SHINOBI
Another Dimension
シノビー・アナザー・ディメンション

4.2 | Fade to Black
Tragedi Osaka Lautan Api hampir terulang di tengah pertarungan Kurokage Hyouka melawan Kirishima Ame dan para perwira Osaka. Namun kehadiran sesosok yang tak terduga, Hasegawa Gyuuki, berhasil menyelamatkan sang Jendral Osaka berikut perwiranya. Apa maksud dari kedatangan Gyuuki di sana? Apakah ia menjadi sekutu dari Osaka, atau justru lawan bersama-sama dengan Kurokage Hyouka?

Di sisi lain, pihak Tokyo berhasil melakukan aliansi dengan Iwate dan Kyushu demi mengungkap segala konspirasi yang tengah terjadi. Hal tersebut tidak mudah khususnya mengingat Inuzuka Chika, Taishou Kyushu, baru menjabat menggantikan Hyuuga Arata yang telah dinyatakan meninggal dunia. Sementara di Hokkaido, Yuki Hatsuki kedatangan dua tamu yang mengaku sebagai shinobi Tokyo. Salah satunya adalah wanita yang hendak mengembalikan jasad Uzumaki Yukio yang tewas terbunuh setahun silam. Bagaimana Taishou Hokkaido menghadapi kabar tersebut?
Welcome Guest [Log In] [Register]
Opreg | 6/8, 10 AM - 8/8

√ Informasi lebih lengkap mengenai opreg dapat dilihat di sini.

√ Baru bermain di SAD? Silakan baca panduan mendaftar di sini.

√ Merasa postmu sudah cukup banyak? Klaim bonus 500 point kamu di sini! Tentu saja, baca ketentuannya lebih dulu, ya.

√ Segala jenis pendaftaran di forum SAD dinyatakan sah jika telah diapprove oleh AKUN STAFF. Di luar itu, tidak sah.

Quick News
Welcome to Another Dimension
SAD (Shinobi Another Dimension) merupakan forum roleplay 2D berbasis teks deskriptif bertemakan Naruto di dunia militer Jepang modern. Bergabunglah dengan kami dan rasakan kehidupan seorang Shinobi di balik bayangan!

Registrasi term IV akan dibuka pada tanggal 6 Agustus 2016 pukul 10.00 WIB.
Best RPer March 2016
Summer/Fall 2017
Quota
KARAKTER SPESIAL
  • Kewarganegaraan ganda: (1/2)
  • Anggota keluarga kekaisaran: (0/1)
  • Pasangan Kembar: (0/1)
  • Citizen: (4/10)

  • KLAN
  • Aburame: (4/11)
  • Akimichi: (3/11)
  • Hyuuga: (10/11)
  • Inuzuka: (7/11)
  • Kaguya: (6/11)
  • Nara: (7/11)
  • Senju: (11/11)
  • Uchiha: (11/11)
  • Uzumaki: (11/11)
  • Yamanaka: (7/11)
  • Yuki Clan: (10/11)
  • Census
    Tokyo 11 | 02 20 | 00 25 | 02
    Hokkaido 09 | 01 16 | 01 25 | 02
    Kyushu 12 | 01 12 | 03 25 | 04
    Iwate 15 | 00 09 | 00 24 | 00
    Osaka 14 | 01 09 | 02 23 | 03
    Kyoto 13 | 00 10 | 00 24 | 00

    Jumlah Shinobi | Jumlah Citizen

    Selamat datang di Forum S A D kami berharap anda menikmati kunjungan ke forum kami.


    Sekarang anda sedang melihat forum sebagai pengunjung. Itu artinya anda memiliki keterbatasan menikmati fitur - fitur yang ada diforum ini secara lengkap. jika anda mendaftar ke forum kami, anda akan langsung terdaftar sebagai member kami dan dapat mengikuti RP bersama kami.


    Ayo bergabung!


    Jika anda sudah terdaftar sebgai member kami, silakan melakukan log in terlebih dahulu untuk mengakses profil anda.

    Username:   Password:
    Morphine
    Topic Started: Monday, 27. April 2015, 23:53 (166 Views)
    Izumi Kyoshiro
    Member Avatar
    Tokyo No Taishou

    Based Story : Naruto
    Main Character : Masayuuki Akira, HasegawaIzumi Kyoshiro
    Author : Izumi Kyoshiro Ft. Putry Hyuugazumaki/Taora Anggara


    MORPHINE

    Chapter I
    Daun Yang Tersayat Awan


    Jangan tanya kenapa setiap negara shinobi berperang, tak ada yang namanya perdamaian abadi, yang ada hanya kekacauan yang abadi. Tak selamanya memang, tapi akan selalu ada orang – orang yang memulainya. Bahkan Konohagakure, orang memandang negara api adalah negara mulia dan desanya yang kuat. Tapi tak selalu begitu.
    “Ya ya... Hanya karena Uzumaki Naruto dulu menyatukan seluruh shinobi, bukan berarti konoha jadi superior”

    Percikan – percikan iri dan hal – hal seperti itu kini kian lumrah di pasar, bar, lingkungan kerja, selentingan – selentingan yang berubah menjadi sebuah keresahan dan jadi perhatian pada akhirnya.

    Negara api sebagai negara adikuasa saat ini mencoba bergerak lebih dahulu dengan mengintai tanpa sepengetahuan negara – negara lainnya ke negara lain, mereka menyebarkan dan menyusupkan seluruh pasukannya, menyamar sebagai perantau, penduduk, dan yang lainnya.

    Kumo tak luput disusupi, bukan salah shinobi, mereka hanya tombak politik. Disaat malam hujan yang tak begitu lebat, pria berambut hitam legam ini terjebak ditengah – tengah orang yang sedang mabuk di bar, seperti biasa, ini patroli malam nya, dia sendirian disini, rekan – rekannya sudah ditarik mundur, karena jika terlalu banyak akan terlalu menarik perhatian.

    Namanya Masayuuki Akira, tak ada perubahan nama ketika ia dimasukan ke Kumo, kehidupannya sehari – hari disana dapat dibilang cukup baik meski udaranya tak pernah sesuai dengan tubuhnya, dia selalu kesulitan hidup di dataran curam seperti kumo, apalagi dia amat terganggu dengan banyaknya rawa yang ada di Kumogakure.

    Namun karena kepentingan tugas desa dia rela melakukan semua hal nista ini sendirian, meski dia shinobi yang tak begitu hebat, tapi dia mampu diandalkan dalam hal seperti ini, buktinya dia sudah banyak mempunyai teman di kumo, dan sampai sekarang tak ada satupun yang merasa curiga dengan kehadirannya.

    Minuman nya kini tersisa setengahnya, suara hujan masi terdengar dari atap, itu tandanya ia harus berdiam diri lebih lama disini, kepulan asap disekitar nya tak membuat terganggu, toh dia juga perokok, meski tak terlalu sering, duduk didepan meja bartender yang melintang sepanjang bangunan membuatnya tak mendapat apapun, dia memutar posisi duduknya dan bersandar pada meja tersebut, mencoba menangkap beberapa informasi yang menurutnya berguna.

    Tapi sepertinya tak ada apapun hari ini, justru yang membuatnya aneh adalah seorang wanita yang baru saja melewatinya, dia terburu – buru keluar padahal hari masih hujan, sosok wanita berambut panjang hitam diikat kuncir kuda, wanginya begitu menarik perhatian sampai – sampai akira yang cuek ini menolehkan wajahnya kearah pintu keluar, melihat wanita itu mengambil payung hitam yang disimpan di samping pintu.

    “Karyawan baru...” Tiba – tiba saja paman bartender bersuara.

    “oh...” seaakan menyerah karena tertangkap basah menatap seorang wanita, Akira kembali berbalik pada meja.

    “paman... bagaimana kumo akhir – akhir ini menurutmu?” Tanya akira pada paman itu sambil meraih gelas minumannya.

    “Apanya yang bagaimana? Selama ini kau disini kan, tak ada yang aneh dengan desa ini sejak perang berakhir...” Jawabnya santai sambil mengelap beberapa gelas yang ada dihadapannya.

    “Tapi...” Kalimat ini jelas membuat akira sedikit memfokuskan perhatiannya pada si paman.

    “Kudengar para daimyo mulai resah, entah kenapa mereka selalu menyusahkan meski pada kenyataanya kita memjiak tanah milik mereka” Lanjutnya dengan nada rendah.

    “Menyusahkan ya...” Timpal akira, tak akan ada yang menyalahkan nya berkata seperti itu, dari tingkatan kage hingga gennin pun akan berkata seperti itu dengan keadaan yang sekarang, terlalu damai sehingga hampir kedudukan Kage benar – benar seperti ‘Kage’ bayangan saja.

    “Maa... Aku harus pulang” Gumamnya sambil meneguk habis minuman miliknya.

    “Oi... Kau tak punya payung? Hari masih hujan!” Seru si bartender, Akira hanya membalasnya dengan lambaian tangan tanpa menoleh.

    Seorang shinobi seperti dia tak pernah butuh payung, bahkan cuaca lebih buruk dari ini pun tak butuh payung, sebenarnya tak ada yang tahu dia seorang shinobi, mereka hanya tahu dia datang dari negara api, bekerja sebagai tukang kayu dan kuli panggul di sudut desa.

    Disaat ia hampir menuju rumahnya dia mendapati wanita tadi tengah berdiri termangu didepan gang, seorang muncul dari gang tersebut dan melambaikan tangannya pada wanita berkulit putih tersebut, Akira hanya memperhatikannya dari jauh, namun tampaknya apa yang ia lakukan itu kembali ketahuan, kali ini wanita itu menatap balik Akira.

    Tatapannya yang hampir seperti menerkam nya meski dari jarak sejauh ini, namun disaat yang bersamaan ada terkesan kelembutan yang membelai sensor visual nya.

    “Tsk! Apa apaan dia...” desis akira pelan, lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

    “siapa orang tadi, rasanya aku baru melihatnya sekitar sini” Akira kembali teringat tangan legam yang melambai pada si wanita.

    Keesokan hari nya seperti biasa Akira beraktifitas sebagai tukang kayu di sebuah bangunan yang tengah dibangun di sudut desa. Paku diapit dibibirnya dan palu serta alat alat lainnya yang ia ikat dengan tali di pinggangnya, begitu fasih mengerjakan apa yang harus ia kerjakan.

    Tak seperti di konoha, keadaan di kumo sedikit lebih sejuk karena lingkungan rawa dan langitnya yang berawan. Para pekerja lain dan penduduk benar – benar menerima dan memaklumi perbedaan yang dibawa Akira, ia tak pernah lupa memakai pakaian panjang di desa ini, benar – benar berbeda dengan konoha yang sedikit lebih hangat.

    “Akira, kayu pesanan kita sudah siap, bisa kau bawa kan ke pusat desa ?” Tanya sang mandor.

    “Ah, serahkan padaku...” Ia kemudian melompat dan menyambar kertas memo yang dipegang oleh sang mandor.

    “Tolong ya!” Pekik sang mandor, Akira kembali melambai tanpa menoleh dan menarik kereta dorong untk mengangkut kayu di pusat desa.

    Setibanya di depan toko kayu dia kemudian mengambil pesanan dan mengikatnya dengan kencang, ia terlihat begitu menikmati hari – hari dan pekerjaan nya disini, terbebas dari misi jangka pendek yang melelahkan.

    Ketika tubuh tangguh itu mengikat tali agar kayu tak bergoyang kesana kemari ketika diangkut, tiba – tiba tercium kembari aroma yang tak asing, parfum wanita itu tak pernah berganti, dan diantara orang – orang pinggiran desa ini Akira rasa hanya wanita itu yang punya aroma seperti ini, lantas ia menolehkan kembali wajahnya dan benarlah dia menemukan sosok yang ia jumpai kemarin.

    Seakan sadar ada sepasang iris yang mengawasinya wanita itu menoleh kearah Akira, masih dengan tatapan yang sama hanya saja kali ini lebih melunak, dibalik parasnya yang cantik seolah ia berkata “Aku adalah harimau yang terbungkus bulu kucing”.

    Akira tak begitu peduli pada paras wanita itu, paling tidak untuk saat ini, namun keganjilan dari tatapannya yang belakangan membuatnya semakin penasaran dan ingin menyeledikinya, sudah merupakan tugasnya untuk menyelidiki setiap pergerakan Kumogakure.

    Ketika wanita itu beberapa langkah menjauh darinya tiba – tiba keributan memaksa Akira kembali memfokuskan pada hal yang lain. Ia mendapati wanita berpakaian serba putih itu tersungkur dengan sikut nya menyentuh tanah.

    “Ada apa ?” Tiba – tiba seseorang wanita paruh baya keluar dari toko untuk memeriksa.

    “Entahlah, sepertinya wanita itu sedang dalam masalah” gumamnya pelan sambil mengikat kencang kayu pesanan.

    “Dasar kau! Jalan yang benar!” tiba – tiba saja kalimat kasar terdengar, Akira mendekati sumber suara tersebut, pandangannya sedikit terhalang karena kerumunan yang tiba – tiba saja terbentuk.

    “Dasar kau!” kembali ucapan tak menyenangkan terluncur dari seseorang.

    “Sebenarnya apa yang terjadi...” pikir Akira, awalnya dia menyangka wanita itu melakukan sebuah kesalahan.

    “Hh...lagi – lagi... lebih baik kau keluar dari kumo... sana!” lagi.

    “Hei – hei apa ini...” Ia semakin penasaran dengan apa yang terjadi.

    “Pergi kau, menghalangi jalan saja!” semakin sini suara – suara senada meluncur dari berbagai sudut kerumunan.

    Dengan susah payah kini akira berada di bibir lingkaran kerumunan, dengan wanita itu sebagai pusatnya.

    “Kasihan... lebih baik kau pergi...” Lagi – lagi, Akira kini benar – benar kebingungan dengan apa yang terjadi. Ingin sekali dia bertanya, tapi bertanya ditempat seperti ini akan membuat orang curiga, jadi sementara waktu lihat dahulu.

    Wanita itu berdiri tertatih, namun dia masih terlihat tegar, sorot mata nya masih sama, tak berubah sedikitpun. Tak ada yang menolongnya bahkan untuk berdiri, hanya ada sorot mata seakan menyudutkannya, wanita malang itu kemudian melangkah tanpa berkata apapun, wajahnya tak menunduk, sorot matanya masih tajam, langkahnya tak terlihat gentar, malah mata itu bergulir lagi ke arah akira.

    “Tsk! Apa – apaan dia itu, selalu saja, sebenarnya siapa dia, aku mulai mencurigai sesuatu dari dirinya” satu – satunya hal lembut yang tersisa pada wanita itu hanya aroma wangi nya yang benar – benar serasa membelai hidung.

    Beberapa menit kemudian bubarlah kerumunan itu dan pusat desa kembali seperti biasa, perjalanan kembali akira cukup melelahkan, kontur geografis kumo yang curam membuatnya harus ekstra hati – hati mengangkut kayu tersebut.

    Sesampainya di lokasi pekerjaan dia kemudian melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang kayu. Kebetulan saat dia tiba, ia diizinkan untuk beristirahat lebih lama dari rekan – rekannya.

    Dalam lamunannya ia mengulang kembali apa yang ia lihat, beberapa kali ia menggelengkan kepalanya dan berfikir untuk lebih fokus pada hal lain, semacam informasi yang lebih penting.

    “Hei kenapa kau akira...?” Si mandor menghampirinya, sadar ada hal yang aneh dengan pria ini.

    “Ah tidak, uh...anoo... ada sesuatu yang menggangguku di pusat desa, tapi sudahlah, tak apa...” Timpalnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

    “Sudah, katakan saja...jangan sungkan, lagipula jika pikiranmu kacau, pekerjaan kau berantakan, aku tak mau itu terjadi...” tukas si mandor.

    “ah...baiklah...jika kau memaksa, tapi jangan kau anggap ini serius...” dengan helaan nafas ia akhirnya memulai.

    “ung...bagaimana memulainya....” Kali ini raut kebingungan jelas tersirat dari wajahnya.

    “Wanita ya...” gumam si mandor, lantas Akira seolah terhenyak dan menoleh tajam kepada si mandor, kemudian ia mengerutkan alisnya.

    “Hahaha...ternyata benar” ucap sang mandor dengan nada geli.

    “Ini bukan seperti yang kau bayangkan...” Seperti biasa, wajah cuek itu kembali menguasai keadaan, meski awalnya sempat terhenyak.

    “Bukan karena aku suka...tapi aku hanya penasaran, apa kau tahu wanita yang bekerja di bar baru – baru ini?” Tanya akira sambil menatap kosong kedepan.

    “Ohh... Dia ya, kau pasti melihat hal yang tidak menyenangkan di pusat kota ya...” Nada bicaranya sedikit merendah, terkesan enggan menceritakan pada orang baru seperti akira.

    “Lebih baik kau menjauhi gadis itu, daripada kau terseret kedalam masalah” Ucap sang mandor kembali.

    “Aku harus kembali bekerja, kau ambil lah istirahat lebih lama...” Ujar si mandor sembari meninggalkan akira.

    “Tunggu...!” Seruan Akira membuat si mandor menoleh.

    “Apa dia Jinchuriki” Tanya nya dengan wajah serius, awalnya sang mandor ingin tertawa, tapi melihat keseriusan pertanyaan Akira ia tak sampai hati untuk terbahak.

    “Tidak... sudahlah... itu tidak penting, yang jelas kau jauhi saja dia...” ujar si mandor sambil kembali ke pekerjaannya.

    Akira kini terdiam sembari mendekap kedua lututnya di pinggiran tebing dimana bangunan tersebut berdiri. Kini dia makin penasaran, seolah ada yang ditutup – tutupi disini, dan jelas sebuah tugas baginya ketika ada hal mencurigakan di Kumogakure.

    “Ada yang tak beres, jelas ini ada yang salah disini....” menggigit jari jempolnya seakan benar – benar gemas dengan rasa penasaran yang melandanya saat ini. Sudah jadi kebiasaanya menginvestigasi sesuatu sampai tuntas.

    Tekadnya sudah bulat, malam ini ia berencana kembali ke bar, target nya kali ini benar – benar jelas, wanita itu, pertama hal yang ia harus dapatkan adalah namanya.

    Malam kembali menjelang, tampaknya hujan kembali akan turun malam ini, tapi itu tak membuatnya mundur selangkahpun untuk menjalankan apa yang akan dijadikannya sebagai misi.

    Sesampainya di bar, seperti biasa ia hanya memesan minuman ringan yang tak memabukan, segelas teh panas dan beberapa cemilan yang tersedia disana. Entah kebetulan apa yang menimpanya saat ini, si penjaga bar yang biasanya tak ada, kali ini wanita itu yang berdiri dibelakang bar. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan dengan pakaian putih dan serbet hitam yang tak begitu bagus meski masih terkesan rapi.

    “Hei kau !” Akira pikir orang itu memanggilnya, namun setelah ia menoleh kearah sumber suara, dia memanggil wanita itu sambil mengacungkan botol sake.

    “Tambah!” pekiknya kembali, memang ini di bar, tapi itu sedikit tidak normal untuk meminta seseorang menambah sake.

    “Cepat kau !” Sloki yang ada dihadapannya masih berisi sake, namun ia siram kan ke arah wanita itu. Lagi, sepanjang ia bertemu dengan wanita itu, dia diperlakukan tak baik oleh sekitarnya, itu bukan urusannya, tapi benar – benar gatal sekali melihat kejadian seperti ini .

    Wanita itu mencoba menuruti keinginan pria itu tanpa keluhan, tanpa kata, dia melakukannya. Akira sempat menggelengkan kepalanya, ketika melihat semua ini terjadi. Setelah wanita itu selesai melayani pria yang diujung bar tersebut, dia kembali ke hadapan akira, bukan karena ingin, tapi gelas kotor berada tepat didepan akira.

    Ada sedikit keraguan untuk mulai bertanya pada wanita itu, ia ingat pada apa yang dikatakan oleh si mandor di tempat kerjanya, jauhi masalah, artinya jauhi wanita ini, namun apa yang salah, jika dia sumber masalahnya ia harus tahu.

    “hei, kau tak apa – apa?” Ini pertama kalinya ia menyapa wanita itu. Yang akira takutkan ternyata benar, tatapan yang sama, seolah hanya dia yang mendapat tatapan itu, padahal justru Akira yang tak melakukan apapun padanya. Justru pria yang menyiramnya dengan sake pantas mendapatkan hal seperti itu.

    “Bukan urusanmu...” Ini baru pertama kalinya Akira mendengar suara wanita yang selama ini menatapnya dengan tatapan kurang menyenangkan, paras cantiknya tidak menolong sama sekali, tak ada rasa tertarik meski Akira seorang lelaki, jika ditatap seperti itu yang ada hanya balik kesal.

    “Ya ampun...” Gumam akira meratapi nasibnya yang seolah tak dibutuhkan wanita ini.

    “Baiklah... Tak apa, memang benar bukan urusanmu, aku hanya melakukan yang seharusnya, tampaknya kau kesulitan hidup disini” Lanjutnya sambil menyesap aroma teh yang sering ia pesan.

    Wanita itu tampak cuek dengan apa yang diucapkan oleh Akira, dia hanya memfokuskan pada gelas yang kini sedang ia lap dengan kain bersih. Akira adalah informan ulung, dia mampu menempatkan diri dalam situasi seperti ini.

    “Mau ku traktir minuman” Rubah strategi, sedikit lebih agresif untuk menarik perhatian, dengan semakin banyak bicara dan berkomunikasi, dia akan mendapat banyak sekali informasi meski itu akan jadi awal yang buruk baginya.

    “Tak bisakah kau melihat aku sedang bekerja disini tuan?” Lagi – lagi suara lembut dibalut nada ketus itu kembali meluncur begitu lancarnya dari bibir sang dara.

    “Siapa namamu” kali ini dia benar – benar merubah manuvernya menjadi lebih agresif.

    “Jika aku memberikan sebuah nama, bisakah kau berhenti bertanya, aku harus segera menyelesaikan tugasku dan pulang...” Jawab si bartender magang ini.

    “Tergantung...” tukas Akira, tanggapan si wanita hanya membalasnya dengan tatapan dingin, meski dalam hatinya si wanita merasa kebingungan dengan kalimat yang baru saja diucapkan Akira tersebut.

    “Yuuka, Hasegawa...” Tuturnya sembari meninggalkan Akira. Pria ini bekerja langsung dibawah pimpinan departemen intelejen Konoha, dan kemampuannya melacak jejak informasi sudah sangat diakui di desa nya, itulah salah satu alasan mengapa ia di kirim jauh – jauh ke kumogakure, dia tahu mana orang yang tengah berbohong dan tidak.

    “Binggo...” Gumamnya puas, Konoha punya banyak jaringan informasi yang dapat diandalkan, setidaknya sebuah nama akan menjadi modal utama baginya, tapi bukan jaminan bahwa semua akan jauh lebih mudah.

    Puas dengan apa yang ia dapat, ia segera bergegas pulang, keluar dari bar dengan sedikit terburu – buru karena hujan sepertinya akan turun, langkahnya sedikit cepat menyusuri jalanan pinggiran desa, ada beberapa rencana yang akan ia kembali lancarkan untuk mengorek informasi dari wanita itu.

    “mungkin saja dugaanku benar... bahwa dia adalah jinchuriki, aku harus benar – benar menyelidiki kasus ini” pikirnya ketika sedang berjalan, entah kebetulan atau apa, diantara koridor – koridor desa kumogakure yang sedikit lebih sempit di zaman ini, dia kembali menangkap sosok wanita itu, kini ia tahu namanya, Hasegawa Yuuka.

    Seperti biasa, di gang yang sama dia berdiri termangu, kali ini Akira benar – benar berniat menyelidiki siapa Yuuka sebenarnya.

    “Kemarin dia bertemu seseorang di gang ini, aku penasaran siapa dia...” kali ini dia mencari sudut mati agar tak terlihat secara langsung oleh Yuuka, hujan mulai berjatuhan, ini buruk bagi seorang informan, hujan akan mengaburkan suara yang akan diucapkan objek.

    “Benar saja... dia menemui pria yang sama... siapa dia, aku harus lebih dekat...” gumamnya dalam hati, sembari menggeser sedikit posisi nya. Pria itu berkulit hitam dan sedikit kekar, dia tak mengenakan seragam shinobi, tapi Akira benar – benar curiga dengan hal ini, hujan kian deras, sementara Yuuka terlihat bercakap dengan pria itu, tapi Akira tak mampu mendengar apa yang diucapkannya, tampaknya hal yang serius.

    Beberapa detik kemudian sepertinya posisi bersembunyi akira ketahuan, pria legam yang memunggunginya kali ini menoleh ke arah dimana Akira bersembunyi.

    “Shimatta!” saatnya lari, Akira meloncat dengan kecepatan tertinggi yang ia mampu.

    “Siapa dia sebenarnya?” Pria bertubuh besar dan legam itu bertanya pada Yuuka.

    “Dia target kita, biar saya urus taichou” Entitas misterius yang dipanggil taichou itu hanya menatap pada Yuuka dan menghela nafas.

    “Terserah kau saja... Aku akan melaporkannya pada raikage...kau urus dia” Lalu pria itu lenyap dalam kegelapan dan lebatnya hujan.

    “Makasete kudasai... Taichou...” Balas Yuuka sembari membungkukan badan. Setelah semuanya tenang, tampaknya Akira sudah berhasil kabur jauh, namun Yuuka tampak tidak berniat melepaskan akira.

    Sebuah kilatan listrik yang dihasilkan dari chakranya tampak memercik diantara kedua telapak kakinya, teknik yang membuat langkahnya semakin cepat sehingga dia mampu meningkatkan kecepatannya lebih dari shinobi biasa.

    “Kenapa kau mengikutiku, Akira dari Konoha!” Sebuah sambaran kunai mendatar menyasar leher sang adam dengan telak.

    “Cepat sekali!” Wanita itu tiba – tiba saja ada dihadapan akira dan menyambarkan kunai ke arahnya padahal jarak diantara mereka Akira yakin sudah cukup untuk menghilangkan jejaknya.

    “Bagaimana bisa kau...ngh!?” tiba – tiba saja garis merah sepanjang pipi Akira mulai terlihat, akira mengelus pipinya yang kini mulai mengeluarkan darah hasil goresan Yuuka.

           “Siapa kau sebenarnya!?” tanya Akira beringas.

    “Bukankah aku sudah bilang namaku Hasegawa Yuuka, aku jujur, tak seperti kau... menyembunyikan identitasmu sebagai kaki tangan departemen intelejen shinobi konoha!” Timpal Yuuka sengit.

    “Tsk...” Pilihan seorang shinobi yang misinya ketahuan adalah, bertarung lalu membunuh lawannya, kedua kabur dan menghilangkan jejak. Akira tak bisa memilih yang pertama, itu memicu perang baru, namun ia kini mengeluarkan kunai dan merogoh shuriken untuk berjaga – jaga dari serangan cepatnya.

    “Konoha benar – benar busuk...” Seolah hanya itu saja yang ingin disampaikan Yuuka pada Akira, kini tubuh langsinya melesat menuju pria yang sudah lama ia awasi selama ini, berawal dari kecurigaan pihak Kumo pada imigran negara api yang berdatangan secara estafet dan bergantian, pola seperti ini yang tidak disadari Konoha dapat menciptakan kecurigaan departemen intelejen Kumo, sehingga pihak mereka mengirimkan Yuuka untuk menyelidiki intel Konoha.

    Akira benar – benar tidak dapat mengelak saat ini, satu – satunya cara adalah melawan Yuuka untuk mencari celah kabur, namun sepertinya sedikit sulit, kontur geografis kumo benar – benar menyulitkannya, kemudian hujan lebat ini menghambat pergerakannya.

    “Cih...Shikatanai... Suiton ! Suiryuudan no jutsu!” Gumpalan air dari tiap genangan menyatu dan membuat pusaran air yang kemudian melesat maju menghantam Yuuka dengan cepat.

    Alih – alih mengenai Yuuka dengan telak, wanita itu sudah berada di hadapan Akira sembari menghujamkan jemarinya yang dibentuk selancip mungkin, terlebih dilapisi aliran chakra raiton.

    “C-cepat sekali wanita ini!” pikir akira, dengan refleks nya yang sekelas jounin dia memutar tubuhnya kebelakang sembari menyambarkan tendangan ke arah lengan yang mengarah kepadanya hingga lengan Yuuka mengambang di udara.

    “Kesempatan!” dengan cepat dia meraih kunai di kantung belakangnya dan melontarkan tubuhnya sesuai dengan momentum yang dihasilkan telapak kakinya saat berhasil mendarat dengan aman, Yuuka sadar betul Akira akan menyerang balik, tubuhnya yang ramping masih melayang bebas dengan chakra raiton di kedua telapak kakinya, ketika mendarat dia sudah siap dengan shuriken dan kunai yang tengah ia rogoh ketika di udara.

    Lesatan shuriken dari balik pinggul sang hawa telak mengarah pada Akira, meski Yuuka tahu itu tak menghentikan pria yang kini jadi lawannya, dentangan dua logam yang beradu memecah gemercik hujan yang sedikit mereda, dua tatapan iris yang saling bertentangan kini beradu dalam jarak yang dekat, keduanya menekan kunai ke arah berlawanan dengan niat melukai satu sama lain.

    “Tak kusangka kau mata – mata kumogakure!” Ucap Akira geram.

    “Kau sendiri yang memulai! Kami hanya melindungi diri!” Balas Yuuka sengit.

    “Melindungi dari apa!? Hal buruk yang akan kalian lakukan!?” nada bicara akira kian meninggi.

    “Apa!? Memang apa!? Lagipula jika iya ini bukan hak mu untuk tahu!” Yuuka menekan lebih keras kunai nya hingga kunai Akira terpental ke salah satu sisi, diikuti tendangan memutar yang menghantam rahang Akira.

    Akira ambruk mendapat tendangan raiton dalam jarak sedekat itu. Refleks super cepat ditunjukan Yuuka, dada Akira ditahan lutut mulus wanita itu hingga ia tak dapat bergerak, ditodongkan nya bilah kunai yang kini mengiris tipis kulit leher Akira.

    “Bergerak sedikit aku akan memotong arteri mu hingga kau akan menggelepar disini...” Ancam Yuuka dengan keras.

    “Dengar, aku akan membiarkanmu pergi, tapi jika aku melihatmu memijak negara petir, apalagi desa kami, aku takan segan lagi” Bisiknya dengan nada meyakinkan. Akira benar – benar kalah telak saat itu, bukan karena ninjutsu dan taijutsunya, tapi dengan kata – kata Yuuka.

    Kini kunai di lehernya mulai melonggar, sesak akibat tekanan lutut wanita itu pun kini berkurang, tubuh ideal itu kini berdiri disamping akira yang terbaring menerima langsung rintik hujan. Tak berkata apapun akira menopang tubuhnya dan bangkit dengan cepat, ia masih menatap dingin mata Yuuka, begitupun Yuuka. Akira berbalik dan memunggunginya, menghela nafas sejenak kemudian melangkah menjauh.

    “Cih...” desisnya pelan.


    Bersambung...
    H O P E
    Posted Image
    Aku masih ingin hidup, banyak yang harus kulakukan, banyak yang harus kuraih, banyak yang harus ku pertahankan. Hidupku harus berlanjut.
    Signature by Uchiha Ayuka

    OFF Profile Quote
     
    1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous)
    ZetaBoards - Free Forum Hosting
    Fully Featured & Customizable Free Forums
    Learn More · Sign-up Now
    « Previous Topic · Fanfiction · Next Topic »

    Free Hit Counter
    2013-2016 Shinobi Another Dimension
    Forum by Setsuna. Skin by セイ. Content by members. All images, themes, textures and javascripts belong to their respective owners. Please do not steal anything. Hosted for free by Zetaboards.