|
Rules
Guide Index
How to Play
Information
Updates
Face Claims
Point Report
Shop
Opreg | 6/8, 10 AM - 8/8 √ Informasi lebih lengkap mengenai opreg dapat dilihat di sini. √ Baru bermain di SAD? Silakan baca panduan mendaftar di sini. √ Merasa postmu sudah cukup banyak? Klaim bonus 500 point kamu di sini! Tentu saja, baca ketentuannya lebih dulu, ya. √ Segala jenis pendaftaran di forum SAD dinyatakan sah jika telah diapprove oleh AKUN STAFF. Di luar itu, tidak sah. |
Quick News
Welcome to Another Dimension
SAD (Shinobi Another Dimension) merupakan forum roleplay 2D berbasis teks deskriptif bertemakan Naruto di dunia militer Jepang modern. Bergabunglah dengan kami dan rasakan kehidupan seorang Shinobi di balik bayangan!
Best RPer March 2016
![]() |
Summer/Fall 2017
Quota
KARAKTER SPESIAL
KLAN Census
|
| Selamat datang di Forum S A D kami berharap anda menikmati kunjungan ke forum kami. Sekarang anda sedang melihat forum sebagai pengunjung. Itu artinya anda memiliki keterbatasan menikmati fitur - fitur yang ada diforum ini secara lengkap. jika anda mendaftar ke forum kami, anda akan langsung terdaftar sebagai member kami dan dapat mengikuti RP bersama kami. Ayo bergabung! Jika anda sudah terdaftar sebgai member kami, silakan melakukan log in terlebih dahulu untuk mengakses profil anda. |
| The Blood Is Not Red | |
|---|---|
| Tweet Topic Started: Wednesday, 16. December 2015, 17:41 (87 Views) | |
| Uchiha Masaaki | Wednesday, 16. December 2015, 17:41 Post #1 |
![]() ![]()
|
Masaaki, Kaibara, Hatsuki dan, Kyoshiro merupakan sahabat dekat. Nama yang pertama kali disebut adalah anggota elit kekaisaran. Umurnya 17 tahun, kelas tiga sekolah menengah atas dan menjabat sebagai anggota OSIS. Lalu Kaibara, si jenius yang menciptakan AI yang bersuara layaknya tokoh adik di anime-anime. Tidak jago di pelajaran Olahraga. Taken. 17 tahun. Selanjutnya adalah orang yang menurut Kaibara paling menyebalkan di kelas mereka. Yuki Hatsuki. Hampir memiliki nilai sempurna di semua mata pelajaran, terkhusus di mata pelajaran kesenian. Umurnya juga 17 tahun. Saat ini sedang menjalin asrama--asmara, dengan seorang gadis di kelas yang sama. Lalu yang terakhir si shota. Pendatang baru di Ibukota. Dia berasal dari Osaka. Memilih SMA Yamamoto, sekolah mereka saat ini, karena sudah Go International. Berteman baik dengan Masaaki sejak memasuki SMP meski bertatap muka hanya melalui kecanggihan teknologi. Oh, sebenarnya alasan orang ini jauh-jauh bersekolah di Ibukota karena pacarnya mendaftar di SMA ini. Iya, dulu mereka itu kalau istilah zaman sekarang... LDR-an. IF YOU DO NOT LIKE, DO NOT READ. FFIC INI PENUH DENGAN OOC DAN TYPO DIMANA-MANA. SERTA KENTANG. IYA KENTANG. YOU KNOW KENTANG. Kriiiiiing. Bel istirahat terdengar. Adalah jam yang paling ditunggu oleh kebanyakan murid. Dimana mereka melahap bekal yang telah disiapkan dari rumah, dan tempat yang paling cocok untuk menyantapnya adalah atap sekolah. Sudah menjadi rutinitas grup yang beranggotakan empat orang lelaki ini menyantap bekal mereka diatap bersama murid lainnya. Namun sebulan yang lalu, akibat terjadi insiden pemerkosaan oleh seorang guru di atap sekolah, pihak sekolah memutuskan untuk mengunci pintu menuju kesana. Tapi jangan remehkan seorang Uchiha Masaaki. Sebagai anggota OSIS, ia bisa meminjam kunci manapun pada penjaga sekolah termasuk kunci menuju atap. Meskipun tetap saja ilegal. Jika ketahuan oleh ketua-OSIS-yang-cerewet-nan-galak itu, mereka berempat bisa-bisa dilaporkan ke guru dan masalah besar menanti. Mereka berempat duduk bersila dan membuat lingkaran kecil. Di pangkuan mereka tampak bekal yang siap dilahap. Berdoa sejenak, dan secara serempak, "itadakimasu!" lalu membiarkan keheningan naik takhta untuk sejenak. Tidak ada suara yang keluar kecuali dari mulut mereka yang sibuk membolak-balik ataupun menyunyah bekalnya. Angin berhembus setenang suasananya. Benar, 'kan? Lokasi yang paling cocok menyantap makan siang. Tidak ada tempat sebaik ini di sekolah. Bahkan menjadi lokasi yang cukup strategis untuk tidur siang. "Aah, kenyangnya." Si pemilik surai biru yang telah menghabiskan bekalnya tampak berbaring. Kedua telapak tangannya menjadi bantalan bagi kepalanya. Sementara safir birunya memperhatikan burung-burung kecil terbang melintasi langit yang biru. Begitu bebasnya mereka terbang kesana-kemari. Tanpa beban. Hingga tanpa sadar angin yang telah berhembus tenang membuatnya terlelap. Sejuk. Kebiasaan buruk Yuki Hatsuki sehabis makan siang. Dan kebiasaan buruk Uchiha Kaibara menjahilinya setiap kali temannya itu tertidur. Kali ini, ia melibatkan Masaaki dan Kyoshiro. Bersama-sama mereka meninggalkan Hatsuki seorang diri. . . . "Ne, ne, bukankah kita sedikit jahat?" kekasih dari Nara Keiko itu berbisik kepada Masaaki yang duduk di sebelahnya. Menutupi wajahnya dengan buku agar tidak ketahuan oleh Touma-sensei yang sedang menerangkan pelajaran. Masaaki melirik dengan menggunakan sudut matanya. Dan membalas singkat sebelum kembali memperhatikan pelajaran, "itu idemu, bodoh." Kyoshiro menatap kursi Hatsuki yang masih ksosng kemudian memutar tubuhnya. "Dia belum kembali. Mungkin masih tertidur?" kepada Kaibara. "Paling juga bolos, taulah gimana dia." Sialnya, Masaaki tidak mengatur volume suaranya ke paling rendah sehingga sebuah kapur mendarat tepat di dahinya. Terdiam. Semua mata tertuju padanya. Dan sebuah perintah mutlak dari sang sensei, "keluar!" . . . 16.05. Bel pulang telah berbunyi lima menit yang lalu. "Ini gara-garamu, kusso." Masih kesal kepada Kaibara akibat insiden kapur saat mata pelajarannya Touma-sensei. Sambil membereskan buku-buku ke dalam ranselnya. "Tidakkah kita kekurangan satu orang?" perkataan Kyoshiro membuat dua lainnya melihat ke kursi milik Hatsuki. "Are? Masih tertidur?" lihat dia, tak ada sedikit rasa bersalahpun pada wajah kemayunya. Ketiganya menatap satu sama lain secara bergantian. Seakan memiliki kemampuan telepati, mereka secara serempak meninggalkan kelas menuju atap. "Arata, tunggu sebentar ya!" "Tsubaki, nanti aku kirimkan pesan!" "Tunggu aku ya Keiko sayaaang." . . . "Hoi, hoi, dia tidak ada disini..." "Sudah kukatakan, Kyo-chan. Dia bolos. Pasti saat ini sedang bersenang-senang di taman kota." Ujar Masaaki dengan nada malas. "Telepon dariku juga tidak diangkat," sambungnya. "Hm? Mungkin lowbat dan mati total." Yup. Positive thinking seperti pemuda jenius yang menciptakan A.I ini. "Kau tahu, kita semua mengenalnya. Jika ingin ke taman pasti kita diberitahu sebelumnya." Langkah kaki milik pemuda bertubuh mungil itu terdengar jelas ketika melangkah dari atap menuju lorong sekolah. Kaibara dan Masaaki mengikuti dari belakang. "Hei, bukankah ini sebuah lelucon? Dia tahu kita pasti khawatir lalu mencarinya. Dia menipu kita..." "Kupikir tidak. Halloween sudah berlalu, Masaaki." Ketika Kaibara menyebutkan halloween, sontak membuat Masaaki berpikir keras. Apa hubungannya? "Jadi..." Kyoshiro memutar tubuhnya, berhenti sejenak. "Darimana kita akan memulainya?" "Bagaimana kalau kelas-kelas terlebih dahulu? Mengingat sebentar lagi pak tua itu akan menguncinya." Tambalnya. Masaaki dan Kaibara mengangguk tanda setuju. Yang kemudian memulai misi pencarian teman mereka. . . . Butir-butir keringat tampak dengan jelas dari wajah mereka. Secara bersamaan mengatur irama napasnya. Langkah kaki tidak lagi tegap. Kelelahan yang mereka terima tidak sebanding dengan hasilnya. Hari mulai gelap. Langit yang berwarna oranye kekuning-kuningan mulai berubah warna menjadi sedikit kelam. Di sekolah ini, pada pukul 18.50, seharusnya sudah tidak ada lagi siswa-siswi yang berkeliaran di sekolah. Penjaga sekolah yang tidak muda lagi itu mulai memeriksa seluruh ruangan kelas. Lalu menguncinya. Hampir tidak ada tempat bagi ketiga pelajar ini untuk bersembunyi. Di atap? Tidak. Memilih atap untuk bersembunyi sama saja dengan bunuh diri. Mereka hanya akan terjebak disana karena Uchiha Masaaki tidak lagi memegang kunci menuju atap. Sudah dikembalikan kepada ketua OSIS. Pada akhirnya ketiganya sepakat untuk menyembunyikan diri di balik pohon yang cukup lebat yang tertanam di taman sekolah. Menunggu hingga penjaga sekolah selesai dengan pekerjaannya adalah satu-satunya opsi yang mereka punya. Sialnya, pohon yang mereka pilih untuk bersembunyi mengeluarkan bau yang tidak sedap. Bau yang tidak biasa. Menyengat. Menusuk paru-paru jika mencoba menghirupnya. Untuk menghindari kematian (bukan dalam artian yang sebenarnya), mereka menjepit hidung masing-masing dengan telunjuk dan ibu jari. "Sampai kapan kita harus terus seperti ini?" Kaibara mengeluarkan suara yang cukup aneh, mengikat ia sedang menjepit hidungnya. "Sebentar lagi. Untuk sementara bernapaslah dengan menggunakan mulut," Kyoshiro memberikan saran sebagai orang yang mengusulkan tempat ini untuk bersembunyi. Sementara Masaaki, sibuk mengintip dari balik batang besar nan kokoh pohon itu. Menunggu saat yang tepat untuk keluar. "Aku sudah menghubungi orangtuanya. Mereka mengatakan Hatsuki belum pulang dan sudah meminta izin untuk pulang lebih lama." Masih mengintip. Sesekali iris yang sewarna dengan mahkotanya itu melirik ke arah smartphone miliknya. Menunggu balasan pesan dari Arata. "Maaf tidak bisa pulang bareng, aku ada sedikit urusan. Menjadi anggota OSIS ternyata merepotkan, ya. Hehehe." Begitu tulisnya dua jam yang lalu, tetapi belum dibalas juga. "Masih belum dibalas juga?" "Belum..." "Kasihan, mungkin dia sedang berselingkuh." "Diam, atau kubunuh kau." "Aku cuma mengingatkan, sih. Arata-san itu memiliki tubuh yang bagus. Oppai ranking S, dan wajah mulusnya—wow." Tatapan membunuh dari Masaaki menghentikan ocehan Kaibara. "Just kidding bro," pokerface. "Kyo-chan, menurutku sudah aman." Irisnya mengikuti tubuh sang penjaga sekolah dengan jaket gelapnya sedang berjalan ke gerbang sekolah menuju rumahnya yang terletak bersebelahan dengan gedung sekolah. "Clear. Ayo!" Laksana seorang pemimpin pasukan khusus, Kyoshiro memberi perintah untuk kembali memulai misi. Tapi langkah Izumi Kyoshiro tiba-tiba berhenti ketika menyadari Uchiha Masaaki tidak berlari mengikutinya. "Ada apa?" melihat ke arah si pemilik surai cokelat itu. "Kurasa..." mengeratkan genggaman tangan pada ponselnya. "Dia mempermainkan kita." Sebelum dipotong, segera dia menambahkan, "—tertidur di atap. Tidak mengikuti pelajaran dan secara misterius menghilang sampai saat ini. Tidakkah kalian berdua merasakan kita sedang dipermainkan? Maksudku, ia bahkan sudah meminta izin kepada orangtuanya untuk pulang larut." "Tch—" kesal, Masaaki membuka smartphone-nya. Memilih menu kontak, scroll ke bawah dengan telunjuknya. Senju Yume. Calling... "Moshi-moshi. Konbanwa, Yume-san." "...k, konbanwa—Uchiha-san. Ada apa menelepon?" terdengar suara yang cukup merdu yang berasal dari seberang telepon. "Hatsuki sedang bersamamu?" to the point. "Hatsuki-kun? Iie. Tapi bukannya sedang bersama Uchiha-san dan yang lainnya?" "Dengar. Kapan terakhir kali kalian berkomunikasi?" "Pukul lima sore. Ketika itu ia mengirim pesan bahwa ia harus mengerjakan sesuatu di sekolah. Dan juga—" Tiit, tiiit, tiiit. Sambungan telepon diputus paksa oleh Masaaki. Paling tidak, informasi dari Senju Yume membuat Uchiha Masaaki harus meralat perkataannya. Kini pukul tujuh malam. Sudah mendapatkan izin pulang larut malam dari orangtuanya. Mengatakan ia harus mengerjakan sesuatu di sekolah. Dan−bel pulang itu berbunyi pada pukul empat sore... “Yappari,” dengan menjentikkan jarinya hingga berbunyi. Lalu menyimpan smartphone-nya di saku celana. “Dia masih berada di sekolah.” Tidak biasanya Uchiha Masaaki menunjukkan ekspresi seserius ini. “Kenapa kau seyakin itu? Padahal tadi sikapmu sangat berbanding terbalik.” Dengan menoleh pada Kaibara, “ba-ka~” Silakan bersweatdrop ria, Uchiha Kaibara. “Jadi, Kyo-chan, apa yang harus kita lak−“ “AAAAAAAAAAAA......” “Suara teriakan?! Apa yang dilakukan orang itu pada jam segini, tsk!” Kyoshiro menendang sebuah kerikil ke sembarang arah. “Chotto... sepertinya suara itu tidak asing bagiku...” Masaaki melangkah maju sambil memandangi gedung sekolah dengan kekhawatiran pada wajahnya. Sebelum akhirnya kakinya bergerak tak kalah cepat dari irama napasnya dan segera menghampiri sumber suara. Kaibara dan Kyoshiro mengikuti dari belakang; berusaha menyejajarkan langkah kaki dengan Masaaki. BRAK! Dengan tubuh terlatihnya Uchiha Masaaki berhasil mendobrak pintu ruang kesenian itu. Irisnya terbelalak begitu mendapati gadis bersurai kelam sebahu itu bermandikan cairan merah kental sedang terpojok di sudut ruangan. Masaaki menghampirinya dengan penuh rasa takut; Tubuhnya gemetar. Hal yang sama terjadi pada gadis itu. Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan rasa takut yang hebat. Hingga Masaaki berjongkok dan melihat ke arah obsidian milik sang gadis. Tatapannya kosong. “Apa yang terjadi, Arata?” lidah gadis itu masih terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan dari sang kekasih. Masaaki memperhatikan setiap inci tubuh proporsional milik kekasihnya itu. Dan memastikan sang kekasih tidak tergores sedikitpun. Lalu darah siapa yang membasahi seragam Arata? “Daijoubo,” menepuk kedua belah pundak Arata, dan mengecup dahinya lembut untuk menenangkannya. “Hei. Masaaki. Kau harus lihat ini...” dengan telunjuknya, Kaibara menekan saklar untuk menerangi ruangan kesenian itu. . . . “Terjadi pembunuhan mutilasi di SMA Yamamoto, Shinjuku, yang menewaskan putri bungsu salah satu anggota Kekaisaran, Tanaka-sama. Polisi saat ini sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut−” dengan sebuah remote yang berada di tangannya, Kaibara mematikan televisi yang sedang ia tonton bersama Kyoshiro dan Hatsuki di kamar sang pemuda Uchiha. Akibat dari insiden ‘itu’, pihak sekolah memutuskan untuk meliburkan anak didiknya selama tiga hari untuk menghindari trauma. “Aku turut berduka cita. Pasti sangat berat bagi Masaaki.” Ucap Kaibara sambil berjalan menuju jendela kamarnya, menatap langit yang masih belum terlalu panas. “Mau bagaimana lagi. Aku ingin menghiburnya tapi tidak mendapatkan izin oleh petugas.” Sementara Hatsuki, sibuk mengetik sesuatu pada smartphone-nya. Seakan tidak peduli dengan sekitarnya. “Hatsuki?” “Hm?” “Kemarin kami mencarimu. Kemana kau bodoh.” Hatsuki beranjak dari tepi kasur itu. “Bukankah sudang kukatakan pada Kaibara. Aku menyusun laporan klub kesenian dan ponselku mati. Saat pembunuhan itu terjadi, aku sudah tidak berada di sekolah.” Ding, dong. Bel berbunyi. “Biar aku yang membukanya,” sebagai tuan rumah sudah seharusnya seperti itu. “Selamat pagi. Kami dari kepolisian.” Pria tegap berseragam layaknya kebanyakan detektif menunjukkan lencananya pada Kaibara. “Kami mencari dua orang saksi yang saat itu tengah berada di TKP.” “O-oh. Saya sendiri dan seorang teman saya.” “Ikut kami untuk membantu penyelidikan.” . . . “A-ah. Ada Arata-san ternyata.” Kaibara mengusap kepala belakangnya sambil mengikuti pria yang berasal dari kepolisian itu. Gadis dengan panjang rambut sebahu itu sedikit membungkukkan tubuh proporsionalnya pada Kaibara dan juga Kyoshiro. Hal semacam itu mau tidak mau harus ia lakukan demi menjaga image keturunan Hyuuga kalangan atas. Hyuuga Arata, yang saat ‘itu’ juga berada di TKP, tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya. Pria kekar berseragam detekif itu menuntun ketiganya memasuki ruang kesenian dengan melewati Police Line terlebih dahulu. Bercak-bercak darah yang tersisa masih tampak di beberapa sudut ruangan. Peralatan kesenian juga ikut terkena noda darah. “Baiklah,” suara bariton sang detektif membuat ketiganya mengalihkan fokus. “Anak muda, apa yang kalian lihat pada saat itu?” sebelum melontarkan pertanyaan, petugas yang lain menyiapkan empat kursi untuk empat orang agar proses penyelidikan berlangsung lancar. “Aku, orang ini, dan kakak korban awalnya ingin mencari teman kami yang belum pulang sekolah. Tetapi saat malam tiba, kami mendengar sebuah teriakan yang berasal darinya.” Alis milik Kyoshiro menunjuk pada Arata. Yang kemudian mengangguk untuk membenarkan bahwa pada saat itu dirinya yang berteriak. “Aku masih tidak bisa menerima itu. Tsukino-chan sudah kuanggap seperti adik sendiri.” Kemudian dia menatap lantai, suaranya lirih dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada malam itu. “Dia dibunuh tepat dihadapanku dengan sebilah pisau tepat di jantung, lalu menusuk perut dan mengeluarkan isinya dan−”gadis yang saat ini menjalin hubungan dengan Uchiha Masaaki itu hampir mengeluarkan isi perutnya jika ia tidak segera menutup mulutnya. Lalu menelan kembali ‘objek’ yang hampir ia muntahkan tersebut. Menjijikkan. Kaibara melirik sinis pada Arata. “Maaf,” menaikkan syal merah yang melingkari leher indahnya. “Iie, aku memakluminya. Silakan dilanjutkan.” Arata mengangguk pelan dan kembali kepada pokok permasalahan. “Dia memakannya. Kanibalisme. Pembunuh itu menelan usus, lambung dan organ lainnya sambil menyetubuhi korban. Segera setelah semuanya selesai, pembunuh itu menghampiriku dan lalu aku berteriak, dia panik begitu mendengar langkah kaki yang mendekat dan segera kabur lewat jendela. Dan−” isak tangis yang sudah tertahan meledak. Trauma masih melekat padanya. “Go−men. Gomenasai,” ucapnya terbata-bata disela tangisnya, menyesal karena tak dapat melakukan apapun untuk melindungi satu-satunya adik dari sang kekasih. Kyoshiro beranjak menghampiri Arata dan menarik syal merah yang menutupi seluruh wajah Arata. Kemudian menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu. “Kau tidak bersalah, Arata-san. Kau melakukan yang terbaik dengan teriakan itu. Bayangkan apa yang terjadi bila kau tidak berteriak. Masaaki pasti seratus kali lebih depresi dibandingkan saat ini.” Arata merebut paksa syalnya dari genggaman Kyoshiro dan kembali ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Meskipun begitu, tangisannya perlahan mereda. “Baiklah nona muda. Tenangkan dirimu sejenak.” Karena akan ada pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan sang detektif. “Aku ingin tahu mengapa korban berada di sekolah pada malam hari itu.” Kyoshiro kembali duduk seperti semula dan menjawab pertanyaan sang detekif, “Uzumaki Tsukino mengikuti klub kesenian. Dan salah satu teman kami yang juga berada di klub yang sama mengatakan bahwa ia harus menyusun laporan tentang klub kesenian sehingga pulang lebih lama dari biasanya.” “Hoo...” detektif itu memasang ekspresi penuh curiga. “Tapi ia mengatakan pada saat pembunuhan itu terjadi dia sudah pulang, kok.” “Uchiha Kaibara-kun, benar ‘kan?” detektif itu tersenyum. “Disaat seperti ini jangan pernah percaya kepada siapapun kecuali jika sudah menemukan bukti yang konkrit.” “Pak, dia tidak mungkin melakukan itu. Kakak korban merupakan sahabat karibnya.” Giliran Kyoshiro yang membela. Nadanya sedikit bercampur dengan emosi. Detektif itu menarik napas panjang dan beranjak berdiri. “Kita hanya harus memastikannya. Cukup sampai disini.” . . . Dua hari yang lalu. Bel pulang sudah dibunyikan beberapa saat yang lalu. Bagi mereka yang mengikuti klub, diwajibkan untuk berkumpul sepulang sekolah. Tak terkecuali putra-putri pasangan Uchiha-Uzumaki itu. Si sulung berkumpul bersama anggota OSIS, dan si bungsu berkumpul bersama anggota lainnya di ruangan kesenian. Tidak lama, hanya satu jam yang berarti saat ini tengah pukul lima sore, kurang lebih. Masaaki melihat arlojinya. Sedang menunggu seseorang di depan gerbang sekolah bersama dengan Hyuuga Arata. “Oniisamaaa,” ini dia yang Masaaki tunggu. Adik perempuannya yang mengikuti klub kesenian itu melambai-lambaikan tangannya sembari berlari-lari kecil. “Yo, bagaimana aktivitas klubmu?” mengusap-usap rambut pink milik adiknya itu. “Tidak ada yang spesial kok. Eh? Ada Arata-oneesama. Hisashiburi, oneesama.” Arata dikejutkan oleh Tsukino. Dia memeluk Arata. Meskipun tengah berada di bangku kelas dua SMA, tapi tingkah laku Tsukino tak ubahnya seperti gadis berusia sepuluh tahun. “Hoi-hoi. Tsuki, oneesama-mu baru saja mengikuti rutinitas OSIS. Dia kelelahan.” “Ah, daijoubu-daijoubu. Dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri, dan kehadirannya menghapus rasa lelahku.” Arata tertawa pada Masaaki dan membalas pelukan Uzumaki Tsukino. Jemputan mereka sudah datang, dari Kekaisaran. Langsung saja memasuki roda empat yang sangat mewah itu. Anggapan Masaaki yang mengira supirnya adalah petugas yang biasanya ternyata salah. “Jadi ini gadis yang kau ceritakan itu, Masaaki? Seleramu benar-benar bagus, dia kelihatan cerdas. Ahahahaha, kau memang anak ayah. Selera kita sama. Dulu ibumu juga seperti ini. Ahahahaha.” Tawanya menggelegar, ia melirik Arata melalui kaca spion yang berada di dalam mobil. Sementara Hyuuga Arata hanya bisa memaksakan tawanya sembari menggaruk pipinya dengan telunjuk. “Otou-sama, jangan menggodanya... oh iya, kenapa yang menjemput otou-sama?” mengalihkan pembicaraan. “Oh, soal itu ya. Ayah hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja.” Apa-apaan itu. Masaaki membuang pandangannya ke luar jendela. “Seorang narapidana paling berbahaya berhasil melarikan diri beberapa hari yang lalu dan saat ini dalam pencarian polisi.” Nada bicara Uchiha Tanaka, ayah dari Masaaki dan Tsukino, berubah drastis. Kini dia serius. “Ha?” sukses membuat mulut Masaaki terbuka lebar. “Apa maksudnya, otou-sama?” kembali menatap sang ayah yang sedang mengemudikan tungganggan mewah itu. “Kalau soal Tokugawa Kazumazu, kau pasti tahu ‘kan Masaaki?” “Arata-chan juga pasti setidaknya pernah mendengar nama itu ‘kan?” Gadis itu mengangguk. “Kurang lebih tujuh tahun yang lalu dia merupakan buronan Internasional. Sebelum akhirnya berhasil ditangkap di tempat persembunyiannya oleh militer Jepang.” “Apa kesalahan yang telah diperbuatnya?” memutar kepalanya dan bertanya pada Arata. Gadis itu menjawab. “Pembunuhan berantai, mutilasi, dan pencabulan terhadap anak usia dini. Pedofilia.” “Dan yang membuatnya menjadi paling berbahaya dibandingkan teroris adalah jumlah korbannya yang sangat banyak. Pihak kepolisian dan intelijen berusaha menutupi informasi itu, tapi ayah melihat langsung berkasnya. Total lebih dari sepuluh juta kasus yang tersebar di seluruh dunia.” Pria dari dua anak itu menambahkan kalimat Arata. “Lalu otou-sama pikir aku tidak bisa jaga diri? Apa-apaan itu.” Mengerem mendadak. Lampu merah. “Begini. Mungkin kamu bisa menjaga diri. Tapi,” melirik putri bungsunya melalui kaca spion yang sedari tadi asyik memainkan sebuah game pada ponsel pintarnya. “Dia tidak bisa. Terlebih lagi Tokugawa Kazumazu ini adalah seorang pedophil.” Lampu hijau. Kembali berjalan, dan berbelok ke kiri. “Kau sayang pada adikmu, ‘kan Masaaki? Maka biarkan ayah menjemput kalian untuk beberapa hari ini. Ah, kecuali besok. Esok hari Kekaisaran Jepang akan kedatangan tamu istimewa dari Jerman.” “Hai~ hai~” ***** “Moshi-moshi...” “Ah, Masaaki. Bagamana perasaanmu?” Tidak menjawab pertanyaan dari Kyoshiro. “Kalian ada dimana? Kudengar kalian baru saja diinterogasi bersama Arata?” Interogasi bukan kata yang tepat. “Ah, kami berada di taman Sankaku. Iya, tadi siang aku, Kaibara dan Arata-san menjadi saksi. Dan Masaaki, kenapa tidak cerita tentang pria yang bernama Tokugawa Kazumazu itu?” “Rendahkan nadamu Kyo-chan. Tunggu, kau tahu dari siapa...?” “Arata-san yang cerita.” “Berikan ponselmu padanya, aku ingin berbicara dengannya.” “Moshi-moshi, Masaaki-kun.” Nadanya pelan, terkesan takut untuk menghadapi pemuda cokelat itu. “Kenapa diberitahukan ke yang lain? Kau tahu ‘kan apa yang akan terjadi bila orang lain mengetahui hal ini? Akan ada kekacauan. Jepang sengaja menutupi informasi ini pada dunia luar agar PBB dan Amerika tidak mencampuri Negara kita. Apa yang akan terjadi bila dunia tahu Jepang belum juga mengeksekusi kriminal ini? Kita sedang berurusan dengan Tokugawa. Kau sendiri berhak mengetahuinya karena berasal dari Hyuuga golongan atas.” “Gomen.” “Tidak perlu meminta maaf. Sekarang cepat kembali ke rumah. Hari semakin gelap, aku khawatir orang 'itu' masih berkeliaran untuk mencari mangsa baru.” Sambungan telepon ditutup paksa. . . . Pada akhirnya, Masaaki tidak bisa bertemu dengan teman-temannya karena ketatnya pengawasan di Istana. Badan intelijen Jepang menduga bahwa target ‘The Last Tokugawa’ ini adalah orang-orang yang berada di Kekaisaran. Karena merekalah yang telah membuatnya menjadi seperti itu. Dan korban pertamanya pasca melarikan diri adalah Uzumaki Tsukino. Sang Kaisar sangat shock atas apa yang terjadi pada cucunya. Sehingga ia memberikan penjagaan super ketat pada dua cucunya yang masih hidup, Uchiha Masaaki dan Uchiha Kagami. Keduanya terlihat sedang mendiskusikan sesuatu di dalam kamar serba pink itu. Duduk di tepi ranjang. “Kau yakin dengan rencanamu ini?” Sang Kaisar memiliki dua orang anak lelaki. Yang pertama adalah Uchiha Yukihiro dan memiliki seorang anak perempuan bernama Uchiha Kagami. Lalu anak kedua bernama Uchiha Tanaka. Menikah dengan seorang Uzumaki dan dikaruniai sepasang anak, Uchiha Masaaki dan Uzumaki Tsukino. “Sangat yakin,” balas Masaaki. “Kau sudah gila Masaaki.” “Tapi kau tetap akan membantuku ‘kan?” “Tentu.” “Terimakasih, lagipula rencana ini tidak akan berjalan lancar bila tidak melibatkan seorang gadis muda. Tenang, nyawamu kupastikan aman.” “Tapi kau sedikit jahat. Membuat sepupumu sendiri menjadi umpan.” Terdengar tawa hambar dari Kagami. “...kau sendiri yang menawarkan diri...” “Hai, hai. Jadi, setelah masuk sekolah ‘kan?” “Hem.” . . . Tiga hari berlalu begitu saja. Sekolah kembali memulai aktivitas seperti biasa, namun kali ini proses pembelajaran dimulai dengan mengadakan sebuah upacara terlebih dahulu untuk mengenang siswi yang tewas secara mengenaskan beberapa hari yang lalu di ruang kesenian. Proses belajar-mengajar pun berjalan lancar. Meskipun pihak sekolah memutuskan untuk memulangkan siswa-siswinya lebih cepat dari jadwal normal. Setelah jam makan siang usai, bel panjang berbunyi. Tanpa menyapa kekasih atau sahabatnya, Masaaki lekas keluar dari ruang kelas itu bersama Kagami. Seakan ia tidak pernah mengenal mereka. “Apa-apaan itu.” Kyoshiro menahan lengan Kaibara yang hendak mengejar Masaaki. Uchiha Kaibara tidak tahan lagi dengan tingkah laku pemuda pemilik nama Uchiha Masaaki itu yang sejak tadi pagi selalu berusaha menghindari sahabatnya, bahkan kekasihnya. Seakan tidak pernah ingin mengenal mereka. “Boleh saja menghiraukanku, tapi dia bahkan tidak berbicara pada Arata-san.” Mendengar namanya disebut, gadis itu terdiam untuk beberapa saat, lalu meraih ranselnya dan menghampiri Senju Yume untuk pulang bersama. “Biarkan saja dulu. Dia masih shock.” Beralih ke Yuki Hatsuki yang sedang membereskan buku-buku ke dalam ranselnya. “Kau tidak ada kegiatan lain hari ini?” Kyoshiro bertanya. “Tidak juga. Tapi akan kuatur bila ada yang penting. Kita akan ke mall emang?” “Bukan, bodoh. Lebih penting dari nyawa kita sendiri. Yaitu persahabatan.” “Hah?” “Hah?” . . . Senja yang tenang berubah mencekam saat malam datang. Rencana matang yang dirumuskan dua Uchiha kalangan elit itu tengah berjalan; Memancing sang pembunuh untuk keluar dengan Uchiha Kagami sebagai umpan, dan Uchiha Masaaki sebagai eksekutor dengan sebuah pistol yang ia ‘pinjam’ dari ayahnya. Sejauh ini belum menemukan hambatan berarti. Semua ruangan kelas belum juga dikunci oleh pak tua itu. Melirik arloji yang menghiasi pergelangan tangan kiri Masaaki, pukul 19.00. “Kenapa Kurero-san belum juga mengunci ruangan kelas ini?” Kagami bertanya, ia lekas duduk di kursi tepat di depan meja guru. “Sebaiknya jangan tanyakan itu,” menyarungkan sarung tangan hitam yang terbuat dari kain wol itu. Kemudian mencabut pistol yang ia selipkan pada pinggangnya. Seluruh ruangan dan juga lorong sekolah dibiarkan gelap gulita. Satu-satunya penerangan yang mereka miliki adalah cahaya lembut bulan purnama. Oh, kedua Uchiha ini juga membawa senter masing-masing. “Aku pergi. Tenang, saat kau melihat seseorang memasuki ruangan kelas ini, segera berteriak. Aku akan bersembunyi di kelas sebelah.” Bakat alami Uchiha Kagami ia tunjukkan disini. Ia tersenyum dan berkata, “hajar si brengsek itu demi Tsukino-chan!” saat melihat punggung sang adam mulai menjauh dan lenyap berbelok. Meskipun hatinya sangat gentar. Mati ketakutan. Tangan yang memegang senter bergetar tak karuan. Mungkin saat ini rok sekolah yang dikenakannya sudah basah. Tekad membalas dendam yang ia tunjukkan beberapa hari yang lalu seakan menghilang ditelan ketakutan. Jahatnya Masaaki. “Haruka-kun...” Bibirnya bergetar saat mengucapkannya, mungkin dengan mengingat nama itu perasaannya dapat sedikit membaik. Siapa yang tahu kalimat tersebut adalah yang terakhir? Uchiha Kagami memeluk senter itu dan tubuhnya. Berdoa pada dewa kematian agar tak segera mencabut nyawanya. “AAAAAAAAAA−” “Are?” mata yang tadi terpejam erat kini terbuka saat mendengar teriakan dari seseorang. Tidak, dua orang. Teriakan itu memiliki dua warna suara dan menyatu sehingga terdengar seperti satu orang saja yang berteriak. “Masih ada siswi yang berkeliaran?” bertanya pada dirinya. Kemana ketakutan yang menyelimuti Kagami tadi? Hilang. Seakan rasa takut tadi tidak pernah menghampirinya. Yang selanjutnya terdengar adalah sebuah letusan senjata api. Uchiha Kagami dapat menerka apa yang terjadi: Dua orang siswi bertemu dengan sang pembunuh dan berteriak. Uchiha Masaaki juga mendengar teriakan dua orang siswi tersebut lalu menuju TKP dan melepaskan sebuah tembakan pada si pembunuh. Dan mission successed. Kagami menghela napas panjang sambil menutup matanya untuk menunjukkan kelegaannya. Berdiri. Ia menggunakan senternya untuk menjadi penerangan jalannya. Tapi... JLEB. ... |
“LOVE BREEDS HATRED.”![]() Uchiha Madara. | |
| OFF Profile | Quote ▲ |
| 1 user reading this topic (1 Guest and 0 Anonymous) | |
| « Previous Topic · Fanfiction · Next Topic » |




