisi ngumpulin serpihan hati dulu. </3
    It's fine if it's not beautiful or wonderful;
     
    Posted Image
     
    just let me love you enough to drive me mad.

    _____________________________
     
    OFF Profile Quote
     
    Izumi Kyoshiro
    Member Avatar
    Tokyo No Taishou

    makasih ame...

    anda menyadarkan betapa banyak pun jutsu rank S punya saya... gakan guna kalo saya gak sehat....


    saya gak mau nyusahin orang banyak....

    :)


    semoga takdir membimbing saya ke jalan yang benar....
    H O P E
    Posted Image
    Aku masih ingin hidup, banyak yang harus kulakukan, banyak yang harus kuraih, banyak yang harus ku pertahankan. Hidupku harus berlanjut.
    Signature by Uchiha Ayuka

    OFF Profile Quote
     
    Uchiha Masaaki
    Member Avatar


    Dua Ffic Ame-tan sudah menyadarkan tiga orang ya /?/


    Mungkin cuma tiga kata yang digabungkan menjadi satu. SasugAmeTan /lalala
    “LOVE BREEDS HATRED.”
    Posted Image
    Uchiha Madara.
    OFF Profile Quote
     
    1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
    ZetaBoards - Free Forum Hosting
    Create your own social network with a free forum.
    Learn More · Sign-up for Free
    « Previous Topic · Fanfiction · Next Topic »

    Free Hit Counter
    2013-2016 Shinobi Another Dimension
    Forum by Setsuna. Skin by セイ. Content by members. All images, themes, textures and javascripts belong to their respective owners. Please do not steal anything. Hosted for free by Zetaboards.